Opini post author Kiwi 26 Juni 2026

Intelijen Nippon Perintisan Awal Peristiwa Nahas di Pontianak

Photo of Intelijen Nippon Perintisan Awal Peristiwa Nahas di Pontianak

Oleh: Syafaruddin Daeng Usman / Pemerhati Sejarah Kalimantan Barat

SEJAK Perang Dunia Pertama 1914-1918, sejatinya sejumlah orang Jepang telah datang ke sejumlah daerah di Kalimantan Barat. Mereka sebagai pelaku usaha, antara lain membuka beberapa perusahaan dan bergiat dalam aktivitas perdagangan.

Adalah Fukuyama yang terkenal dengan Fuku Company, bergerak dalam bidang perkayuan dan usaha pengolahan karet. Itu merupakan salah satu perusahaan yang cukup besar dan terbilang maju pada waktu itu.

Dalam perkembangan waktu, hubungannya dengan orang-orang Jepang lainnya yang tersebar di berbagai daerah terpencil di Kalimantan Barat ini selalu dipelihara. Malahan dengan orang-orang Jepang yang menetap di Serawak, Sabah, dan Sandakan di Kalimantan Utara.

Belakangan diketahui mereka ini senantiasa bertukar informasi tentang situasi dan kondisi dari masing-masing daerah, baik menyangkut soal perdagangan dan perekonomian, malahan lebih dari itu, mereka ini pun ada di antaranya yang bergerak dalam bidang spionase.

Demikian juga apa yang telah dijalankan Nakahara Fuji Company yang rutinitas sehari-harinya bergerak dalam lapangan perdagangan kelontong dan barang pecah-belah. Begitupun perusahaan karet onderneming di Seranjin Sanggau, adalah perusahaan yang besar yang dikelola oleh Nomura Trading Company, serupa yang sebelumnya telah lama ada di Sebebat Ngabang Landak.

Tersebut tentang seorang orang Jepang bernama Honda. Dia ini mengusahakan toko potret, atau studio foto, sekaligus bertindak sebagai photografer. Ia bergerak dengan leluasa ke seluruh penjuru kota Pontianak. Bahkan dia leluasa keluar masuk pedalaman untuk melakukan pemotretan.

Ia membuka cabang studio fotonya di Singkawang, Pemangkat, Sambas dan Ngabang. Boleh jadi ini adalah tempat-tempat yang diperkirakannya cukup penting dan strategis buat usaha fotonya.

Konon kabar kemudiannya, dan sudah barang tentu semua foto yang dihasilkannya itu dikirim ke Tokyo sebagai bahan yang dapat dipergunakan, apabila pecah perang Asia Timur Raya, selaras dengan selera mereka untuk mendominir daerah Kalimantan Barat ini.

Adapun perusahaan kayu yang terbesar waktu itu adalah milik Sumitomo Kabushiki Kaisya, SKK, yang perwakilannya ditempatkan di daerah ini dipimpin oleh Nagaishi. Dia ini dipandang sebagai sosok yang cukup cerdas dan pandai bergaul dengan semua lapisan masyarakat.

Disebutkan dia memiliki intelegensia yang tinggi. Kontak pribadi sering dilakukannya, baik dengan pegawai Belanda, Arab, Cina dan dengan golongan pemerintah otonom lokal kesultanan dan kerajaan di Kalimantan Barat.

Rezim pemerintah fasis militer Jepang berusaha memberikan umpan balik, konon berupa berpuluh orang gadis Jepang yang sengaja dijadikan pekerja seks komersial, terutama di daerah Pontianak dan Singkawang.

Tetapi sejatinya hakekat yang terkandung di dalamnya itu ialah suatu sarana penjajakan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang kelak diharapkan menjadi suatu kenyataan.

Gadis-gadis ini mereka datangkan dari sebelah utara Kalimantan, yaitu dari Sandakan, Sabah dan Serawak. Untuk daerah Pontianak, para perempuan ini berlokasi di Kampung Bali [Jalan Sisingamangaraja]. Mereka ditempatkan dalam rumah-rumah petak. Sedangkan di Singkawang lokasinya di Pasar Tengah dan Kebun Sayur bercampur-baur dengan oknum gadis lokal.

Diketahui belakangan, ada beberapa gadis Jepang yang diambil dan dipelihara sebagai wanita simpanan oleh oknum golongan tertentu di Singkawang, Pemangkat dan Pontianak.

