Opini post author Kiwi 26 Juni 2026

Mendung Menggantung Atas Istana Kadriyah Di Masa Pendudukan Jepang

Photo of Mendung Menggantung Atas Istana Kadriyah Di Masa Pendudukan Jepang

Oleh: Syafaruddin Daeng Usman / Peminat Kajian Sejarah Kalbar

ADALAH Syarifah Hadijah Alkadri bergelar Ratu Perbu Wijaya [lahir 1908] dan Syarifah Fatimah Alkadri bergelar Ratu Anom Bendahara [lahir 1911], masing-masing berusia sekitar 33 dan 30 tahun [kini kedua Ibu Ratu itu telah meninggal dunia], ketika Balatentara Dai Nippon Teikoku Jepang menginjakkan kakinya di Kalimantan Barat 1942.

Kedua Almarhumah Ibu Ratu itu adalah puteri Sultan Pontianak Syarif Mohamad Alkadri. Semasa hidupnya pernah menceritakan tentang peristiwa penangkapan pada 24 Januari 1944, Sultan Mohamad telah diambil beserta seluruh anak laki-lakinya, kecuali Syarif Hamid [kelak dikenal sebagai Sultan Hamid II].

Termasuk semua menantu Sultan Pontianak, kecuali Syarif Ibrahim. Ditambah lagi dengan sejumlah keluarga dekat, baik yang bertempat tinggal di dalam lingkungan tembok Istana Kadriyah maupun yang tinggal di luar tembok istana. Tercatat, sedikitnya ada 60 korban yang berasal dari keluarga Istana Kadriyah Pontianak.

Subuh 24 Januari 1944, sekitar jam 3 tiba-tiba saja suasana yang mencekam dan mencemaskan terjadi dalam lingkungan tembok Istana Kadriyah di Kampung Dalam.

Diperkirakan tidak kurang dari 15 lusin balatentara Jepang telah mengadakan stelling. Mereka berpencar di seluruh rumah yang didiami keluarga Alkadri, dengan senapan berbayonet terhunus.

Dari celah-celah lantai rumah yang bertiang tinggi, kelihatan bayonet diacung-acungkan. Kemudian setelah itu, pintu-pintu rumah digedor satu persatu. Beberapa orang Kempeitai masuk, membawa lampu senter. Di tangannya tergenggam sebuah daftar, les hitam, berikut foto dari calon-calon korban.

Seluruh penghuni rumah dikumpulkan, dipilih mana yang termasuk ke dalam daftar tersebut. Muka para calon korban disungkup dengan sembarang apa yang bisa. Apakah itu taplak meja, atau karung, atau gorden. Tangan diikat ke belakang.

Di antara penghuni Istana Kadriyah ada yang bermaksud untuk meloloskan diri lewat pintu belakang. Tapi ternyata di sana pun telah berjaga-jaga tentara Jepang.

Sultan Mohamad pada ketika itu baru saja selesai makan sehabis shalat tahajud malam, segera diberitahu tentang apa yang sedang terjadi. Namun sultan tampak tenang-tenang saja, bahkan berkata, “Tidak apa-apa, Jepang sedang mencari orang-orangnya ...”

Mungkin sesungguhnya kalimat itu masih akan berlanjut, tetapi keburu muncul tentara Jepang yang langsung mendekatinya. Semula sultan akan diperlakukan juga seperti calon korban lainnya, mata ditutup dan tangan diikat ke belakang. Tapi sultan menolak, dan dengan berwibawa berkata, dia tidak akan lari.

Di rumah yang lain, di samping istana, Syarifah Fatimah bergelar Ratu Anom Bendahara [lahir 1911] sempat menerima pukulan-pukulan senter di kepalanya karena menentang perlakuan Jepang terhadap suami dan keluarganya yang lain.

Di rumah-rumah keluarga Alkadri itu, tentara Jepang bukan hanya telah mengambil manusia, tapi juga barang-barang perhiasan berharga. Untuk maksud itu mereka telah mengobrak-abrik seluruh isi rumah.

Dari tingkat dua Istana Kadriyah barang-barang perhiasan seperti emas, intan dan berlian diturunkan dengan menggunakan tali. Termasuk di situ alat-alat senjata yang bertatahkan berlian, bahkan dua mahkota emas.

Orang-orang yang diambil dari rumahnya masing-masing dikumpulkan dekat tiang bendera, di halaman istana. Pada dada mereka disematkan secarik kertas atau kain, sebagai tanda. Kemudian orang-orang itu diseberangkan dengan motor air yang dikenal dengan sebutan Motor Sungkup.

Hingga esok sore harinya, Istana Kadriyah masih diblokir oleh balatentara Jepang. Selain mencari orang-orang yang belum ditemukan, juga untuk mencari barang-barang berharga. Untuk mencari yang disebut terakhir ini, kiranya cukup memakan waktu.

Salah seorang putera Sultan Mohamad yang semula berhasil meloloskan diri adalah Syarif Abdulmuthalib gelar Pangeran Muda. Ketika penangkapan berlangsung, ia berhasil mengelabui tentara Jepang.

