PONTIANAK, SP – Di tengah duka yang menyelimuti keluarga almarhum Oktavianus Okta, warga Dusun Simpang Pandan, Desa Tiang Tanjung, Kecamatan Mempawa Hulu, Kabupaten Landak, masih ada tangan-tangan yang terulur untuk memastikan perjalanan terakhirnya menuju kampung halaman berlangsung dengan layak.
Bukan sekadar mengantarkan jenazah dari bandara menuju rumah duka, tetapi juga menghadirkan penghormatan terakhir bagi seseorang yang telah berpulang, agar dapat kembali ke tengah keluarga dan dimakamkan di tanah kelahirannya dengan penuh martabat.
Kepedulian itulah yang menggerakkan Bruder Stephanus Paiman OFMCap, Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), ketika mengetahui jenazah Oktav dipulangkan menggunakan peti berbahan serbuk kayu yang dipadatkan. Bagi Bruder Steph, sapaan akrabnya, kondisi tersebut menyisakan keprihatinan mendalam. Ia merasa perlu melakukan sesuatu agar jenazah yang telah tiba di Pontianak dapat diantarkan ke kampung halaman menggunakan peti yang lebih layak.
“Aku hanya sedih jak, saat tahu bahwa jenazah dikirim pakai peti dari serbuk kayu yang dipadatkan. Kalau kena air akan hancur. Makanya, saat di Pontianak segera aku ganti dengan pakai peti kayu,” ungkap Bruder Steph.
Dengan nada sederhana, ia juga menegaskan bahwa bantuan tersebut dilakukan atas dasar kepedulian kemanusiaan, bukan menggunakan uang negara.
“Ndak pakai uang negara, lho,” ujarnya sembari menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama.
Bagi Bruder Steph, penghormatan terhadap orang yang telah meninggal tidak berhenti pada doa dan upacara pemakaman.
Ada tanggung jawab kemanusiaan untuk memastikan jenazah diperlakukan dengan baik, terlebih ketika keluarga sedang menghadapi kehilangan dan membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.
Melalui FRKP, bantuan pun diberikan untuk menjemput jenazah di Bandara Supadio, mengganti peti jenazah dengan peti kayu yang lebih layak, hingga mengantarkannya ke kampung halaman di Kampung Tiang Tanjung, Kecamatan Karangan, Kabupaten Landak.
Di balik rangkaian bantuan tersebut, ada kepedulian yang bekerja dalam diam. Tidak selalu melalui tindakan besar atau pernyataan panjang, tetapi melalui langkah-langkah nyata yang meringankan beban keluarga yang sedang berduka.
Bupati Landak Fasilitasi
Keluarga almarhum Oktav juga menyampaikan terima kasih kepada Bupati Landak Karolin Margret Natasa yang telah membantu memfasilitasi almarhum sejak masih sakit hingga proses pemulangan jenazah ke Pontianak.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian pertolongan yang diterima keluarga, mulai dari masa almarhum membutuhkan penanganan hingga akhirnya berpulang dan dapat dibawa kembali ke kampung halaman.
Keluarga juga mengapresiasi FRKP yang menyediakan layanan ambulans gratis untuk menjemput jenazah di Bandara Supadio.
Tidak berhenti di situ, FRKP membantu mengganti peti jenazah yang semula berbahan serbuk kayu padat dengan peti kayu yang dinilai lebih layak, kemudian mengantarkan jenazah menuju Kampung Tiang Tanjung, Karangan.
Bagi keluarga yang tengah berduka, bantuan tersebut bukan sekadar urusan transportasi dan perlengkapan pemakaman. Ada beban yang diringankan, ada kebutuhan yang terpenuhi, dan ada kepastian bahwa anggota keluarga mereka dapat kembali ke kampung halaman untuk dimakamkan secara layak.
Bruder Steph mengatakan, keprihatinannya muncul dari situasi yang dihadapinya ketika mengetahui kondisi peti jenazah. Ia pun mengambil langkah untuk menggantinya tanpa membebankan biaya tersebut kepada negara.
Sikap itu mencerminkan semangat pelayanan kemanusiaan yang selama ini dijalankan FRKP, yakni hadir membantu mereka yang membutuhkan, terutama ketika keluarga menghadapi situasi sulit dan tidak selalu memiliki kemampuan untuk menangani seluruh kebutuhan secara mandiri.
YSC Turut Hadir
Selain Bupati Landak dan FRKP, keluarga almarhum juga menyampaikan terima kasih kepada YSC yang turut membantu proses penanganan jenazah.
Bantuan tersebut meliputi merapikan dan memindahkan jenazah, menyediakan rosario dan lilin, serta mendoakan almarhum. Kehadiran mereka melengkapi rangkaian pelayanan yang diberikan berbagai pihak hingga jenazah dapat dibawa ke kampung halaman dan dimakamkan.
Dalam suasana kehilangan, perhatian kecil sekalipun dapat memiliki arti besar bagi keluarga. Kehadiran orang-orang yang bersedia membantu, bekerja bersama, dan mendampingi proses pemulangan menjadi penguat di tengah kesedihan yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata.
Keluarga Oktav pun menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi sejak almarhum sakit hingga meninggal dunia dan dimakamkan di kampung halaman.
“Semoga Jubata membalas kebaikan saudara-saudari dengan berkat-Nya. Amin,” demikian ungkapan terima kasih keluarga almarhum.
Ucapan tersebut menjadi ungkapan syukur atas kepedulian yang mereka terima. Di tengah duka, keluarga tidak hanya mengenang kepergian orang yang dicintai, tetapi juga kebaikan banyak orang yang hadir membantu ketika mereka membutuhkan pertolongan.
Kemanusiaan Tidak Berhenti pada Kata
Kisah pemulangan jenazah Oktav memperlihatkan bahwa kepedulian kemanusiaan sering kali hadir melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan ketulusan. Sebuah ambulans yang menjemput di bandara, peti kayu yang disiapkan agar jenazah dapat dibawa dengan lebih layak, hingga tangan-tangan yang membantu mengurus dan mendoakan almarhum, semuanya menjadi bagian dari penghormatan terhadap kehidupan manusia.
Bagi Bruder Stephanus Paiman OFMCap, rasa prihatin tidak cukup hanya disimpan sebagai perasaan. Ketika ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu, kepedulian itu perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Tidak ada panggung besar dalam pelayanan tersebut. Tidak pula ada kemegahan yang harus ditampilkan. Yang ada hanyalah upaya memastikan seorang warga yang telah meninggal dunia dapat kembali ke kampung halaman dan beristirahat dengan layak, sementara keluarga yang ditinggalkan memperoleh dukungan di tengah masa sulit.
Apresiasi kepada Bupati Landak Karolin Margret Natasa, FRKP, YSC, dan seluruh pihak yang terlibat menjadi pengingat bahwa kerja kemanusiaan membutuhkan kebersamaan. Pemerintah, komunitas relawan, dan masyarakat dapat saling menguatkan ketika berhadapan dengan kebutuhan sesama.
Pada akhirnya, perjalanan terakhir Oktav bukan hanya tentang pemulangan jenazah dari Pontianak menuju Kampung Tiang Tanjung. Di dalamnya terdapat kisah tentang empati, solidaritas, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Sebab, ketika seseorang telah berpulang, ia tidak lagi dapat meminta apa-apa. Namun, mereka yang masih hidup tetap memiliki kesempatan untuk memberikan penghormatan terbaik, membantu keluarga yang berduka, dan memastikan bahwa kemanusiaan tetap hadir hingga perjalanan terakhir seseorang berakhir di tanah kelahirannya. (*)