SEMUANYA berubah dan silih berganti. Hampir semua jalan dan gang di Kota Pontianak mengalami perubahan atau pergantian. Sebut saja antaranya Geravenis Weeg menjadi jalan Penjara, lalu jalan Nusantara kemudian kolaborasi jalan KH Wahid Hasyim dan KH Ahmad Dahlan.
Begitupun gang Sipan, menjadi Jalan Kutilang. Kadang ada nama yang sama di beberapa tempat berbeda, misalnya gang Sepakat, gang Nusa Indah dan lain-lain. Tapi yang namanya gang Norali, mulai zaman penjajahan Belanda, masa Jepang, pemerintahan NICA sampai kini, namanya tetap Norali.
Di SR gang Norali atau SR I, salah satu gurunya Engku Mohamad Saleh. Waktu itu di Pontianak hanya ada dua SR 6 tahun. Sekitar tahun 1947 banyak murid dipindahkan dari SR I atau SR Norali ke SR Kampung Melayu atau SR II.
Di kelas 6 bergabung anak asli SR Kampung Melayu dan pindahan SR Norali. Semuanya berjumlah 28 murid. Gurunya baru lulus Sekolah Normal di Banjarmasin, dia berasal dari Sambas, namanya Engku Zar'in.
Satu-satunya murid perempuan di antara 28 murid pertama kelas 6 SR II Kampung Melayu namanya Fatimah. Lainnya murid laki-laki antara lain Wan Usman, Mat Noh, Mat Awal, Mat Saleh Dinil, Mat Husin Sakman, Mat Tos, Hasri Aspas, Selamat Muslana.
Waktu murid-murid ini tamat, ada yang meneruskan ke OVVO atau srkolah guru desa pengganti CVO. Wan Usman ke SMP bersebelahan ruangan di dekat jam segitiga, sekarang gedung BNI 46. Tahun 1951 mereka tamat, Wan Usman meneruskan SMA di Jawa, belakangan pernah menjadi Rektor Universitas Tanjungpura.
Pada zaman Jepang tak banyak orang berani berjualan. Namun masih ada yang memberanikan diri untuk meraih pisang sampai ke parit Sri Gadoh, Punggur, dan Kalimas.
Di zaman NICA dan zaman tenang, mulai orang berdagang buah-buahan serupa durian dan cempedak dan menjual ikan. Berdagang berkeliling dihutangkan pada ibu-ibu di gang Mariana, gang Tengah dan gang Wak Serang.
Zaman itu ada beberapa surau terkemuka, tempat di mana anak-anak belajar mengaji, membaca huruf Arab Melayu dari kitab terbitan Pelita dan Mercu Suar, di antaranya surau Wan Sagap dan sekolah agama di gang Mariana yang diajar Ustad Akib dan Ustad Sead.
Pada masa awal pendudukan Jepang murid-murid dipindahkan ke sekolah di gang Tengah yang terdiri dari tiga kelas, kelas 1, 2, dan 3.
Kepala sekolah Guru Nong tinggal di Palmenlaan, dia mengajar di kelas 1, guru kelas 2 Encik Sakmah dan kelas 3 diajar Engku Uray Amin rumahnya di jalan Kamal persis di depan sekolah gang Tengah.
Sekelas ada 24 orang murid, semua laki-laki di antaranya Oktavianus, Ali Buton, Selamat Muslana, Abd Rahman, Jimmy Mohamad Ibrahim, Hamin Gembel dan lain-lain. Kira-kira Juni 1942 pindah seorang murid baru dari Jawa di sekolah ini, namanya Sangat.
Walau cuma sampai kelas 3 sekolah gang Tengah mempunyai regu atau kesebalasan kasti yang paling tangguh di Pontianak.
Para pemainnya antara lain A Rasyid Sanak, Motoaki (anak Jepang), Sangat, Ibrahim Zuber dan Jumari. Setelah kenaikan kelas, kelas 3, ada murid yang pindah ke SR 3 tahun di gang Radio kepala sekolahnya Engku Mahmud.
SR gang Radio murid kelas 3 diajar oleh guru Awang Ali, garangnya luar biasa. Di kelas 3 ada 32 orang murid, campuran murid laki-laki dan perempuan, di antaranya Sutrisno, Selamat Muslana, Ramlan, Payem, Tambi, Wagiyem, Amnah dan Jihim.
Perkumpulan kesenian di SR Radio dipimpin Kadir Rais dan Nuraini. Bersekolah zaman Jepang murid hanya belajar tiga hal saja tiap harinya, pagi hari taiso (senam), agak siang belajar bahasa Jepang memakai huruf hiragana, katakana dan kanji, dan siang sekali mempelajari lagu perjuangan bahasa Jepang dan Indonesia. (*)