Karena tak berhasil menemukannya, Jepang membuat janji bohong. Jika Pangeran Muda menyerahkan diri, maka Sultan Mohamad akan dipulangkan.
Atas desakan saudara-saudara perempuannya yang menginginkan sultan segera dikembalikan, pun atas kehendak sendiri, akhirnya Pangeran Muda menyerahkan diri. Sungguh memilukan.

Selesai penangkapan itu, beberapa bulan kemudian, pada 7 Maret 1944 kembali Jepang menangkap lagi seorang keluarga Kadriyah.
Sekali ini, Syarifah Maimunah bergelar Ratu Kusumayudha. Berikutnya Syarif Ibrahim menantu Sultan Mohamad. Namun yang terakhir ini dipulangkan setelah ditahan selama sebulan.

Belum puas dengan apa yang telah diperolehnya, selama lebih kurang 6 bulan setelah penangkapan, balatentara Jepang selalu saja datang ke istana. Mereka datang seolah-olah membawa pesan dari warga Istana Kadriyah yang telah ditahan, minta kirimkan ini dan itu.

Apa boleh buat, pesan itu terpaksa dipenuhi. Pesan yang benar dari sekian banyak pesan, mungkin hanyalah permintaan Sultan Mohamad, agar dikirimkan sebuah kelambu kasa, permadani, kipas dan tasbih.

Dan kedatangan tentara-tentara Jepang itu, seakan mau berbaik-baik. Mereka menghibur dengan kata-kata, “Jangan susah, anak isteri Nippon jaga baik-baik ...” Terhadap anak kecil, mereka sangat baik. Oleh kalangan istana, hal seperti itu diduga sebagai ingin mengetahui rahasia dari mulut anak-anak yang polos.

Pada waktu itu Jepang juga mengeluarkan pengumuman, agar semua barang-barang berharga seperti emas, intan, berlian, diserahkan kepada pemerintah Jepang. Tak ketinggalan, disebarkan pula isu bahwa Nippon memiliki peralatan untuk mengetahui barang-barang yang disembunyikan.

Sampai pun dikatakan, bahwa di segenap pojok dan tiang Istana Kadriyah, Jepang telah memasang alat-alat untuk menangkap pembicaraan penghuninya.
Sehingga perasaan duka yang dirasakan oleh keluarga Alkadri semakin bertambah berat dengan rasa was-was dan khawatir selalu.

Belum lagi, para ibu ratu diharuskan bekerja kasar seperti mencangkul kebun di seberang, di kawasan Sungai Bangkong. Keadaan negeri Pontianak bak padang terkukur. Beli apa-apa harus antri dan menggunakan kupon.

Pada 1 Juli 1944, berita yang dilansir oleh surat kabar lokal propaganda militer Jepang Borneo Sinbun, membuat kalangan Istana Kadriyah menjadi gempar. Betapa kedukaan telah menyelubungi seluruh keluarga Alkadri. Sampai-sampai tak dimiliki lagi air mata untuk diteteskan. Kering dalam kehampaan rasa.

Setelah kekuasaan Jepang di Indonesia runtuh pada 1945, Ratu Perbu Wijaya, Ratu Anom Bendahara bersama dengan keluarga korban lainnya, telah datang ke Mandor untuk menyaksikan tempat di mana Jepang telah melakukan pembantaian.

Mereka yang datang ke sana bukan hanya keluarga Istana Kadriyah, tapi juga masyarakat lainnya. Kepergian ke Mandor diantar oleh anggota tentara Sekutu bersama beberapa orang Jepang yang diborgol sebagai penunjuk jalan.

Apa yang ditemui, tak lain tulang belulang yang sudah terpisah-pisah berserakan di sana-sini. Tak dapat lagi dikenal identitasnya. Betapa luluh hati menyaksikan pemandangan serupa itu, tak kuasa kata-kata mengungkapkannya.

Sedangkan mayat Sultan Mohamad Alkadrie ditemukan pada 1945 itu juga, atas petunjuk seorang orang hukuman yang ikut menyiapkan tempat penguburannya. Tempat penguburan Sultan Mohamad itu lokasinya berada di belakang kompleks susteran Pontianak [Jalan Arief Rahman Hakim].

Waktu digali, tampak mayat masih dalam keadaan utuh. Kemudian mayat tersebut dibawa ke RSU Sungai Jawi Pontianak, diperiksa oleh dr Mas Soedarso. Selanjutnya, setelah itu, dibawa pulang ke Istana Kadriyah.
Dengan upacara kebesaran, jenazah sultan dimakamkan di pemakaman kesultanan di Batulayang Pontianak.

Mengenai mayat korban lain yang berasal dari Istana Kadriyah tetap tidak ditemukan. Apakah berada di Mandor ataupun tempat lain, tidak diketahui dengan jelas.

Begitulah antaranya dituturkan kepada penulis oleh Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara semasa hidup keduanya. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda