Opini post author Kiwi 29 Juni 2026

HKTI Kalbar Dilantik, Harapan Petani Kalbar Naik Kelas?

Photo of HKTI Kalbar Dilantik, Harapan Petani Kalbar Naik Kelas?

Oleh: Mei Purwowidodo / Pemerhati Pembangunan Kalbar

DUNIA sedang berubah. Cepat sekali berubah. Geopolitik global hari ini memberi satu pelajaran penting bagi semua bangsa: perang, konflik, dan ketidakpastian ekonomi telah menyadarkan dunia bahwa urusan paling mendasar bukan lagi sekadar teknologi tinggi, kecerdasan buatan, atau industrialisasi modern.

Pada akhirnya, manusia tetap bergantung pada dua hal utama: pangan dan energi. Dan ketika semua negara mulai sibuk menyiapkan strategi bertahan, kita kembali diingatkan pada profesi yang selama ini sering dipandang sebelah mata,petani...!

Ironis memang. Petani adalah profesi yang sering hidup dalam ketidakpastian. Hasil panen kadang jatuh, pupuk sulit didapat, cuaca tak menentu, hasil kerja keras berbulan-bulan sering tidak sebanding dengan kesejahteraan yang diterima.

Tetapi di saat bersamaan, justru merekalah kelompok paling strategis dalam menentukan nasib sebuah bangsa. Karena sesungguhnya, bangsa yang kuat bukan bangsa yang paling canggih teknologinya.

Tetapi bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Hari ini dunia mulai sadar. Bahkan orang-orang terkaya di dunia Elon Musk dan Bill Gates sudah mulai melirik industri pangan.

Mereka memahami bahwa pertanian dan perkebunan bukan lagi sektor sampingan. Masa depan ekonomi dunia justru akan banyak ditentukan dari siapa yang menguasai sumber pangan. Dan Indonesia tampaknya membaca arah zaman itu.

Presiden Prabowo Subianto melalui visi besar Asta Cita menempatkan kemandirian, kedaulatan, dan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional. Sebuah pesan bahwa negara tidak boleh terus bergantung pada impor, sementara lahan subur terbentang luas di negeri sendiri.

Kebijakan ini sesungguhnya memberi harapan baru. Bahwa petani tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap pembangunan, tetapi sebagai pilar utama menjaga masa depan bangsa. Di Kalimantan Barat, momentum ini mulai terlihat.

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKT) Kalbar mulai melakukan konsolidasi besar.

Setiap kepala daerah kabupaten/kota didorong menjadi Ketua DPC HKTI, sementara DPD HKTI dipimpin langsung oleh Gubernur. Ini bukan sekadar penataan organisasi. Ini adalah sinyal bahwa sektor pertanian mulai ditempatkan dalam posisi strategis pembangunan daerah.

HKTI hari ini sedang menjalankan peran besar: memperjuangkan kesejahteraan petani sekaligus mendukung agenda swasembada pangan nasional, terutama produksi beras sebagai kebutuhan pokok masyarakat.

Pertanyaannya sekarang sederhana: akankah petani Kalbar semakin naik kelas ?

Jawabannya sangat mungkin: iya. Tetapi ada syaratnya. Negara harus benar-benar hadir. Infrastruktur pertanian harus dibenahi. Distribusi pupuk harus adil.

Teknologi pertanian modern harus masuk desa. Regenerasi petani muda harus dipersiapkan. Dan yang paling penting, petani harus mendapat keuntungan yang layak dari hasil kerjanya.

Sudah terlalu lama petani diminta berjuang sendiri. Padahal logikanya sederhana. Jika negara ingin rakyat hidup tenang, maka orang yang memproduksi makanan harus lebih dulu dibuat tenang hidupnya.

Sudah saatnya negara membahagiakan petani. Karena sejarah mengajarkan satu hal penting: bangsa akan mampu bertahan menghadapi segala krisis bila para penghasil pangannya hidup sejahtera.

Di masa depan, mungkin gedung tinggi bukan lagi simbol kekuatan sebuah negara. Sawah yang produktif, lumbung pangan yang penuh, dan petani yang tersenyum… itulah tanda bangsa sedang baik-baik saja.

Dan mungkin, zaman sedang membawa petani Indonesia… termasuk petani Kalbar… menuju panggung kehormatan yang selama ini terlalu lama tertunda.

Hidup HKTI Kalbar....!! (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda