Opini post authorKiwi 11 Juni 2026

Masa Depan Pendidikan Ditentukan di Kelas Awal SD

Photo of Masa Depan Pendidikan Ditentukan di Kelas Awal SD

Oleh: Arif Jamali Muis / Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Hasil riset Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kemendikdasmen tahun 2026 dan riset INOVASI pada tahun yang sama sesungguhnya sedang mengirim pesan penting bagi masa depan pendidikan Indonesia. Capaian kompetensi minimum literasi SD/MI yang sempat mencapai 59,04 persen pada 2024 turun menjadi 55,7 persen pada 2025. Pada numerasi, penurunannya juga terlihat siknifikan, dari 52,48 persen menjadi 48,25 persen.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 35,6 persen siswa kelas 4 SD masih belum mencapai kemampuan dasar numerasi, sementara 18,8 persen belum mencapai kemampuan dasar literasi. Kemampuan membaca tingkat tinggi seperti memahami makna, menghubungkan informasi, dan menafsirkan bacaan bahkan hanya dikuasai sebagian kecil siswa. Angka-angka itu bukan sekadar data statistik akan tetapi sedang bercerita tentang fondasi belajar anak-anak Indonesia yang belum benar-benar kuat.

Di tengah hiruk-pikuk pembicaraan tentang kecerdasan artifisial, coding, dan transformasi digital pendidikan, kita justru dihadapkan pada persoalan paling mendasar, banyak anak belum mampu memahami apa yang mereka baca, serta belum mampu menggunakan angka untuk berpikir. Padahal masa depan pendidikan sesungguhnya ditentukan bukan pertama-tama di ruang seminar atau teknologi yang canggih, melainkan di ruang-ruang kecil kelas 1, 2, dan 3 SD.

Di sekolah dasarlah anak mulai belajar mengenal dunia. Belajar membaca makna, memahami angka, bertanya, bernalar, dan membangun rasa percaya diri sebagai pembelajar. Ketika fondasi ini rapuh, maka jenjang pendidikan berikutnya hanya akan mewarisi akumulasi masalah. Anak yang tidak kuat membaca akan kesulitan untuk memahami hampir semua mata pelajaran. Anak yang lemah numerasi akan kesulitan berpikir logis dan memecahkan persoalan kehidupan.

Riset PSKP menunjukkan bahwa rendahnya literasi dan numerasi ternyata bukan semata-mata soal kurikulum atau materi pelajaran. Lingkungan belajar dan dukungan psikologis justru memiliki pengaruh besar terhadap capaian siswa.

Anak-anak belajar lebih baik ketika mereka merasa aman, dihargai, didukung, dan tidak takut melakukan kesalahan. Di titik ini kita mulai memahami bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan.

Anak tidak belajar hanya dengan otak, tetapi juga dengan rasa. Anak yang takut dimarahi akan kehilangan keberanian bertanya. Anak yang selalu ditekan perlahan kehilangan rasa ingin tahu. Ruang belajar yang tidak aman akhirnya hanya melahirkan anak-anak yang patuh, tetapi tidak berani berpikir.

Temuan INOVASI juga memperlihatkan pembelajaran kita masih terlalu sibuk mengejar jawaban benar dan hafalan. Banyak siswa mampu menjawab soal sederhana, tetapi kesulitan ketika diminta memahami makna, menghubungkan informasi, atau menafsirkan persoalan yang lebih kompleks. Anak-anak mungkin sudah bisa membaca teks, tetapi belum tentu memahami isi kehidupan yang tersembunyi di balik teks itu.

Kebijakan Pembelajaran Mendalam yang saat ini dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi sangat relevan. Pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan menghafal materi, tetapi harus membantu anak memahami, mengaitkan, merefleksikan, dan menggunakan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Anak perlu belajar secara mindful, meaningful, dan joyful belajar dengan kesadaran, makna, dan kegembiraan.

Pembelajaran mendalam tentu tidak mungkin hadir tanpa guru yang kuat. Di sinilah peran guru SD, terutama guru kelas bawah, eran mareka menjadi sangat menentukan. Guru kelas 1, 2, dan 3 SD bukan sekadar pengajar huruf dan angka. Mereka adalah pembangun fondasi berpikir anak-anak Indonesia.

Langkah Kemendikdasmen melatih guru-guru melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), MGMP, dan komunitas belajar guru untuk menerapkan pembelajaran mendalam patut diapresiasi. Sebab tantangan terbesar pendidikan kita hari ini bukan hanya bagaimana anak naik kelas, tetapi bagaimana anak benar-benar belajar.

Mengajar kelas awal SD bukan pekerjaan sederhana. Dibutuhkan guru yang memahami perkembangan anak, strategi membaca pemahaman, numerasi konseptual, sekaligus mampu menciptakan ruang belajar yang aman dan menggembirakan. Guru kelas awal sesungguhnya sedang menentukan apakah sekolah akan menjadi ruang yang membahagiakan atau justru ruang yang membuat anak takut belajar.

Mungkin inilah yang perlu kita sadari bersama, masa depan pendidikan Indonesia sebenarnya sedang dipertaruhkan di kelas-kelas kecil sekolah dasar. Pendidikan yang kuat bukan hanya melahirkan anak yang pandai menjawab soal, melainkan anak-anak yang mampu berpikir, memahami kehidupan, dan terus belajar sepanjang hayat.(*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda