SEKADAU, SP - Matahari pagi belum terlalu tinggi ketika Dara Sultra menurunkan beberapa karung kerupuk mentah dari sepeda motornya. Karung-karung itu baru saja dibawanya dari Pasar Sekadau menuju rumah sederhana yang ditempatinya di Desa Selalong, Kecamatan Sekadau Hilir.
Bagi sebagian orang, isi karung tersebut mungkin hanya kerupuk mentah biasa. Namun bagi Sultra, di sanalah sumber penghidupan keluarganya bertumpu selama beberapa tahun terakhir.
Setibanya di rumah, ia langsung membuka karung-karung berisi aneka kerupuk berbahan ubi, ikan, udang, dan terigu. Kerupuk itu kemudian ditata rapi di atas terpal yang digelar di halaman rumah untuk dijemur di bawah sinar matahari. Pekerjaan itu telah menjadi bagian dari kesehariannya.
"Kalau cuaca bagus pekerjaan lebih cepat selesai. Tapi kalau hujan kami harus sabar. Kerupuk harus benar-benar kering supaya hasilnya bagus saat digoreng," ujar Sultra.
Menjelang siang, aktivitas berpindah ke dapur sederhana di samping rumah. Sebuah wajan besar berisi minyak panas mulai bekerja.
Kerupuk demi kerupuk dimasukkan ke dalam minyak mendidih. Dalam hitungan detik bentuknya berubah mengembang dan berwarna keemasan. Aroma gurih memenuhi ruangan, sementara suara gemerisik kerupuk yang matang terdengar bersahutan.
Dalam sebulan, Sultra rata-rata melakukan proses penggorengan sebanyak empat kali. Setiap kali produksi, sekitar 50 kilogram kerupuk mentah diolah menjadi kerupuk siap konsumsi.
Jumlah itu terdiri dari 10 kilogram kerupuk udang, 10 kilogram kerupuk ikan, 15 kilogram kerupuk ubi, dan 15 kilogram kerupuk terigu.
Kerupuk ikan dengan harga kulakan Rp70 ribu per kilogram, kerupuk udang Rp75 ribu per kilogram, kerupuk ubi Rp35 ribu per kilogram, dan kerupuk terigu Rp40 ribu per kilogram.
“Keuntungan tetap harus ada. Namanya juga mencari nafkah untuk keluarga. Yang pasti, setiap kilogram dari kerupuk ini, saya mendapatkan lebih dari 15 persen secara keseluruhan. Alhamdulillah,” ujar Sultra seraya tertawa dan mengusap wajah tanda bersyukur.

Meski telah dikenal sebagai produsen kerupuk siap konsumsi, Sultra bukan pembuat kerupuk mentah. Bahan bakunya dibeli dari produsen langganan di Pasar Sekadau, lalu diolah kembali hingga siap dipasarkan.
"Kalau saya bukan pembuat kerupuk mentahnya. Saya beli dari langganan di pasar, kemudian saya olah lagi sampai siap dimakan. Yang penting kualitasnya tetap bagus ketika sampai ke pembeli," ujarnya.
Setelah dingin, kerupuk dikemas ke dalam plastik ukuran setengah kilogram. Harga jualnya bervariasi. Namun pekerjaan Sultra tidak berhenti di dapur.
Sore atau pagi hari berikutnya, ia kembali menyalakan sepeda motor dan mengantar sendiri hasil produksinya ke berbagai warung makan, warung kelontong, hingga warung kopi yang telah menjadi pelanggan tetap.
Rute yang ditempuh tidaklah dekat.
Dari Desa Selalong, Sultra menyusuri jalan menuju wilayah perhuluan Kabupaten Sekadau. Ia mengantarkan kerupuk hingga ke Kecamatan Nanga Taman dan Nanga Mahap, menjangkau pelanggan yang telah bertahun-tahun mempercayai produknya.
"Saya antar sendiri supaya bisa melihat langsung kondisi pelanggan dan memastikan barang sampai dengan baik," katanya.
Peran Sultra dalam usaha tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun sebenarnya ia menjadi mata rantai yang menghubungkan banyak pihak sekaligus.
