Opini post author Kiwi 13 Juli 2026

Menjemput Prestasi atau Sekedar Partisipasi, Otopsi Menyeluruh Olahraga Kalbar

Photo of Menjemput Prestasi atau Sekedar Partisipasi, Otopsi Menyeluruh Olahraga Kalbar

Oleh: Mei Purwowidodo / Tokoh Olahraga Kalbar

PERNAH berada di dalam lingkaran ekosistem Olahraga Kalimantan Barat selama bertahun-tahun, mulai dari mengelola klub GASS TEAM (balap sepeda), memimpin Pengcab ISSI Kota Pontianak, menakhodai KONI Kota Pontianak, hingga menjadi Wakil Ketua I di KONI Provinsi.

Posisi yang memberikan saya kemewahan sekaligus beban emosional untuk melihat realitas dari dekat.

Kemewahannya adalah melihat gairah membara para atlet di lapangan. Bebannya? Menyaksikan betapa masifnya dinding penghalang yang membuat olahraga prestasi di Bumi Khatulistiwa seperti berjalan di tempat.

Kita harus jujur pada diri sendiri: dalam lanskap olahraga nasional, Kalbar seringkali baru sebatas penggembira. Kita datang ke Pekan Olahraga Nasional (PON) dengan membawa bendera partisipasi, lalu pulang sambil berdoa ada keajaiban medali yang bisa dipetik.

Jika beruntung membawa pulang emas, kita bersorak seolah sistem pembinaan kita sudah benar.

Padahal, kita tahu persis, itu sering kali bukan hasil dari sebuah sistem yang presisi, melainkan "anomali" atau kebetulan yang lahir dari bakat alam yang dikawal secara spartan.

Fakta di Lapangan: Prestasi yang "Kebetulan"

Memang ada cabang olahraga (cabor) yang konsisten menyumbang kebanggaan.

Seperti Tarung Derajat, Anggar,Hapkido, Panjat Tebing, Biliar, dan Atletik adalah sedikit dari yang bisa dihitung dengan jari tangan.

Namun, mari kita bedah secara realistik: apakah mereka lahir dari mesin pembibitan yang terstruktur dari hulu ke hilir?

Jawabannya: tidak sepenuhnya. Sebagian besar prosesnya didapat secara kebetulan.

Kita menemukan intan mentah di jalanan, lalu mengasahnya dengan fasilitas seadanya.

Kita belum memiliki pabrikasi atlet yang sistematis, di mana anak-anak disaring sejak usia dini, dibina dengan sport science, hingga mencapai puncak prestasi di PON.

Mengapa membangun prestasi olahraga di Kalbar begitu sulit? Paling tidak, ada enam critical error yang harus kita evaluasi bersama:

1. Masa Depan Atlet yang Remang-Remang Menjadi atlet di Kalbar belum bisa sepenuhnya dijadikan sandaran hidup atau profesi menjanjikan. Ketika masa depan materi tidak terjamin, jangan salahkan jika talenta terbaik kita mundur teratur saat memasuki usia produktif.

2. Olahraga Sekadar Ruang Tunggu Akibat poin pertama, menjadi atlet akhirnya cuma dianggap sekadar hobi. Aktivitas pengisi waktu luang dari masa sekolah hingga usia kerja. Begitu dunia kerja memanggil, sepatu olahraga digantung.

3. Kurikulum Sekolah yang "Kikir" Jam Olahraga Sistem pendidikan kita belum bersinergi dengan industri olahraga. Jam olahraga di sekolah sangat minim. Sekolah olahraga belum menjadi arus utama, sehingga bakat-bakat motorik anak-anak kita terlambat diidentifikasi.

4. Infrastruktur yang Timpang Fasilitas olahraga di Kalbar tidak hanya minim, tapi juga belum merata. Bagaimana mungkin kita menuntut medali emas jika sarana latihan atlet kita tertinggal sekian dekade dibanding provinsi di Pulau Jawa?

5. Krisis Pelatih Profesional Kita kekurangan pelatih yang menjadikan ini sebagai profesi utama. Mayoritas adalah pelatih paruh waktu yang bergerak atas dasar cinta dan hobi. Padahal, atlet hebat hanya lahir dari pelatih yang jenius dan fokus.

6. Anggaran Pembinaan: Antara Ada dan Tiada Ini adalah hulu dari segala masalah. Minimnya alokasi dana untuk pembinaan cabor, terutama untuk memutar kompetisi secara rutin dan berjenjang. Tanpa kompetisi, latihan sekeras apa pun hanyalah simulasi tanpa muara.

Menolak Pasrah: Kalbar Bisa Mengejar

Jika daftar masalah di atas diperpanjang, kita mungkin akan terjebak dalam pesimisme. Namun, sebagai orang yang membesarkan dan dibesarkan oleh olahraga, kita menolak untuk menyerah.

Apakah Kalbar bisa mengejar ketinggalan dari provinsi lain? Jawabannya dengan tegas: Pasti Bisa.

Syaratnya tunggal: Kita butuh sebuah Gerakan Bersama. Olahraga prestasi tidak bisa lagi dianggap sebagai urusan sampingan atau sekadar suplemen hiburan daerah.

Olahraga adalah prestise, harga diri daerah, dan indikator kemajuan sebuah bangsa.

Kita membutuhkan komitmen total dari seluruh stakeholder. Pihak Eksekutif (Gubernur, Walikota, Bupati, dan jajaran dinas terkait) harus berani merumuskan Grand Design Olahraga Daerah yang revolusioner.

Di sisi lain, Legislatif harus memberikan dukungan politik anggaran yang berpihak pada masa depan generasi muda Kalbar melalui olahraga.
Uang bukan segalanya, tapi tanpa anggaran yang rasional, kompetisi rutin dan berjenjang dari tingkat desa hingga provinsi hanya akan jadi riak di atas kertas. Kita butuh jaminan masa depan bagi atlet berprestasi, kita butuh standardisasi fasilitas, dan kita butuh regenerasi pelatih.

Tembok pembatas itu tinggi, tapi kapabilitas kita jauh lebih besar untuk meruntuhkannya. Sekarang, bola panas itu ada di tangan kita semua: para pemangku kebijakan, pengurus cabor, pengusaha, hingga masyarakat luas.

Pertanyaan reflektifnya bukan lagi tentang "bagaimana caranya", karena cetak birunya sudah jelas. Pertanyaannya adalah: Tinggal adakah kemauan bersama itu? Dan apakah kita siap untuk memulainya sekarang? Salam olah raga...Jaya..!! (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda