Oleh: Mei Purwowidodo / Pengamat Pembangunan Kota Pontianak
PONTIANAK kian hari kian cantik. Wajah kota terus berubah. Jalan-jalan semakin tertata, taman-taman mulai menghiasi sudut kota, ruang publik semakin nyaman, dan berbagai pembangunan menghadirkan optimisme baru. Banyak tamu yang datang ke Pontianak menyampaikan kesan yang sama. Mereka mengatakan, kota ini sudah semakin indah.
Tinggal satu pekerjaan besar yang harus kita lakukan bersama: menjaganya.
Membangun kota memang membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Namun menjaga kota sesungguhnya jauh lebih murah.
Yang dibutuhkan bukan hanya dana, melainkan kesadaran. Kesadaran bahwa kota ini adalah rumah besar kita bersama.
Rumah yang nyaman tentu tidak dibiarkan kotor. Halamannya dirawat, dindingnya dijaga, dan isinya dipelihara. Begitu pula dengan Pontianak.
Jangan sampai fasilitas umum yang dibangun dengan uang rakyat justru dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Vandalisme, perusakan taman, bangku, lampu penerangan, hingga rambu-rambu jalan bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga cermin rendahnya rasa memiliki terhadap kota sendiri.
Karena itu, tindakan tegas terhadap perusak fasilitas umum sudah semestinya menjadi bagian dari upaya menjaga marwah kota.
Namun kebersihan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah dan petugas kebersihan. Mereka hanyalah ujung tombak. Keberhasilan sesungguhnya ada di tangan seluruh warga.
Setiap orang memiliki peran. Mulai dari rumah, lingkungan rukun tetangga, sekolah, kampus, tempat kerja, hingga pasar.
Budaya membuang sampah pada tempatnya harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar imbauan. Jangan lagi menjadikan parit sebagai tempat pembuangan sampah. Parit yang tersumbat bukan hanya merusak pemandangan, tetapi juga menjadi penyebab banjir yang akhirnya merugikan kita sendiri.
Pontianak selama ini dikenal sebagai kota jasa dan perdagangan. Kota yang hidup karena aktivitas masyarakatnya. Kota yang ingin terus dikunjungi wisatawan, investor, pelaku usaha, dan menjadi tuan rumah berbagai kegiatan berskala nasional.
Orang akan senang datang ke kota yang bersih. Orang akan betah tinggal di kota yang tertata. Dan orang akan bangga memperkenalkan kota yang indah.
Karena itu, semakin sering Pontianak menjadi tuan rumah berbagai event nasional, semakin luas pula nama kota ini dikenal.
Dampak ekonominya akan dirasakan oleh hotel, restoran, UMKM, pedagang, hingga sektor transportasi. Semua memperoleh manfaat ketika citra kota terus meningkat.
Di sinilah pentingnya budaya saling mengingatkan. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menjaga. Bila melihat sampah berserakan, mari dipungut.
Bila melihat orang membuang sampah sembarangan, mari diingatkan dengan santun. Kepedulian kecil yang dilakukan banyak orang akan menghasilkan perubahan besar.
Peran para alim ulama pun sangat penting. Nilai-nilai kebersihan harus terus disampaikan dalam setiap kesempatan. Sebab kebersihan bukan hanya persoalan estetika kota, tetapi juga bagian dari nilai keimanan yang diajarkan agama.
Pontianak yang bersih bukan semata-mata cita-cita pemerintah kota.
Pontianak yang bersih adalah cita-cita seluruh warganya.
Mari kita jadikan kebersihan sebagai gerakan bersama. Gerakan yang lahir dari hati, tumbuh menjadi kebiasaan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena kota yang tertata, bersih, dan indah bukan hanya enak dipandang.
Tetapi juga menjadi kebanggaan bagi setiap orang yang menyebut dirinya warga Pontianak. (*)