Sektor pertanian adalah urat nadi kedaulatan bangsa. Ketika terjadi perubahan dinamika di struktur kepemimpinan Kementerian Pertanian Republik Indonesia—khususnya posisi Wakil Menteri Pertanian—pertanyaan paling fundamental yang muncul di benak jutaan petani di pelosok negeri adalah: Siapa figur yang paling memahami denyut nadi dan jerit payah para petani di tapak bawah?
Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak boleh sekadar berlandaskan kompromi politik elite, melainkan harus bertumpu pada rekam jejak, komitmen moral, serta kedekatan nyata dengan akar rumput. Dalam konteks inilah, kami di DPW Tani Merdeka Indonesia Kalimantan Barat melihat bahwa Don Muzakir, Ketua DPN Tani Merdeka Indonesia, adalah sosok yang sangat layak, tepat, dan relevan untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan sebagai Wakil Menteri Pertanian RI.
Kepemimpinan Bapak Sudaryono selama mengemban amanah sebagai Wakil Menteri Pertanian telah meletakkan fondasi kuat dalam mendorong percepatan ketahanan dan kemandirian pangan nasional. Beliau berhasil membawa napas baru yang menghubungkan kebijakan makro pemerintah dengan realitas para petani di daerah.
Untuk menjaga keberlanjutan (sustainability) dan akselerasi program-program strategis tersebut, Kementan membutuhkan sosok pengisi posisi Wamentan yang tidak perlu lagi meraba-raba persoalan dari awal. Indonesia tidak memiliki waktu untuk kurva pembelajaran (learning curve) yang panjang di tengah tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim.
Don Muzakir adalah jawaban atas kebutuhan keberlanjutan tersebut.
Rekam Jejak Akar Rumput: Memahami Bahasa Petani
Sebagai Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir bukan sekadar tokoh organisasi yang duduk di balik meja. Beliau adalah pejuang lapangan yang telah melintasi ribuan desa dari Aceh hingga Papua, mendengarkan langsung keluhan para petani terkait persoalan kelangkaan pupuk, alokasi benih, stabilitas harga panen, hingga tata kelola irigasi.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa Don Muzakir adalah figur yang sangat tepat yakni pertama, kepemimpinan berbasis akar rumput (Grassroots Leadership): Beliau memahami bahwa kebijakan pertanian terbaik lahir dari pemahaman atas masalah riil di sawah, ladang, dan perkebunan, bukan sekadar teori di atas kertas.
Kedua, ?jembatan antara petani dan pemerintah: Melalui Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir terbukti mampu mengonsolidasikan jutaan petani, petani milenial, dan pelaku usaha tani untuk menyelaraskan langkah mendukung program swasembada pangan pemerintah.
Ketiga, ?paham terhadap visi ketahanan pangan nasional: Beliau memiliki keselarasan visi yang teguh terhadap arah kebijakan pangan strategis nasional, khususnya dalam memperkuat kapasitas produksi lokal dan modernisasi sektor pertanian.
Komitmen dari Daerah untuk Indonesia
Kami di Kalimantan Barat—sebuah wilayah perbatasan yang memiliki potensi pertanian dan perkebunan luar biasa namun masih memerlukan perhatian serius dalam hal infrastruktur pertanian dan rantai pasok—sangat merasakan betapa pentingnya hadirnya pimpinan kementerian yang responsif terhadap daerah.
Don Muzakir paham betul bahwa kedaulatan pangan Indonesia tidak hanya dibangun dari Jawa, tetapi dari seluruh jengkal tanah subur di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Pendekatan inklusif dan keindonesiaan inilah yang dibutuhkan untuk mendampingi Menteri Pertanian dalam mengeksekusi program-program prioritas nasional.
Pengangkatan seorang pejabat publik di level kementerian tentu merupakan hak prerogatif Presiden. Namun sebagai bagian dari masyarakat tani yang berjuang di daerah, kami merasa berkewajiban memberikan pandangan objektif dari bawah.
Don Muzakir bukan hanya sekadar nama, melainkan representasi dari harapan jutaan petani Indonesia yang menginginkan pemimpin dari kalangan mereka sendiri—pemimpin yang berkeringat bersama petani, paham masalah, dan memiliki solusi nyata. Beliau adalah pilihan yang tepat, pantas, dan siap bekerja demi terwujudnya Indonesia yang berdaulat secara pangan.