SANGGAU, SP - Sore itu, angin berembus pelan di Rantau Buloh, Desa Pedalaman, Kecamatan Tayan Hilir. Daun-daun jambu air bergoyang lembut, sementara beberapa buah mangga yang mulai menguning menggantung di antara rimbun dahan.
Dari kejauhan, suara burung bersahut-sahutan memecah kesunyian kawasan yang kini tampak hijau dan teduh. Sulit membayangkan, dua tahun lalu tempat ini hanyalah hamparan semak belukar.
Di bawah rindangnya pepohonan yang tumbuh berjejer, Sunarto, Sang Kepala Desa (Kades) Pedaman, berdiri memandang satu per satu tanaman yang kini telah menjulang.
Tatapannya seakan menelusuri kembali perjalanan panjang yang pernah dimulai dari lubang-lubang tanam dan bibit-bibit kecil yang nyaris tak terlihat di antara rumput liar.
"Kalau melihat kondisi sekarang, kami sangat bersyukur. Dulu kawasan ini dipenuhi semak dan belukar. Sekarang sudah hijau, produktif, dan memberi manfaat bagi masyarakat," tutur Sunarto, saat ditemui Suara Pemred, Selasa, 16 Juni 2026 sambil mengamati kebun yang perlahan menjadi kebanggaan desanya.
Di sekelilingnya, pohon jambu air, mangga, sawo, jambu kristal, hingga jeruk lemon tumbuh subur. Sebagian telah beberapa kali berbuah dan hasilnya dinikmati warga.
Sementara di sudut lain kawasan itu, deretan durian unggul mulai menunjukkan pertanda baik. Bunganya bermekaran, membawa harapan baru tentang panen yang sebentar lagi akan tiba.
Namun kisah Rantau Buloh bukanlah cerita tentang pohon yang tumbuh begitu saja. Semua bermula dua tahun lalu ketika Program BRI Menanam hadir di Desa Pedalaman.
Sebanyak 110 bibit tanaman buah dan tanaman keras ditanam di kawasan tersebut. Hari itu, warga, perangkat desa, dan jajaran BRI Cabang Sanggau bergotong royong membuka lahan, membersihkan semak, lalu menanam bibit-bibit yang kelak diharapkan menjadi sumber kehidupan baru bagi masyarakat.
Saat bibit-bibit itu masuk ke dalam tanah, belum ada buah yang bisa dipetik. Belum ada pohon rindang yang menaungi. Yang tumbuh saat itu hanyalah keyakinan bahwa suatu hari nanti lahan tersebut akan memberikan manfaat bagi desa.
Keyakinan itulah yang kemudian dijaga bersama. Hampir setiap bulan, warga datang membawa parang, cangkul, dan pupuk. Tak ada upah yang menanti. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa pohon-pohon itu merupakan investasi bersama untuk masa depan desa.
"Kami bersama warga terus merawat tanaman ini. Menebas rumput, membersihkan belukar, memberi pupuk, dan menjaga agar pohon-pohon tetap hidup. Kami ingin kawasan ini terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat," kata Sunarto.
Apa yang dirawat dengan kesabaran akhirnya mulai menunjukkan hasil.

Jambu air menjadi salah satu tanaman yang paling cepat memberikan manfaat. Buahnya beberapa kali dipanen warga. Tak lama kemudian, mangga, sawo, jambu kristal, dan jeruk lemon juga mulai menghasilkan buah.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya buah-buahan biasa. Namun bagi masyarakat Desa Pedalaman, setiap panen menjadi bukti bahwa harapan yang mereka tanam dua tahun lalu benar-benar tumbuh.
Anak-anak kini dapat menikmati buah segar dari lingkungan mereka sendiri. Orang tua tak lagi melihat lahan kosong yang dipenuhi semak. Kawasan yang sebelumnya kurang produktif perlahan berubah menjadi ruang hijau yang memberi manfaat langsung bagi kehidupan warga.
Di antara warga yang ikut merawat kawasan itu adalah Edwin Siregar. Ia masih mengingat bagaimana masyarakat bergotong royong saat penanaman pertama dilakukan. Karena itu, setiap pohon yang tumbuh hari ini seolah menyimpan cerita tentang kebersamaan mereka.
