KETAPANG, SP - Masyarakat Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, meminta agar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah mereka tetap beroperasi demi memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat.
Namun, warga menegaskan bahwa manajemen lama yang saat ini masih bermasalah sebaiknya diganti agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih baik.
Perwakilan warga Sungai Laur, Deni Santoso, mengatakan penutupan SPBU selama kurang lebih satu bulan telah memberikan dampak besar bagi masyarakat.
Kelangkaan BBM subsidi menyebabkan aktivitas pertanian, perikanan, transportasi, hingga usaha kecil mengalami kesulitan akibat terbatasnya pasokan bahan bakar.
"Kami meminta SPBU tetap dibuka karena masyarakat sangat membutuhkan BBM. Tetapi manajemen yang lama sebaiknya diganti karena masih bermasalah. Kasihan masyarakat yang selama ini terdampak akibat penutupan SPBU," kata Deni Santoso, Selasa (23/6/2026).
Menurut Deni, kebutuhan BBM subsidi di Sungai Laur sangat tinggi karena sebagian besar masyarakat bergantung pada bahan bakar tersebut untuk menjalankan aktivitas sehari-hari dan kegiatan ekonomi.
Karena itu, warga berharap Pertamina dapat mengambil langkah yang tepat agar distribusi BBM subsidi tetap berjalan tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat.
"Kami mendukung proses hukum yang sedang berjalan. Jika memang ada pihak yang terbukti melakukan pelanggaran, silakan diproses sesuai aturan. Namun pelayanan kepada masyarakat jangan sampai terhenti. BBM subsidi harus tetap tersedia bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan," ujarnya.
Warga berharap Pertamina dapat segera mengambil keputusan terbaik dengan memastikan pasokan BBM subsidi kembali normal, sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan SPBU agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
"Kami hanya ingin masyarakat bisa mendapatkan BBM dengan mudah seperti sebelumnya. SPBU harus tetap beroperasi untuk melayani masyarakat, tetapi pengelola yang bermasalah sebaiknya diganti agar kepercayaan masyarakat kembali pulih," kata Deni.
Sebelumnya, sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kecamatan Sungai Laur juga telah mendesak PT Pertamina Patra Niaga untuk segera menyiapkan mekanisme distribusi BBM subsidi yang efektif dan tepat sasaran. Kelangkaan BBM yang berlangsung selama sekitar satu bulan dinilai telah berdampak luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Menanggapi aspirasi tersebut, Sales Area Manager (SAM) Pertamina Patra Niaga Kalimantan Barat, Widi Tri Adhi, mengatakan pihaknya siap menindaklanjuti dan mempertimbangkan berbagai masukan yang disampaikan masyarakat maupun organisasi kemasyarakatan.
"Aspirasi yang disampaikan tentu akan kami pertimbangkan. Kami juga memerlukan dukungan pemerintah daerah agar masyarakat Sungai Laur dapat memperoleh BBM sesuai kebutuhannya," kata Widi.
Menurut Widi, saat ini Pertamina masih melakukan audit operasional dan administrasi terhadap SPBU yang sebelumnya dihentikan sementara. Audit tersebut dilakukan untuk memastikan operasional SPBU dapat berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.
Ia menambahkan, selama proses audit berlangsung, Pertamina tetap berupaya menjaga pasokan energi di wilayah tersebut dengan menyalurkan BBM non-subsidi.
"Untuk sementara, BBM yang kami salurkan adalah BBM non-subsidi. Namun aspirasi yang disampaikan masyarakat dan berbagai pihak menjadi perhatian kami dengan tetap mempertimbangkan aturan yang berlaku," ujarnya.
Sebelumnya, SPBU di Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, kembali beroperasi dengan alasan untuk melayani kebutuhan masyarakat. Meski begitu, kasus dugaan penyimpangan distribusi BBM subsidi yang melibatkan SPBU ini, masih terus diselidiki.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun mengatakan, Pertamina masih menunggu hasil investigasi dan proses klarifikasi terhadap seluruh pihak yang diduga terkait.
Meski demikian, Pertamina memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas. Karena itu, operasional SPBU Laur kembali dijalankan guna menjamin ketersediaan BBM bagi warga di wilayah tersebut.
"Untuk pelayanan ke masyarakat, untuk produk jenis bahan bakar umum dilakukan kembali. SPBU kembali beroperasi untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan wilayah tersebut," kata Edi saat dikonfirmasi, Kamis (11/6/2026).
Seperti diketahui, Kasus yang menyeret nama PT Putera Petro Borneo itu kini masih didalami oleh aparat penegak hukum maupun tim internal Pertamina.
Seperti diketahui, kasus itu viral setelah muncul video yang memperlihatkan dugaan pemindahan solar subsidi dari mobil tangki distribusi BBM ke tangki milik perusahaan tersebut. Diketahui solar subsidi tersebut untuk pemenuhan permintaan SPBU Laur. (*)