Ponticity post author elgiants 22 Juni 2026

Menanam Harapan dari Khatulistiwa

Photo of Menanam Harapan dari Khatulistiwa LAYANI PELANGGAN – Mas Priyono (menunduk dan mengangkat bibit tanaman) melayani pembeli bibit dari Kabupaten Sanggau di Warna Agro Wisata, di Jalan Ampera, Kota Baru Pontianak.suara pemred/aep mulyanto

PONTIANAK, SP - Pagi baru saja menyingsing di Jalan Ampera, Kota Baru, Pontianak. Di bawah naungan paranet yang membentang di atas ribuan bibit tanaman, seorang pria berkaus sederhana tampak sibuk mengecek berbagai tanaman.


Sesekali ia membungkuk memeriksa batang okulasi yang baru tumbuh. Tak lama kemudian, seorang ibu menghampirinya menanyakan cara agar jambu kristal cepat berbuah.


"Mas Pri, kenapa jambu saya belum juga berbuah?" Pertanyaan itu meluncur bahkan sebelum sepeda motor yang dikendarai Wiwin Nurwiyah benar-benar berhenti. Mas Priyono yang sedang menyusun bibit tanaman langsung menghampiri.


"Coba lihat fotonya, Bu." Wiwin buru-buru membuka galeri telepon genggamnya. Beberapa foto pohon jambu kristal yang tumbuh di halaman rumahnya diperlihatkan satu per satu.


Mas Pri memperbesar gambar, memperhatikan daun, percabangan, hingga batang tanaman itu.
"Hmm... pohonnya terlalu subur daunnya. Kebanyakan pupuk nitrogen. Energinya habis buat tumbuh, belum buat berbuah," katanya.


Wiwin tertawa. "Saya kira makin banyak pupuk makin cepat panen." "Nah, itu yang sering terjadi," jawab Mas Pri sambil tersenyum.


Percakapan semacam itu hampir setiap hari terjadi di tempat pembibitan miliknya. Orang datang membawa foto tanaman yang menguning, buah yang rontok, atau pohon yang tak kunjung berbuah. Sebagian membeli bibit. Sebagian lagi hanya ingin berkonsultasi.


Bagi masyarakat Pontianak dan Kubu Raya, Priyono yang lebih dikenal sebagai Mas Pri Bibit Buah Pontianak memang bukan sekadar penjual bibit tanaman.


Ia adalah tempat bertanya. Tempat belajar. Sekaligus salah satu sosok yang selama lebih dari satu dekade ikut menghijaukan Pontianak dan sekitarnya.


Perjalanan itu dimulai pada 2013. Setelah menimba ilmu di Instriper Yogyakarta, ayah tiga anak tersebut memutuskan mengembangkan usaha pembibitan tanaman buah di Kalimantan Barat (Kalbar). Saat itu usaha yang dirintisnya masih sangat sederhana. Tidak ada lahan luas. Tidak ada modal besar.


Yang ada hanya keyakinan bahwa masyarakat membutuhkan bibit tanaman buah yang berkualitas dan cocok dengan kondisi iklim Kalbar.


"Saya melihat banyak orang ingin menanam buah di rumah, tetapi sering kesulitan mendapatkan bibit yang benar-benar cocok. Dari situ saya mulai belajar dan mengembangkan sendiri," kenangnya.


Sedikit demi sedikit usahanya tumbuh. Ia memperbanyak tanaman melalui teknik okulasi dan sambung pucuk. Berbagai varietas unggulan mulai tersedia, mulai dari mangga, durian, jambu kristal, alpukat mentega, kelengkeng, matoa, hingga aneka tanaman buah lainnya.


Mas Pri juga berusaha menjaga harga tetap terjangkau. Bibit ukuran kecil dijual mulai Rp25 ribu. Sedangkan bibit yang lebih besar berkisar Rp150 ribu.
"Saya ingin sebanyak mungkin orang bisa menanam. Jangan sampai niat berkebun terhalang harga bibit," ujarnya.


Komitmen itu membuat pelanggan terus berdatangan dari berbagai daerah.
Namun yang membuat namanya cepat dikenal bukan semata kualitas bibit.
Melainkan kebiasaannya berbagi ilmu.


"Banyak pelanggan datang beli satu bibit, pulangnya bawa ilmu satu karung," candanya.
Mulai dari cara memilih media tanam, teknik penyiraman, pemangkasan, hingga pemupukan dijelaskan dengan sabar.


"Bagi saya, bibit yang bagus harus dibarengi cara merawat yang benar. Kalau tanamannya berhasil, itu kebahagiaan saya juga."


Seorang pelanggan yang merasakan langsung manfaat pendampingan tersebut adalah Arif Sulistio.
Kini pekarangan rumahnya berubah menjadi kebun mini yang produktif.


Berbagai tanaman buah tumbuh subur di sana. Mulai dari jambu kristal, alpukat, mangga hingga kelengkeng. Padahal beberapa tahun lalu halaman itu nyaris kosong.


"Saya awalnya tidak mengerti soal tanaman," kata Arif. "Mas Pri mengajari dari nol. Bahkan setelah membeli bibit, saya masih sering bertanya. Beliau tidak pernah bosan menjelaskan."


