Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari seorang kreator konten di platform TikTok, @MAS-MAS AYAM yang mengklaim telah menemukan dugaan praktik permainan harga dalam distribusi ayam di Pontianak.
Selama empat bulan melakukan riset lapangan, tiktokers tersebut mengungkap adanya “anomali” harga ayam yang dinilai tidak wajar. Ia menduga, harga ayam di Pontianak sengaja dibuat mahal oleh kelompok tertentu yang bermain di sektor hulu hingga hilir.
“Selama empat bulan saya riset di lapangan, saya menemukan anomali. Harga ayam di Pontianak sengaja dibuat mahal. Ada kelompok yang sedang bermain,” ungkapnya.
Ia memaparkan, salah satu skema yang diduga terjadi adalah “penyanderaan” harga bibit ayam atau Day Old Chick (DOC). Dalam skema ini, harga bibit ditekan tinggi sejak awal sehingga peternak mandiri kesulitan berkembang.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat peternak lokal berada dalam posisi lemah bahkan sebelum memulai usaha.
“Peternak mandiri sulit bangkit karena harga bibit sudah disandera dari hulu. Modal awal dibuat tinggi agar peternak lokal mati kutu sebelum bertarung,” jelasnya.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti strategi lain yang dinilai merugikan pasar lokal, yakni masuknya ayam beku dari luar daerah, khususnya dari Pulau Jawa. Kondisi ini, kata dia, terjadi karena harga ayam lokal dibuat tidak kompetitif.
Akibatnya, pasar besar seperti sektor Bisnis ke Bisnis (B2B), industri tambang hingga program makan bergizi, beralih ke pasokan ayam frozen dari luar daerah.
“Ketika ayam lokal dibuat mahal, pasar besar terpaksa lari ke ayam beku dari Jawa. Di sinilah celah broker atau mafia masuk dan meraup keuntungan besar,” ujarnya.
Dampak yang paling terasa, lanjutnya, adalah perputaran ekonomi yang tidak lagi berada di Pontianak. Uang yang seharusnya beredar di daerah justru mengalir ke luar, sementara potensi lokal tidak berkembang.
“Kita punya tanah, kita punya tenaga, tapi kenapa kita hanya jadi penonton di rumah sendiri? Uang Pontianak malah lari ke Jawa,” tegasnya.
Ia mengaku memiliki pengalaman selama dua tahun di industri tersebut sejak berada di Malang, dan melihat pola yang sama, yakni adanya dugaan monopoli oleh kelompok tertentu yang menghambat pertumbuhan pelaku usaha lokal.
Sebagai solusi, ia mendorong kemandirian pangan daerah, khususnya melalui pembangunan Rumah Potong Ayam (RPA) mandiri di Pontianak.
Menurutnya, keberadaan RPA akan menjadi langkah strategis untuk memutus ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah sekaligus menstabilkan harga di tingkat lokal.
“Solusinya bukan hanya protes, tapi aksi. Pontianak harus punya RPA sendiri. Kita produksi sendiri, potong sendiri, dan tentukan harga sendiri tanpa bergantung dari luar,” katanya.
Ia meyakini, jika sistem tersebut terwujud, maka dampak positifnya akan sangat besar, mulai dari terbukanya lapangan kerja, stabilitas harga, hingga perputaran ekonomi yang tetap berada di daerah.
“Kalau kita punya RPA sendiri, lapangan kerja terbuka, harga stabil, uang tetap berputar di Pontianak. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal harga diri,” pungkasnya. (din/bob)