"Bagi kami, pohon-pohon di Rantau Buloh adalah pohon kehidupan. Mungkin hari ini belum semua berbuah, tetapi kami sudah melihat manfaatnya. Ada yang menghasilkan buah untuk dikonsumsi masyarakat, ada yang menjaga tanah tetap hijau, dan semuanya memberi harapan untuk masa depan," ujar Edwin.
Perasaan memiliki itu membuat warga rela datang kembali untuk merawat kawasan tersebut.
"Setiap kali membersihkan rumput, memangkas belukar, atau memberi pupuk, kami merasa sedang menjaga harapan bersama. Pohon-pohon ini bukan milik satu orang, tetapi milik seluruh masyarakat Desa Pedalaman," katanya.
Harapan yang dimaksud Edwin bukan hanya soal buah. Bagi masyarakat Desa Pedalaman, keberadaan ratusan pohon yang tumbuh di Rantau Buloh juga menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan.
Wilayah Tayan Hilir, termasuk Desa Pedalaman, kerap menghadapi ancaman banjir saat musim penghujan. Karena itu, semakin banyak pohon yang tumbuh berarti semakin besar pula kemampuan tanah menyerap air hujan.
Akar-akar pohon yang terus berkembang membantu memperkuat daya resap tanah dan menjaga keseimbangan lingkungan di kawasan tersebut.
Hal itu pula yang dirasakan Sunarto. Menurutnya, manfaat terbesar yang mulai terlihat bukan hanya hasil panen, melainkan perubahan kondisi lingkungan desa.
"Kami merasakan manfaatnya bukan hanya dari buah yang dipanen. Pohon-pohon ini juga membantu menjaga lingkungan. Semakin banyak pohon tumbuh, semakin baik untuk resapan air dan kelestarian alam di sekitar desa," ujarnya.
Perubahan yang terjadi di Rantau Buloh mendapat perhatian berbagai pihak. Pemimpin Cabang BRI Sanggau, Helmi Wijayadi, mengatakan program BRI Menanam memang tidak hanya bertujuan menghijaukan lingkungan, tetapi juga menciptakan sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan program tidak diukur dari seremoni penanaman, melainkan dari bagaimana tanaman itu dirawat hingga memberikan manfaat nyata.
"Harapan kami pohon-pohon ini terus dirawat dan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ketika nanti semakin banyak yang berbuah, manfaat ekonominya dapat dirasakan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan," katanya.
Apresiasi juga datang dari Kepala Dinas Ketahanan Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perikanan Kabupaten Sanggau, Kubin. Menurutnya, Program BRI Menanam telah menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah desa, dan masyarakat mampu mengubah lahan yang sebelumnya kurang produktif menjadi kawasan hijau yang bermanfaat.
"Kami sangat mengapresiasi Program BRI Menanam. Kawasan Rantau Buloh yang sebelumnya dipenuhi semak kini menjadi hijau kembali. Selain memberikan manfaat lingkungan, kawasan ini juga menghasilkan buah-buahan yang bermanfaat bagi masyarakat dan berpotensi menjadi sumber ekonomi baru di masa depan," ujarnya.
Kini harapan baru kembali tumbuh di Rantau Buloh. Di antara deretan pohon yang semakin rimbun, durian-durian unggul yang menjadi tanaman andalan kawasan itu mulai berbunga. Warga berharap, ketika masa panen tiba, hasilnya bukan hanya menambah sumber pangan keluarga, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi desa.
Bahkan, sebagian warga mulai membayangkan Rantau Buloh berkembang menjadi kawasan agrowisata. Pengunjung dapat menikmati suasana pedesaan yang asri, mencicipi buah langsung dari kebun, sekaligus melihat bagaimana sebuah kawasan yang dahulu dipenuhi semak belukar berubah melalui semangat gotong royong masyarakat.
Sore mulai turun di Rantau Buloh. Di antara deretan pohon yang semakin rimbun, beberapa buah jambu tampak menggantung di dahan, sementara pohon-pohon durian yang mulai berbunga menunggu musim panen berikutnya.
Bagi warga Desa Pedalaman, itu sudah lebih dari cukup menjadi alasan untuk terus datang, merawat, dan menjaga kawasan yang mereka bangun bersama sejak dua tahun lalu. (aep mulyanto)