PONTIANAK, SP – Universitas Tanjungpura (Untan) kembali menunjukkan eksistensinya di kancah internasional. Direktur Pascasarjana Untan Nurmainah, mendapat kehormatan menyampaikan pidato pada seremoni penutupan seminar internasional kebijakan pendidikan yang diselenggarakan oleh East China Normal University (ECNU), Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok.
Forum internasional tersebut mempertemukan peserta dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Barbados, Botswana, Kamboja, Ethiopia, Fiji, Gambia, Kenya, dan Sierra Leone. Kegiatan berlangsung selama tiga minggu dengan membahas beragam isu strategis pendidikan global, mulai dari perencanaan kebijakan pendidikan, tata kelola dan penjaminan mutu, hingga inovasi pembelajaran berbasis teknologi.
Seremoni penutupan diawali dengan sambutan Associate Dean of the Graduate School ECNU, Prof. Yang Fuyi. Ia menegaskan bahwa seminar tersebut menjadi wadah penting untuk memperkuat kerja sama pendidikan internasional sekaligus mempererat hubungan persahabatan antarnegara peserta.
Menurutnya, berbagai materi yang diberikan para profesor dan pakar pendidikan selama kegiatan berlangsung diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi peserta dalam mengembangkan sistem pendidikan di negara masing-masing.
Sementara itu, Director of the International Center for Teacher Education ECNU, Prof. Peng Liping, menekankan bahwa pendidikan memiliki peran vital dalam pembangunan ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, dan teknologi suatu negara.
Ia mengutip pernyataan mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki-Moon, yang menyebut negara maju sangat bergantung pada tenaga kerja yang terampil dan terdidik.
“Tanpa dukungan pendidikan, pembangunan suatu negara akan sulit berlangsung secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nurmainah menyampaikan apresiasi kepada East China Normal University atas kesempatan yang diberikan kepada dirinya untuk mengikuti sekaligus berpartisipasi aktif dalam forum akademik internasional tersebut.
Ia menilai seminar tersebut memberikan banyak wawasan baru, terutama terkait perkembangan kebijakan pendidikan Tiongkok yang dinilai berhasil mengintegrasikan teknologi ke dalam sistem pembelajaran.
Salah satu topik yang paling menarik perhatian peserta, menurut Nurmainah, adalah penerapan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), robotika, dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam sistem pendidikan Tiongkok.
“Selama mengikuti seminar ini, kami memperoleh pemahaman yang sangat mendalam mengenai bagaimana STEM, robotika, dan kecerdasan buatan diintegrasikan dalam proses pendidikan. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk pengembangan pendidikan di Indonesia,” ungkapnya.
Dalam pidatonya, Nurmainah menegaskan bahwa perguruan tinggi, khususnya program pascasarjana, memiliki peran strategis dalam mendorong pengembangan STEM, robotika, dan AI di dunia pendidikan.
Menurutnya, program pascasarjana tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian, tetapi juga berfungsi sebagai motor penggerak inovasi pendidikan yang mampu menghasilkan model pembelajaran dan kebijakan berbasis riset.
Ia menjelaskan, penguatan kapasitas akademik, penelitian interdisipliner, serta kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah, dan dunia industri menjadi langkah penting dalam mempercepat transformasi pendidikan berbasis teknologi.
“Melalui penerapan robotika dan kecerdasan buatan di dalam kurikulum pendidikan, kita tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah yang kompleks, serta literasi digital yang sangat dibutuhkan oleh generasi masa depan,” tegas Nurmainah.
Ia berharap pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti seminar di Shanghai dapat menjadi referensi bagi pengembangan pendidikan di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat.
Menurutnya, transformasi pendidikan berbasis teknologi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari di tengah perkembangan dunia digital yang semakin cepat.
Lebih jauh, Nurmainah juga menyoroti pentingnya kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Tiongkok. Ia menilai kemitraan kedua negara memiliki peluang besar untuk memperkuat kolaborasi akademik, pertukaran budaya, hingga pengembangan riset bersama yang bermanfaat bagi kemajuan pendidikan.
“Kerja sama pendidikan antara Tiongkok dan Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat kapasitas pendidikan sekaligus mempercepat adaptasi terhadap perkembangan teknologi global,” katanya.
Pada kesempatan itu, Nurmainah turut menyampaikan penghargaan kepada seluruh narasumber, panitia penyelenggara, serta Kementerian Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok yang telah mendukung terselenggaranya seminar internasional tersebut.
Menutup pidatonya, ia mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga komunikasi dan memperkuat jejaring kerja sama yang telah terbangun selama kegiatan berlangsung.
Kehadiran Direktur Pascasarjana Untan dalam forum internasional tersebut menjadi bagian dari upaya Universitas Tanjungpura memperluas jejaring global sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi di Kalbar dalam percaturan pendidikan internasional.
Dengan membawa isu STEM, robotika, dan kecerdasan buatan ke forum dunia, Untan menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi pendidikan menuju era digital yang lebih inovatif dan berdaya saing.(din)