Oleh: Rusmini / Unit kerja SD Negeri 16 Batu Payung kec. Sungai Raya Kepulauan
“Serbuuuuuuuuuuuuu ayo pegang kuat-kuat, jangan sampai lepas tidak boleh keluar. Pagi itu, aroma buku baru dan minyak telon masih tercium di kelas satu, sebagai guru mata pelajaran Agama, jantung saya berdegup kencang saat melangkah masuk. Anak-anak mungil dengan seragam yang tampak agak kebesaran menatap saya dengan mata sipit mereka yang polos.
Sepanjang jam pelajaran, saya berusaha mencairkan suasana. Kami bernyanyi. Dua mata saya hidung saya satu dua kaki saya pakai sepatu baru", sambil memperagakan gerakan tubuh yang lucu, dan bercerita tentang
“Aku ciptaan Tuhan aku Istimewa”. Tawa lucu mereka memenuhi ruangan. Rasa senang, gembira saya keluar, dengan penuh kehangatan yang luar biasa.
Namun waktu berjalan terlalu cepat lonceng pergantian jam berbunyi nyaring
“! Ss, Anak-anak manis, pelajaran kita sudah selesai. Yuk, kita lipat tangan dan tutup mata untuk berdoa," ajak saya.
Mereka patuh, belasan pasang tangan kecil menangkup, mengikuti setiap untaian doa syukur yang saya ucapkan. Setelah kata "Amin" menggema, saya merapikan Alkitab dan bersiap meninggalkan kelas.
"Anak-anak, Ibu Guru pamit dulu ya, sampai jumpa minggu depan!" ucap saya sambil tersenyum lebar, melambaikan tangan.
Kejadian setelahnya sungguh di luar dugaan, bukan jawaban “sampai jumpa, ibu!” yang saya terima, melainkan sebuah penolakan massal.
Tidak boleh!" seru mereka serentak.
Suara cempreng khas anak-anak riuh memenuhi kelas.
“Tetap di sini, ibu! Kami masih mau belajar sama ibu! “teriak yang lain”.
Sebelum saya sempat menjelaskan bahwa anak-anak lanjutkan Pelajaran yang lain, tiba-tiba situasi berubah menjadi "drama kolosal". Empat anak laki-laki dan perempuan langsung berlari ke depan kelas. Tanpa aba-aba, mereka langsung menjatuhkan diri ke lantai. Dua anak memeluk erat kaki saya, dan dua anak lainnya memegangi kaki kanan saya. Mereka memeluk sepatu dan kaos kaki saya seolah-olah saya adalah harta karun yang akan hilang.
"Jangan pergi! Ibu guru.," rengek salah satu anak yang memeluk kaki kanan saya. Matanya mulai berkaca-kaca saya masih mau belajar nyanyi yang tadi. Saya terpaku di tempat, mau melangkah tidak bisa karena beban di kaki saya lumayan berat. Di satu sisi, pemandangan ini sangat lucu. Saya merasa seperti pohon yang sedang di hinggapi empat koala kecil atau bagaikan seorang yang sedang disandra.
Beberapa anak di bangku belakang bahkan mulai ikut-ikutan berteriak menyemangati teman-temannya agar tidak melepas saya. Serentak mereka berteriak ibu guru tidak boleh pergi, tetap di sini “kami masih mau belajar dengan ibu, kami masih mau belajar menyanyi dan mendengarkan cerita”.
Namun, di sela-sela rasa geli itu, tiba-tiba ada sesuatu yang hangat merayap di dada saya. Mata saya mendadak panas dan berkaca-kaca. Rasa haru yang begitu besar menyeruak. Baru dua bulan mengajar, anak-anak polos ini sudah memberikan rasa percaya dan kasih sayang yang begitu tulus. Mereka belum tahu arti formalitas jam pelajaran; yang mereka tahu, mereka merasa nyaman dan tidak ingin kenyamanan itu pergi. Saya pun perlahan berjongkok, menyamakan tinggi badan dengan mereka yang masih setia memegangi kaki saya. Saya elus rambut mereka satu per satu dengan lembut.
"Anak-anak sayang, dengar Ibu Guru ya," kata saya dengan suara sedikit bergetar menahan haru.
"Ibu tidak pergi selamanya. Sekarang gantian, ada guru lain yang mau mengajar anak-anak supaya anak-anak tambah pintar. Ibu guru juga mau masuk ke kelas enam, kalau Ibu tetap di sini, kasihan guru yang lain tidak bisa masuk, dan kakak-kakak kelas enam menunggu ibu guru”.
Mereka mendongak, menatap saya dengan mata yang masih ragu.
“Janji ya, minggu depan ibu ke sini lagi?” tanya anak-anak yang memeluk kaki kiri saya, pelukannya mulai sedikit melonggar.
“Ibu janji, minggu depan kita menyanyi dan cerita yang lebih seru lagi. Sekarang lepaskan kaki ibu dulu ya?” seru saya sambil tersenyum manis.
Dengan wajah murung dan nada bicara yang lemas seorang murid yang bernama Erwen Santoso berkata “iyalah, ok” bu tapi janji ya minggu depan ajari kita lagi, dan masuk di kelas ini lagi.
Dengan yakin saya menjawab “ok hari Rabu, minggu depan ibu masuk di kelas satu dan mengajar anak-anak lagi”.
Ke empat anak yang memegangi kaki saya bangkit berdiri memeluk dan menyalami saya demikian juga yang lain mereka bangun dari kursi mereka memegang tangan kiri dan kanan saya mengantar saya sampai di pintu kelas serentak mereka berkata” bay bay ibu sampai jumpa”.
Kisah penyandraan yang dilakukan oleh anak-anak hebat dan istimewa kelas satu ini menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya dan tidak pernah terlupakan. Saya hanya bisa tersenyum lebar mengingat dekapan yang begitu erat dari tangan-tangan mungil yang manis murid-murid tercinta. Kisah pagi itu menjadi jawaban mutlak mengapa saya begitu mencintai profesi ini, dan memberikan motivasi serta semangat untuk lebih lagi melengkapi diri sehingga semakin berdampak yang positif bagi generasi ini.(*)