Dari produsen kerupuk mentah di Pasar Sekadau, proses pengolahan di rumahnya, tenaga pengemasan dari anak-anak muda sekitar, pemilik warung yang menjual kembali produknya, hingga masyarakat yang menikmati kerupuk di meja makan.
Sebelum memiliki usaha sendiri, Sultra pernah menjalani berbagai pekerjaan serabutan. Ia menjadi tukang ojek, menebas rumput di kebun warga, mengantar barang pesanan, hingga menerima pekerjaan apa pun yang bisa menghasilkan uang.
"Waktu itu saya kerja apa saja. Yang penting ada penghasilan untuk keluarga. Kadang ada pekerjaan, kadang tidak ada sama sekali," kenangnya.

Keadaan itulah yang membuatnya berpikir untuk memiliki usaha sendiri.
Kesempatan itu datang pada awal 2023 ketika ia mulai mendapatkan pendampingan dari Mantri BRI yang aktif mendampingi pelaku usaha kecil di wilayah tersebut.
Dari berbagai diskusi dan pendampingan yang diterimanya, Sultra mulai melihat peluang usaha kerupuk yang selama ini dianggap sederhana ternyata memiliki pasar yang terus bergerak.
"Saya pikir usaha ini bisa saya kerjakan sendiri. Modalnya tidak terlalu besar dan kebutuhan masyarakat juga selalu ada," ujarnya.
“Sebelum mendapatkan KUR BRI, saya hanya bisa menggoreng sekitar 35 Kg setiap minggu. Kini, sejak 2023, Alhamdulillah ada kenaikan menkjaddi 50 Kg, pastinya keuntungan juga meningkat,” papar Sultra.
Keputusan yang tampak sederhana itu perlahan mengubah hidupnya.
Kerupuk yang diolahnya mulai dikenal warga. Warung-warung pelanggan bertambah. Penghasilannya menjadi lebih stabil dibanding ketika masih mengandalkan pekerjaan serabutan.
Menariknya, sistem pembayaran yang diterapkan juga cukup sederhana. Barang yang diantar langsung dibayar oleh pemilik warung tanpa sistem utang berkepanjangan.
Seiring perkembangan teknologi, sebagian besar transaksi kini dilakukan secara digital.
"Kalau dulu banyak yang bayar tunai. Sekarang sebagian besar pelanggan transfer. Lebih mudah dan cepat karena uang langsung masuk," ujarnya.
Sebagai nasabah BRI, Sultra mengaku terbantu dengan layanan BRImo yang digunakannya untuk menerima pembayaran sekaligus memantau arus usaha.
Menurutnya, penggunaan transaksi digital juga secara tidak langsung membantu meningkatkan literasi keuangan para pemilik warung di daerah.
"Sekarang banyak pemilik warung yang sudah terbiasa transfer lewat BRImo atau mobile banking. Jadi transaksi lebih praktis. Saya juga bisa langsung mengecek pembayaran tanpa harus menghitung uang tunai satu per satu," katanya.
Lalu, Usaha yang awalnya dikerjakan sendiri pun mulai melibatkan orang-orang di sekitarnya.
Salah satunya Maharani, siswi SMA yang tinggal tidak jauh dari rumah Sultra.
Sepulang sekolah, Maharani bersama beberapa rekannya sering membantu mengemas kerupuk sebelum dipasarkan.
Mereka menimbang isi kemasan, menyusun kerupuk ke dalam plastik, lalu merekatkan kemasan satu per satu.
"Kalau sudah pulang sekolah kami sering membantu di sini. Lumayan untuk menambah uang jajan dan pengalaman juga," kata Maharani.

Bagi Sultra, kehadiran anak-anak muda itu memberi warna tersendiri.
"Saya dulu juga pernah susah mencari pekerjaan. Jadi kalau ada anak-anak yang mau membantu sambil menambah uang jajan, saya senang. Setidaknya mereka punya kegiatan yang positif," ujarnya.
Dari rumah sederhana itu, kerupuk kemudian bergerak menuju warung-warung pelanggan.
Salah seorang yang merasakan langsung hasil kerja Sultra adalah Atika, pemilik warung di Desa Selalong. Menurut Atika, kerupuk milik Sultra memiliki pelanggan tersendiri.