Menurut Arif, keberhasilan banyak warga menanam buah di rumah tidak lepas dari kesabaran Mas Pri mendampingi mereka. "Beliau bukan cuma jualan tanaman. Beliau mengajari orang sampai berhasil."
Kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh membuat aktivitas Mas Pri tidak lagi terbatas pada pekarangan rumah warga.


Ia mulai dipercaya mendampingi berbagai kegiatan penanaman skala besar.
Salah satunya di kawasan Desa Tayan, termasuk area penanaman di lingkungan PT Antam, BUMN yang mengeksplore tambang bauksit di Kalbar.


Ia juga terlibat dalam pengembangan kebun desa di Rasau Jaya dengan komoditas unggulan jambu kristal dan alpukat mentega. Menurut Mas Pri, tantangan terbesar bukan menanam pohon. Melainkan memastikan tanaman itu tetap hidup dan produktif.


"Bibit itu baru langkah pertama. Yang lebih penting bagaimana merawatnya sampai menghasilkan." Karena itulah pendampingan selalu menjadi bagian dari pekerjaannya.
"Saya tidak ingin program penanaman berhenti pada seremoni tanam saja."
Kecintaannya pada dunia pertanian juga mendorong berbagai kegiatan sosial.


Jauh sebelum istilah urban farming menjadi tren, Mas Pri sudah mengajak warga memanfaatkan lahan sempit untuk menanam sayuran.


Gang-gang perumahan yang sebelumnya kosong mulai dipenuhi pot berisi aneka sayuran. Panennya dinikmati bersama warga sekitar.


"Kadang orang berpikir harus punya lahan luas untuk berkebun. Padahal satu ember saja bisa menghasilkan," katanya.


Program itu tidak hanya menghasilkan sayuran. Tetapi juga mempererat hubungan antarwarga. "Warga jadi sering berkumpul, saling membantu, lalu menikmati hasilnya bersama."


Amru Siahaan, warga Komplek Ampera Permai, mengaku menjadi salah satu saksi kegiatan tersebut. "Yang saya kagumi dari Mas Pri bukan hanya usahanya. Beliau aktif menggerakkan masyarakat. Banyak warga yang akhirnya senang menanam karena termotivasi oleh beliau," katanya.


Menurut Amru, keberadaan Mas Pri membuat lingkungan sekitar menjadi lebih hijau dan produktif. "Beliau tidak sekadar menjual bibit. Beliau mengajak orang mencintai tanaman."
Perjalanan usaha Mas Pri memasuki babak baru pada 2018.


Saat itulah ia mulai mendapatkan pendampingan dan dukungan permodalan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.


Tambahan modal tersebut digunakan untuk memperluas area pembibitan, menambah stok tanaman, serta meningkatkan kapasitas produksi.


"Kalau usaha ingin berkembang tentu perlu dukungan modal. Alhamdulillah kami mendapat pendampingan sehingga bisa berkembang lebih baik," katanya.


Mantri BRI Unit Kota Baru, Ahmad Munandar, menilai Priyono merupakan contoh pelaku UMKM yang mampu memanfaatkan pembiayaan secara produktif.


"Pak Priyono menggunakan pembiayaan untuk memperbesar usaha, meningkatkan produksi, dan memperluas manfaat ekonomi. Ini contoh UMKM yang berkembang secara sehat," ujarnya.


Dukungan itu terbukti sangat membantu. Saat pandemi Covid-19 melanda, ketika banyak sektor usaha mengalami perlambatan, permintaan bibit tanaman di tempat Mas Pri justru meningkat tajam. Penjualan bahkan melonjak hingga hampir 100 persen.


Masyarakat yang lebih banyak beraktivitas di rumah mulai tertarik menanam buah dan sayuran sendiri. "Banyak yang awalnya hanya coba-coba. Sekarang sudah punya kebun mini di rumah," katanya.


Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Pontianak, Irwan Prayitno, S.P., M.M., menilai keberadaan pelaku usaha seperti Priyono memiliki peran penting dalam pengembangan pertanian perkotaan.


"Kami mengapresiasi konsistensi Pak Priyono dalam menyediakan bibit unggul sekaligus mengedukasi masyarakat. Kontribusi seperti ini sangat membantu ketahanan pangan berbasis keluarga," ujarnya.


Menurut Irwan, semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam, semakin kuat pula kemandirian pangan di tingkat keluarga.


Kini, setelah lebih dari 13 tahun berkecimpung di dunia pembibitan, aktivitas Mas Pri tidak pernah surut. Selain mengelola usaha, ia juga aktif menggelar berbagai kegiatan bersama komunitas dan instansi terkait.


Yang terdekat adalah Pameran Flora dan Fauna Bumi Khatulistiwa yang akan berlangsung pada 15-19 Juli 2026. "Saya ingin masyarakat semakin dekat dengan dunia pertanian, peternakan, dan lingkungan. Kalau generasi muda mulai tertarik menanam, saya optimistis masa depan pertanian kita akan semakin baik," katanya. (aep mulyanto)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda