Oleh Syafaruddin Daeng Usman / Akademisi Untan dan Sejarawan Kalbar
PADA akhir 1941, setelah berperang selama tiga minggu berturut-turut, Markas Besar Angkatan Perang Jepang memandang tiba saatnya untuk memasuki tahap kedua grandstrategy, strategi perang besar.
Hal tersebut dilakukan dengan melancarkan gerakan ofensifnya dalam merebut sasaran utama Hindia Belanda, khususnya daerah-daerah kaya minyak seperti Kalimantan, Sumatera dan Jawa.
Pada saat itu, Angkatan Perang Jepang (IJF, Imperial Japanese Forces) telah berhasil merebut dan menguasai sejumlah sasaran primernya terutama daerah Nanyo di wilayah Samudera Selatan, dan telah mencapai prasyarat esensial guna mendukung gerakan ofensifnya merebut Hindia Belanda.
Pulau-pulau di wilayah pusat Pasifik seperti Kepulauan Wake dan Guam telah dapat dikuasainya. Jepang tidak lagi perlu khawatir akan adanya serangan Armada Pasifik Amerika Serikat karena telah dilumpuhkan oleh serangan mendadak Angkatan Laut Jepang pada 7 Desember 1942 di Hawaii.
Setelah itu Muangthai telah menyerah kepada Jepang pada 9 Desember 1942 serta Malaya bagian utara dan Malaya bagian tengah telah berhasil direbutnya dengan mudah.
Pasukan Jepang dari Tentara XXV di bawah pimpinan Jenderal Yamashita menekan Inggris untuk terus mundur menuju wilayah Singapura. Selanjutnya dalam waktu yang tidak lama diperkirakan Singapura akan segera jatuh ke tangan Jepang.
Rencana operasi yang disusun Jepang dalam serangan untuk melancarkan invasinya ke Hindia Belanda, mengombinasikan cara terbaik (skillful) penggunaan kekuatan darat, laut, dan udaranya dalam satu rencana strategis yang cemerlang, tetapi dalam implementasi taktisnya dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian.
Andalan utama Jepang dalam melancarkan serangannya ialah Angkatan Udaranya. Untuk mendapatkan dukungan penuh atas rencana operasinya yang telah disusun itu, Jepang menempatkan Flotilya Udara XXIII (Penerbangan Angkatan Laut) di Jolo, sedangkan Flotilya Udara XXI ditempatkan di Davao.
Dalam operasi pendaratan laut (seaborneoperations), pasukan Jepang banyak melancarkan operasi penyerangan dan perebutan pulau-pulau besar di Hindia Belanda.
Pasukan penyerang senantiasa bergerak di belakang satuan-satuan udara yang ditugaskan untuk merebut keunggulan udara di daerah operasi terlebih dahulu dan kemudian melindunginya (air cover) dari udara.
Dalam upaya merebut Hindia Belanda, Jepang telah membuat suatu strategi penyerangan bercabang tiga. Di sebelah timur, mereka berencana bergerak memasuki Kepulauan Maluku dan Timor begitu dapat memutuskan jalur komunikasi dan bala bantuan dari Australia.
Di tengah, Kalimantan dan Sulawesi akan direbut, sementara di ujung barat Kepulauan Hindia, Sumatera akan diserang jika kejatuhan Singapura telah dipastikan.
Akhirnya, bila seluruh sasaran ini telah diraih, maka seluruh pasukan akan dikerahkan untuk merebut Pulau Jawa, pusat pemerintahan Belanda, sekaligus markas komando militer Sekutu di Asia Tenggara.
Pada 16 Desember 1941, sebuah Flotilya telah berada di lepas Pantai Miri, kota pertambangan minyak di Sarawak. Balatentara kekaisaran Jepang mendarat di Kalimantan nyaris tanpa perlawanan.
Setelah menyerang Davao, Filipina (12 Desember 1941) dua minggu kemudian pada 26 Desember 1941 Davao jatuh, dan panglima tentara Amerika di Filipina, Jenderal McArthur, berhasil meloloskan diri melalui Corrigedor ke Australia.
Dari Filipina, serangan pertama yang dilancarkan pasukan depan balatentara Jepang terhadap Hindia Belanda ialah wilayah Kalimantan. Dengan demikian, hubungan antara Kalimantan dan pulau-pulau lainnya terputus total.
Mayor Jenderal Kiyotake Kawaguchi dengan Brigade Kawaguchinya, setingkat brigade atau resimen tim pertempuran, yang merupakan ujung tombak pasukan Jepang di poros barat memiliki tugas untuk merebut Borneo Utara dan Barat.
Pasukan Kawaguchi terdiri dari satuan-satuan Markas Komando Brigade XXXV, Resimen Infanteri CXXIV, Peleton Zeni dari Resimen Zeni XII, Satu Unit Perhubungan dari Divisi PHB 18, Satu Unit Kesehatan dari Divisi Kesehatan XVIII, Rumah Sakit Lapangan IV dari Divisi XVIII dan Satu Unit Penjernihan Air dari Unit XI.
Brigade Kawaguchi juga diperkuat dengan satuan antiudara dan empat kompi zeni lapangan khusus pengeboran minyak dan satuan pengamanan lapangan.
Satuan Kawaguchi setelah merebut Borneo Utara protektorat Inggris kemudian mengejar pasukan yang masuk ke wilayah Hindia Belanda dan merebut bagian barat Pulau Borneo.
Brigade Kawaguchi berangkat dari Cam Ranh dikawal oleh satuan Angkatan Laut Kerajaan Jepang di bawah pimpinan Laksamana Madya Takeo Kurita dengan kapal penjelajah Kumano dan Suzuya.
Pengawalan jarak jauh dilakukan oleh Laksamana Madya Nobutake Kondo dengan penjelajah berat Atago dan Takao serta kapal perang (battleship) Haruno dan Konggo, serta destroyer lainnya. Bersama Brigade Kawaguchi juga berangkat Pasukan Pendarat Khusus Angkatan Laut II (2nd Yokosuka Naval Landing Force).
Setelah menaklukkan Miri dan Serian, dua batalyon kemudian merebut Kuching 22 Desember 1941 tanpa perlawanan.
Sebagian dari pasukan Inggris yang mempertahankan Kuching setelah menderita kerugian, melarikan diri ke wilayah Hindia Belanda dan mencapai lapangan terbang Singkawang II Sanggau Ledo pada 29 Desember.
Pasukan itu bergabung dengan 750 tentara KNIL Belanda untuk mempertahankan lapangan terbang, Belanda menempatkan satuan Angkatan Laut dengan tiga Dornier DO 24K yang tergabung dalam Naval Air Group GVT-1.
Komandan KNIL Garnisun Pontianak, Letnan Kolonel DPF Mars, memiliki kekuatan sekitar 500 pasukan. Overste Mars merupakan Komandan Pasukan Teritorial Belanda di Borneo Barat (Territoriaal Commando Westerafdeling van Borneo).
Seluruh kekuatan pasukan Belanda di Borneo Barat meliputi KNIL Garnisun Borneo Barat, Kompi Infanteri Stadwacht di Pontianak dengan kekuatan sekitar 125 orang, Baterai Artileri Udara (2x meriam 40 mm) dan beberapa senjata antiudara lainnya, Peleton Mobil bantuan pertolongan pertama pada kecelakaan, Brigade Stadwacht di Singkawang dengan kekuatan 50 orang, dan Brigade Stadwacht di Sintang.
Jepang menggerakkan kekuatan angkatan bersenjatanya yang besar untuk menguasai seluruh Hindia Belanda. Selanjutnya, Pulau Kalimantan dan Sumatera harus diduduki sebagai syarat untuk mengepung Pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda.
Kalimantan memiliki arti penting karena letaknya di tengah lalu lintas Asia Tenggara di Laut Cina Selatan menuju Sumatera, Jawa ataupun Indonesia Timur, serta mempunyai kekayaan alam yang besar.
Kalimantan Barat merupakan tujuan pertama dalam jaringan pendudukan Jepang terhadap wilayah Indonesia. Dengan kemampuan kekuatan angkatan perang yang dibangun oleh balatentara Jepang, memberi jalan semakin lebar bagi Jepang untuk merengsek Asia tenggara. Satu persatu, seperti menunggu nasib, daerah yang mengelilingi Hindia Belanda rontok.
Keberanian penerbang A6M2 Zero, G3M2 Nell dan jenis lainnya, di mana ribuan jumlahnya dari Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang, sekonyong-konyong mengagetkan pertahanan ABDA (American, British, Dutch, Australian). Kekuatan tentara Belanda di Kalimantan Barat lebih kurang satu batalyon di bawah pimpinan Overste Mars dibagi empat kompi.
Pada 19 Desember 1941 Jumat pukul 11 tengah hari, sembilan pesawat udara Jepang telah mengebom Kota Pontianak dengan sasaran Kampung Bali, Parit Besar dan Kampung Melayu. Sasaran utamanya ialah tangsi militer Belanda (Fort Du Bus).
Rakyat dibuat panik dan banyak yang mengungsi ke luar kota akibat serangan ini. Pesawat pemburu Belanda yang bertolak dari Sanggau Ledo mengadakan serangan pembalasan dan terjadi pertempuran udara yang sengit di wilayah Mempawah.
Selanjutnya berturut-turut pada 19, 22 dan 27 Desember 1941, Kota Pontianak terus menerus dihujani bom sehingga menghanguskan Kampung Bali dan Parit Besar serta wilayah kota lainnya.
Kapal Lien dan Irma miliki Pontianak River Transport Dient yang merupakan angkutan andalan sungai pada masa itu dibom tenggelam di Sukalanting sekitar 30 kilometer dari Kota Pontianak. Kapal Sri Kapuas dan West Borneo tidak diketahui nasibnya. Demikian pula kapal swasta Kong Neng, Kong Fa dan lainnya yang berlayar hingga Putussibau.
Sejumlah sembilan unit pesawat tempur menderu-deru. Kesembilan pesawat itu masing-masing jenis A6M2 Zero yang bertolak dari pangkalan Davao di Mindanau Selatan yang baru ditinggalkan pasukan Amerika.
Serangan atas Kota Pontianak dan sekitarnya itu didahului pesawat pengintai C5M2 buatan Mitsubishi, satuan pesawat Zero terbang dari Sarawak ke arah Kota Pontianak.
Pada 23 Desember 1941, dua puluh empat pesawat Jepang melakukan pengeboman terhadap lapangan terbang Singkawang II Sanggau Ledo dan merusak landasan pacunya.
Pesawat terbang Belanda yang diperintahkan untuk melakukan penyerangan terhadap konvoi Jepang tidak dapat take-off dengan muatan bom. Dalam keadaan seperti itu pasukan udara Belanda diperintahkan untuk meninggalkan Singkawang II Sanggau Ledo menuju Sumatera.
Pada 24 Desember, sesuai perintah, mereka terbang menuju Palembang sebagai pangkalan udara Belanda selanjutnya. (*)