"Kalau kerupuk Pak Sultra memang banyak yang cari. Biasanya tidak lama sudah habis. Warga suka karena rasanya enak dan renyah," katanya.
Ia juga menilai Sultra termasuk pemasok yang konsisten menjaga kualitas.
"Beliau rajin mengantar dan kualitasnya selalu dijaga. Kami senang menjualnya karena pembeli juga suka. Kalau barang cepat laku, kami sama-sama terbantu," ujarnya.
Bagi Sultra, menjaga kualitas adalah hal yang tidak bisa ditawar.
"Sekali pembeli kecewa, mereka bisa tidak kembali lagi. Jadi saya selalu berusaha menjaga kualitas dan rasa supaya pelanggan tetap percaya," katanya.
Menjelang sore, kesibukan di rumah Sultra perlahan mereda. Kerupuk yang sejak pagi dijemur dan digoreng kini telah tersusun rapi dalam kemasan. Maharani dan teman-temannya sudah pulang. Warung-warung pelanggan mulai bersiap menerima kiriman untuk dijual keesokan hari.
Sebelum menutup pintu gudang kecil di samping rumahnya, Sultra memandang tumpukan kerupuk yang siap diantar.
"Selama masih ada tenaga, saya akan terus kerja. Rezeki itu tidak datang sendiri. Kita harus menjemputnya," ujarnya.
Besok pagi ia akan kembali ke Pasar Sekadau, memilih kerupuk mentah dari para pemasok langganannya, membawanya pulang, lalu mengulang pekerjaan yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
Pekerjaan yang tampak sederhana, tetapi telah membawanya melewati masa-masa sulit, menghidupi keluarga, membantu anak-anak sekolah memperoleh tambahan penghasilan, menggerakkan warung-warung kecil di perhuluan Sekadau, hingga mengantar anaknya menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Dari selembar kerupuk yang renyah, Sultra merajut rantai kehidupan yang menghubungkan banyak orang.
Ternyata, meningkatnya permintaan sempat menjadi tantangan tersendiri. Ia kesulitan menambah stok bahan baku karena keterbatasan modal usaha.
Kesempatan berkembang mulai terbuka ketika ia memperoleh akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.
“Ada mantri KUR BRI yang sudah akrab, membantu seluruh prosesnya. Alhamdulillah, saya mendapatkan tambahan modal usaha,” ujar Sultra.
Tambahan modal tersebut memberinya ruang untuk bergerak lebih leluasa. Bahan baku dapat dibeli lebih banyak, kapasitas produksi meningkat, dan permintaan pelanggan dapat dipenuhi dengan lebih baik. Produksinya kini meningkat sekitar 25 persen dibanding sebelumnya.
"Yang paling terasa sekarang usaha lebih lancar. Bisa beli stok lebih banyak dan memenuhi permintaan pelanggan," katanya.
Bagi Sultra sendiri, keberhasilan terbesar bukanlah bertambahnya jumlah produksi atau semakin luasnya wilayah pemasaran.
Yang paling membanggakan adalah ketika hasil usahanya mampu membantu membiayai pendidikan anak hingga menempuh kuliah di Universitas Tanjungpura.
Saat mengenang hal itu, senyum tipis tampak mengembang di wajahnya.
"Saya dulu tidak pernah membayangkan anak bisa kuliah. Yang penting sekolah dulu dan jangan sampai putus. Ternyata dari hasil usaha ini, pelan-pelan bisa sampai ke perguruan tinggi," katanya.
Perjalanan usaha Sultra memang tidak lepas dari pendampingan Mantri BRI Sekadau, Arifin Zulham. Menurut Arifin, pelaku usaha kecil seperti Sultra membutuhkan lebih dari sekadar modal.
"Kami terus mendampingi UMKM agar bisa tumbuh dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Pak Sultra termasuk sosok yang ulet, tekun, dan mau belajar. Itu yang membuat usahanya bisa berkembang sampai sekarang," kata Arifin.
Ia menjelaskan bahwa BRI sebagai salah satu Bank Himbara memiliki kewajiban bersama-sama UMKM membangun sistem perekonomian, khususnya UMKM, agar terus bergerak menuju kesejahteraan bersama. (aep mulyanto)