PONTIANAK, SP – Pelepah-pelepah lidah buaya berukuran raksasa berderet memenuhi kebun di Gang Bentasan, Jalan Kebangkitan Nasional, Siantan Hulu, Pontianak Utara.
Pagi itu, beberapa petani tampak sibuk memanen daun yang telah cukup umur, membersihkan gulma, dan mengangkut hasil panen ke bangsal penyimpanan.
Di antara mereka, Tjhin Djie Sen berjalan menyusuri kebun yang telah puluhan tahun menjadi bagian hidupnya. Hamparan hijau yang tersisa itu mungkin tak lagi seluas dulu, tetapi di situlah jejak kejayaan lidah buaya Pontianak masih bertahan.
Bagi masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar), lidah buaya bukan sekadar tanaman. Ia adalah identitas. Nama Pontianak pernah dikenal luas berkat aloe vera berukuran jumbo yang tumbuh subur di tanah gambut kawasan utara kota.
Kini, warisan itu dijaga Kelompok Tani Bentasan yang dipimpin Tjhin Djie Sen. Bersama 14 anggota, mereka masih merawat sekitar 8.000 batang lidah buaya dan pepaya dengan produksi mencapai sekitar 2,5 ton pelepah segar setiap bulan.
"Kalau dulu kawasan ini hampir semuanya lidah buaya. Sekarang sudah banyak berubah. Tetapi kami tetap berusaha mempertahankannya karena ini sudah menjadi bagian dari sejarah Pontianak," ujar Tjhin, kepada Suara Pemred, Jumat, 18 Juni 2026.
Ingatan lelaki itu melayang ke awal tahun 2000-an, ketika lidah buaya Pontianak berada di masa keemasan. Permintaan pasar begitu tinggi. Dalam sepekan, dua kontainer pelepah segar bisa dikirim ke Malaysia dan berbagai daerah lainnya.
"Dulu hampir semua petani di sini menanam aloe vera. Satu orang bisa punya lahan sampai belasan hektare," kenangnya.
Namun waktu perlahan mengubah wajah Bentasan. Lahan pertanian menyusut, sebagian petani beralih ke komoditas lain, dan kebun-kebun lidah buaya pun semakin berkurang.
Kini, semangat menjaga warisan itu masih terlihat pada Suryadi atau yang akrab disapa Ahiong. Tangannya yang mulai menua tetap cekatan memotong pelepah-pelepah besar dari sela tanaman.
Sebagai anggota Poktan Bentasan yang diketuai oleh Tjhin Djie Sen, yang akrab dipanggil Pak We, Ahiong menjadi saksi hidup pasang surut kejayaan lidah buaya Pontianak.
"Dulu kalau panen rasanya semangat sekali karena barang langsung dicari pembeli. Sekarang memang tidak seperti dulu lagi, tetapi saya masih yakin tanaman ini punya masa depan," ujarnya.

Menurut Ahiong, kualitas lidah buaya Pontianak masih menjadi keunggulan yang sulit ditandingi daerah lain.
"Pelepahnya besar, tebal, dagingnya banyak. Itu yang membuat orang selalu ingat lidah buaya Pontianak," katanya.
Untuk menghasilkan pelepah berkualitas, para petani memiliki teknik budidaya tersendiri yang diwariskan turun-temurun. Mereka menggunakan campuran abu somel dan abu sabut kelapa sebagai pupuk alami. Saat musim panas, ujung pelepah dipotong agar pertumbuhan daun lebih tebal.
"Kalau cara perawatannya salah, pelepah tidak bisa besar. Ada ilmunya sendiri," kata Ahiong.
Meski panen masih rutin dilakukan setiap pekan, tantangan ekonomi semakin berat. Harga pelepah segar saat ini hanya berkisar Rp1.500 hingga Rp2.000 per kilogram, nyaris tak berubah dalam belasan tahun terakhir.
Kondisi itu juga dirasakan Ahiong, saat ditemui di bangsal penyimpanan, ia tengah mendorong gerobak berisi hasil panen yang baru dipotong.
"Harga sekarang hampir sama seperti belasan tahun lalu. Sementara biaya bertani terus naik. Makanya banyak petani beralih ke sayur atau buah," ujarnya.
Meski demikian, para petani memilih bertahan. Mereka sadar, jika seluruh petani meninggalkan lidah buaya, maka salah satu identitas Pontianak akan ikut menghilang.
Karena itu, sebagian hasil panen kini diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Di salah satu rumah produksi sederhana, Ayu Setianingsih tampak sibuk mengolah lidah buaya menjadi minuman, manisan, kerupuk, hingga aneka makanan ringan.
"Bahan bakunya banyak saya ambil dari petani di Bentasan. Kalau kualitas pelepahnya bagus, hasil olahannya juga bagus," katanya.
Menurut Ayu, tekstur daging lidah buaya Pontianak yang tebal dan renyah menjadi keunggulan tersendiri yang disukai konsumen.
Keunikan itu pula yang menarik perhatian wisatawan. Susilawati, pelancong asal Jakarta, mengaku selalu menyempatkan diri mencari produk lidah buaya setiap kali berkunjung ke Kota Khatulistiwa.
"Saya kira ukurannya biasa saja. Ternyata besar sekali. Saya sampai kaget waktu melihat langsung di kebun," katanya, saat ditemui Suara Pemred, di pusat oleh-oleh PSP Pontianak, di kawasan Stadion Sepakbola Kebun Sajoek, Sabtu, 20 Juni 2026.
Di tengah berbagai tantangan, harapan para petani juga datang dari akses permodalan. Beilliam pernah memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp25 juta untuk mendukung usaha taninya.
"Sangat membantu untuk membeli peralatan dan kebutuhan usaha tani. Sekarang sudah lunas," ujarnya.
Pendampingan tersebut dilakukan Mantri BRI Unit Siantan, Sulaiman Sahri. Menurutnya, para petani lidah buaya tidak hanya menjalankan usaha pertanian, tetapi juga menjaga komoditas khas daerah agar tetap hidup.
Karena itu, dukungan juga terus diberikan Pemerintah Kota Pontianak melalui UPT Agribisnis yang membawahi kawasan Aloe Vera Center. Kepala UPT Agribisnis, Utari Ismawati, S.P., mengatakan lidah buaya masih menjadi salah satu identitas pertanian Kota Pontianak yang harus dipertahankan.
"Lidah buaya bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai sejarah dan identitas daerah. Karena itu kami terus melakukan pembinaan, promosi, dan mendorong pengembangan produk olahan agar komoditas ini tetap memiliki masa depan," ujarnya.
Menurut Utari, para petani yang masih bertahan sesungguhnya sedang menjaga warisan yang telah melekat kuat pada nama Pontianak selama puluhan tahun.
“Kami salut dengan tetap memberikan pedampingan kepada para petani Bentasan yang masih setia merawat tanaman yang pernah mengharumkan nama Pontianak ini. Beberapa upaya kami perkuat, misalnya dengan menggelar event-event promosi, sehingga lidag buaya bisa kembali laris manis di pasaran dunia,” papar Utari. (aep mulyanto)