Ponticity post author Kiwi 24 Juni 2026

Ini Alasan Rp17,3 Miliar dari BPJN Kalbar untuk Atasi Jalan Banjir di Mempawah

Photo of Ini Alasan Rp17,3 Miliar dari BPJN Kalbar untuk Atasi Jalan Banjir di Mempawah

PONTIANAK, SP - Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Barat menegaskan bahwa penanganan banjir tahunan di Ruas Jalan Nasional Sei Pinyuh–Sebadu, tepatnya di Desa Galang, Kabupaten Mempawah, dilakukan melalui kajian teknis yang matang dan bukan sekadar proyek peninggian jalan biasa.

Kepala Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Provinsi Kalimantan Barat, Koswari Abizar, menjelaskan bahwa ruas jalan tersebut merupakan jalur strategis yang menghubungkan Kabupaten Mempawah, Bengkayang, Landak hingga Kapuas Hulu serta menjadi urat nadi distribusi barang dan mobilitas masyarakat di wilayah Kalimantan Barat. Selasa, 23 Juni 2026 kepada media ini.

Menurutnya, persoalan utama yang selama ini terjadi adalah banjir tahunan dengan ketinggian mencapai 40 hingga 50 sentimeter yang kerap merendam badan jalan dan menghambat aktivitas masyarakat, khususnya pengguna kendaraan roda dua.

Setiap tahun ruas ini mengalami banjir. Saat air naik, kendaraan terutama sepeda motor kesulitan melintas. Bahkan masyarakat setempat sampai membuat gertak atau jalur darurat agar tetap bisa menyeberang,” ujar Koswari.

Ia menjelaskan bahwa lokasi tersebut berada di kawasan rawa dengan karakteristik tanah lunak (soft soil), sehingga membutuhkan penanganan khusus. Sebelum pekerjaan dilaksanakan, BPJN Kalbar terlebih dahulu melakukan penyelidikan tanah serta berkolaborasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan (BWSK) untuk mengkaji penyebab banjir dan kebutuhan normalisasi saluran air.

Hasil kajian menunjukkan bahwa solusi paling efektif adalah melakukan rekonstruksi dengan metode peninggian badan jalan (raising road) disertai penguatan struktur bawah perkerasan.

Berdasarkan Manual Desain Perkerasan Jalan Nomor 03/M/BM/2024, struktur jalan harus berada minimal 50 sentimeter di atas muka air banjir tertinggi. Karena banjir di lokasi mencapai sekitar 40 sentimeter, maka diperlukan peninggian jalan sekitar 90 sentimeter dengan total tinggi struktur mencapai 143,5 sentimeter atau sekitar 1,4 meter.

Dalam pelaksanaannya, BPJN menggunakan material Lapis Fondasi Agregat (LFA) Kelas C sebanyak 3.274,6 meter kubik sebagai timbunan utama. Material ini dipilih karena lebih stabil dan cepat dipadatkan dibandingkan timbunan tanah biasa yang berisiko menjadi lumpur saat hujan ekstrem.

Kalau menggunakan tanah biasa, pengalaman kami di lokasi lain saat hujan lebat jalan bisa menjadi lumpur, kendaraan tergelincir dan kemacetan panjang terjadi. Karena itu dipilih agregat agar lebih kuat dan aman dilalui,” jelasnya.

Selain itu, struktur jalan juga diperkuat menggunakan LFA Kelas B setebal 15 sentimeter dan LFA Kelas A setebal 20 sentimeter. Pada lapisan permukaan digunakan aspal AC-BC setebal 14,5 sentimeter dan AC-WC setebal 4 sentimeter.

Untuk menjaga kestabilan timbunan pada area rawa, BPJN memasang pasangan batu sebanyak 1.040,5 meter kubik di sisi kiri dan kanan jalan yang diperkuat dengan fondasi cerucuk sedalam 12 meter.

Koswari menegaskan bahwa seluruh desain telah melalui simulasi teknis menggunakan perangkat lunak Plaxis guna memastikan stabilitas konstruksi di atas tanah lunak.

“Hasil analisis menunjukkan penurunan maksimum hanya 7,619 sentimeter. Angka ini masih di bawah batas aman jalan nasional yang ditetapkan maksimal 10 sentimeter,” katanya.

Penanganan banjir pada ruas sepanjang sekitar 575 meter tersebut menelan anggaran sebesar Rp17,3 miliar. Nilai tersebut mencakup seluruh pekerjaan timbunan, perkuatan fondasi, pasangan batu, bahu beton hingga lapisan aspal.

BPJN juga membandingkan bahwa apabila lokasi tersebut ditangani dengan pembangunan jalan layang sepanjang sekitar 500 meter, maka kebutuhan anggaran dapat mencapai sekitar Rp70 miliar atau hampir empat kali lebih besar.

Sementara itu, upaya penanganan banjir tidak hanya dilakukan melalui peninggian jalan. BPJN Kalbar juga berkoordinasi dengan instansi sumber daya air untuk melakukan normalisasi saluran, pembersihan parit serta peningkatan fungsi drainase di sekitar lokasi agar aliran air tetap lancar saat musim hujan.

Secara keseluruhan, proyek rekonstruksi ini dirancang memiliki umur layanan hingga 20 tahun dan diharapkan mampu mengakhiri persoalan banjir tahunan yang selama ini mengganggu akses transportasi pada jalur strategis penghubung antarwilayah tersebut.

Saat ini pekerjaan telah memasuki tahap pengaspalan. BPJN Kalimantan Barat optimistis seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai kontrak dan tuntas pada tahun 2026 sehingga masyarakat dapat menikmati akses jalan yang lebih aman, lancar dan bebas hambatan akibat banjir.(Odie)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda