PONTIANAK, SP - Ada keputusan-keputusan kecil dalam hidup yang diam-diam mengubah arah perjalanan seseorang.
Bagi Zulfydar Zaidar Mochtar, langkah pertama mendonorkan darah saat masih mahasiswa menjadi awal dari pengabdian panjang yang kini telah menyentuh ratusan nyawa.
Zulfydar menjadi satu di antara puluhan pahlawan kemanusiaan yang telah lebih dari 100 kali mendonorkan darahnya. Ia menerima penghargaan dari Palang Merah Indonesia Kota Pontianak berupa pin emas, sebagai simbol penghormatan atas dedikasi panjang yang tak tergantikan.
Penghargaan itu diserahkan dalam rangkaian kegiatan penyerahan penghargaan dan halal bihalal di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, kemarin.
Namun, perjalanan Zulfydar tidak dimulai dari kemapanan. Ia justru berangkat dari keterbatasan.
Di Jakarta, pada era 1990-an, ia menjalani kehidupan mahasiswa yang sederhana bahkan bisa dibilang serba kekurangan.
Kiriman orang tua sekitar Rp400 ribu per bulan harus cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di ibu kota. Pagi hari ia kuliah, malam hari bekerja.
Hari-harinya dipenuhi perjuangan. Di tengah kondisi itu, ia dihadapkan pada sebuah peristiwa yang membekas kuat. Seorang seniornya membutuhkan bantuan donor darah untuk istrinya yang sedang sakit. Situasi itu sederhana, tetapi menggugah sesuatu dalam dirinya.
“Kalau saya boleh cerita, saya mulai donor karena ada orang yang membutuhkan donor,” kenangnya.
Keputusan pertama itu bukan tanpa rasa takut. Ada kegelisahan, bahkan rasa ngeri sesuatu yang wajar bagi mereka yang belum pernah mendonorkan darah.
Namun di balik itu, muncul kesadaran yang lebih dalam. Ia bertanya pada dirinya sendiri yakni jika tidak dengan uang, lalu dengan apa ia bisa membantu orang lain. Jawabannya ada dalam dirinya sendiri darah yang mengalir di tubuhnya.
Sejak saat itu, donor darah bukan lagi sekadar tindakan sesaat. Ia berubah menjadi kebiasaan, kemudian komitmen, hingga akhirnya menjadi bagian dari hidupnya.
Bagi Zulfydar, darah bukan sekadar cairan biologis. Ia memaknainya sebagai pemberian dari orang tua hasil dari kasih sayang yang telah ia terima sejak lahir. Ketika darah itu didonorkan, ia percaya bahwa kebaikan tersebut akan terus mengalir.
“Kalau kita bicara amal jariyah, ini mengalir terus, tidak putus-putusnya,” ujarnya.
Puluhan tahun berlalu. Dari seorang mahasiswa dengan kehidupan terbatas, Zulfydar kini telah lebih dari 100 kali mendonorkan darahnya.
Angka itu bukan sekadar hitungan. Di baliknya, ada ratusan orang yang mungkin tak pernah ia kenal pasien operasi, korban kecelakaan, hingga mereka yang bertaruh dengan waktu untuk tetap hidup.
Namun bagi Zulfydar, perjalanan ini tidak pernah tentang angka atau penghargaan. Ia tidak memulai karena ingin dihargai.
Ia melakukannya karena merasa mampu memberi, bahkan ketika dirinya tidak memiliki banyak hal. Dan hingga hari ini, alasan itu tidak pernah berubah.
Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, ia tetap menjaga rutinitas donor darah.
Bukan semata untuk kesehatan, tetapi karena ia tahu, di luar sana selalu ada yang menunggu. Menunggu kesempatan hidup yang mungkin datang dari setetes darah.
Kisah Zulfydar menjadi pengingat sederhana yakni membantu sesama tidak selalu membutuhkan kelebihan.
Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai dan ketulusan untuk terus melanjutkan. Sebab ada kebaikan yang, sekali dilakukan, akan terus mengalir.
Cerita Zulfydar sejalan dengan apa yang disampaikan Edi Rusdi Kamtono, yang juga Ketua PMI Kota Pontianak. Ia menyebut para pendonor sebagai pahlawan kemanusiaan karena kontribusinya nyata dalam menyelamatkan nyawa.
“Secara akumulatif, seorang pendonor 100 kali telah menyumbang sekitar 30 liter darah. Diperkirakan telah menolong dan menyelamatkan 100 hingga 200 jiwa,” katanya.
Di sisi lain, kebutuhan darah di Kota Pontianak masih tergolong tinggi. Dalam sehari, kebutuhan mencapai 100 hingga 150 kantong, sementara ketersediaan rutin berkisar 70 sampai 100 kantong.
Sepanjang 2025, jumlah pendonor mencapai 21.644 orang. Sebanyak 86,3 persen merupakan pendonor sukarela, dan 13,6 persen pendonor pengganti.
“Kekurangan stok darah selama ini diatasi dengan menghubungi para pendonor yang datanya sudah dimiliki PMI,” jelasnya.
Meski demikian, PMI Kota Pontianak masih menghadapi keterbatasan, baik dari sisi teknis maupun administrasi. Upaya pembenahan terus dilakukan, termasuk rencana pembangunan laboratorium terpisah sesuai standar akreditasi.
“Nah ini sedang kita usahakan ke depan untuk kita bangun laboratorium tersendiri,” tambahnya.
Edi juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pendonor.
“Saya tidak bisa lagi berkata-kata membalas Bapak-Ibu atas jasa kemanusiaan ini. Mudah-mudahan diberikan kesehatan dan pahala yang setimpal,” ungkapnya.
Menurutnya, pin emas yang diberikan bukan sekadar simbol penghargaan, melainkan representasi terima kasih dari mereka yang pernah terselamatkan.
“Pin emas ini membuktikan bahwa saya mewakili warga yang telah mendapatkan darah dari Bapak-Ibu selama ini. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir sepanjang masa,” pungkasnya. (din)