Begitu intimnya pergaulan orang Jepang dengan kalangan pejabat, pegawai dan pengusaha, baik dari golongan Eropa, Cina maupun bumiputera, sehingga jarang timbul rasa curiga mencurigai.

Kesempatan inilah mereka pergunakan dengan secermat-cermatnya, untuk mengorek sesuatu yang mereka perlukan, yang pada gilirannya nanti habis "disembelih" balatentara fasis Jepang.

Kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan meliputi semua bidang, politik, ekonomi dan spionase, yang sedikitpun tidak pernah mencurigakan pihak Belanda yang sementara itu masih berkuasa "di ujung tanduk" di Hindia Belanda.

Sejak 8 Desember 1941, tatkala balatentara Jepang menyerang Pearl Harbor, konon kabarnya seluruh orang Jepang yang ada di Kalimantan Barat telah menghilang. Satu persatu mereka pergi meninggalkan daerah ini. Seakan mereka mengetahui, sesungguhnya memang demikian, bahwa dalam beberapa hari lagi Kalimantan Barat akan diserang.

Pada 19 Desember, Jumat pukul 11 siang, kota Pontianak dan sekitarnya, telah diserang oleh sembilan pesawat tempur dan pembom Jepang. Pemboman yang dilakukan secara brutal itu, sebenarnya tidak menemui sasaran yang direncanakan.

Konon, bom dan tembakan gencar senapan mesin lebih banyak berjatuhan dan tertuju pada tempat perkampungan orang Tionghoa, bangunan sekolah yang terletak di Kampung Bali, kawasan jalan Toapekong [Jalan Gajah Mada] dan Parit Besar [Jalan Diponegoro], di mana banyak orang Tionghoa bermukim sebagai penduduk di kawasan ini.

Akibat serangan bom yang tiba-tiba itu, banyak sekali rumah penduduk hancur berantakan dan terbakar. Sementara bangunan militer, tangsi dan tempat tinggal orang-orang Belanda, terhindar dari sasaran. Serangan lain diarahkan pula pada poliklinik, gedung pertemuan dan sekolah dagang.

Ledakan bom dan suara pesawat yang terbang rendah, memuntahkan peluru mitraliur ke seluruh kota Pontianak membuat rakyat dan pemerintah Belanda panik.

Residen West Borneo Dr van der Zwaal dan Komandan Militer Overste Vasqua sama sekali tidak berusaha untuk melakukan perlawanan. Kabarnya bukan saja karena bom-bom itu merupakan kejutan bagi mereka, melainkan juga tidak terdapat pesawat penangkis serangan udara dari pihak militer Belanda.

Kepanikan terjadi di mana-mana. Para penduduk berlarian ke sana-kemari, tak tentu apa yang harus mereka buat.

Di mana-mana maut mengintai. Korban-korban berjatuhan, bergelimpangan di mana saja, di jalan, di parit, di sungai dan di sekolah serta toapekong. Mayat manusia berserak-serakan. Kebakaran yang terjadi akibat serangan bom dan senapan mesin sudah tidak ada yang memperdulikan.

Suara tangis dan lengkingan yang panjang sangat menyayat hati dan perasaan. Semua bagaikan raungan di padang pasir yang panjang dan tandus. Tidak ada yang memperhatikan. Tidak ada yang peduli. Karena masing-masing berusaha mengurus diri dan keluarga untuk mencari selamat.

Hari itu kota Pontianak bagaikan sebuah "negeri padang tekukur". Mayat yang bergelimpangan sudah tidak utuh lagi. Sobekan daging, patahan tulang, darah dan isi perut berceceran sepanjang jalan yang terkena serangan. Bau busuk dan amis daging manusia terbakar menjadi satu, menusuk dan menyesakkan napas.

Sudah barang tentu tidak mudah untuk diketahui berapa jumlah korban manusia yang meninggal. Malahan orang tidak sempat dan bahkan tidak mampu untuk menghitungnya.
Ini karena sebagian besar para korban sudah rusak, tidak utuh lagi wujud fisiknya, sehingga sukar untuk mengenal identitasnya. Tetapi belakangan kemudian, menurut orang tertentu yang menyaksikan peristiwa itu, dengan berspekulasi menyebutkan korban sejumlah lebih kurang 2500 orang. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda