Opini post author Kiwi 15 Juli 2026

Rahadi dan Oetari, Inmemorium Rahadi Osman

Photo of Rahadi dan Oetari, Inmemorium Rahadi Osman

Oleh: Syafaruddin DaEng Usman

Hari sudah senja, kereta terakhir menuju ujung timur Pulau Jawa sudah siap diberangkatkan. Senja itu adalah senja di stasiun kereta Jatinegara. Kepala stasiun sudah memegang tanda pemberangkatan. Dan bunyi isyarat keberangkatan sudah terdengar.

Seorang lelaki muda, layaknya seorang perwira muda, berkacamata tebal berpakaian siap tempur, dengan ransel di punggung, pistol di pinggang, dan senjata laras panjang di punggung. Lelaki muda ini berdiri di peron bersama seorang gadis.

Mereka, keduanya, saling memandang, seakan-akan sukar melepaskan diri dari tatapan  masing-masing. Dengan meletakkan kedua lengan di atas bahu, gadis itu memandangnya dengan tatapan mata yang amat dalam. Seolah-olah menembus hati sanubarinya.

Saat itu, si gadis merasakan dan seolah tahu bahwa dia tidak akan bertemu lagi dengannya. Ini adalah pamitan untuk selama-lamnya. Dia tidak akan kembali.

Peluit nyaring menandakan kereta senja itu akan segera berangkat. Kereta mulai bergerak, ia melepaskan tangannya, memandangnya untuk terakhir kali, dan melompat di atas bordes gerbong terakhir.

Ia tetap memandangnya. Tidak melepaskan pandangannya. Seolah-olah tidak akan pernah melepaskannya. Dan membawanya ke mana pun ia pergi.

Kereta bergerak meninggalkan peron. Menjauh ... akhirnya, lenyap dari pandangan. Dan hilang dari pendengaran ...
Sebelum keberangkatan, dia terlihat agak murung. Tiada senyum sedikit pun di wajahnya. Berdua mereka merasa begitu berat berpisah satu dengan lainnya. Saat itu, berdua mereka berkeliling, lalu duduk di beranda stasiun Jatinegara.

Keduanya sama-sama terdiam. Banyak hal yang ingin disampaikan satu dengan lainnya. Apa yang dirasakan dan dipikirkan masing-masing. Tetapi tiada kata yang ke luar. Lelaki muda yang tampan, gadis manis nan jelita, mungkin juga demikian. Mereka hanya saling memandang dengan sorotan yang sayu.

Akhirnya, lelaki muda semampai itu berdiri mendekat. Mereka masih di atas tembok beranda, balustrade, keduanya tetap dan terus saling memandang. Tatapan keduanya semakin lembut. Angin yang silir semilir menyentuh kian merangkul lembut dua insan belia ini.

Bagi si gadis jelita, lelaki muda ini seorang yang sangat dikaguminya, dan dicintainya, sampai tak ada lagi kata yang mampu menggambarkannya. Keduanya tetap terdiam, keduanya ingin terus berada bersama. Sampai kapan pun tiada akhir.

Dia memandangi si gadis manis dengan matanya dengan begitu intens. Begitu serius, tiada senyum di wajahnya. Dan berkata, “Ik moet weg. Ik moet terug”, artinya “aku harus pergi, aku harus kembali”. Kata-kata yang mengingat dan mengikatkan akan tugas dan kewajibannya.

Si gadis mengerti. Dia bukan miliknya. Dia, lelaki muda tampan dan gagah itu, adalah milik bangsa dan negara yang baru lahir. Milik bangsa dan negara yang masih terus dan sedang berjuang. Tugasnya belum selesai. Belum rampung.

Dara jelita harus merelakan dia pergi. Keduanya baru sebentar mengenal cinta dan kebahagiaan. Tetapi, keduanya harus melepaskan.

Si gadis duduk termenung. Mengenang kembali kebersamaan berdua selama ini. Ini semua bagaikan mimpi. Tidak nyata. Namun keduanya bahagia, amat bahagia, bahagia pernah memiliki mimpi.

Mereka berdua masih muda. Si gadis berumur 17 tahun, dan si jejaka baru saja melintas  20 tahun. Keduanya punya cita-cita untuk meneruskan pendidikan. Keduanya belum siap untuk memikirkan hal-hal yang serius. Hari depan membentang di depan mata. Bagi si gadis sudah cukup bahwa si pria mencintainya, si gadis mencintainya, dan keduanya saling percaya.

Mungkin inilah yang dia sampaikan kepada keluarganya, sehingga keluarganya dapat mengerti dan menerimanya. Hal ini membuatnya nyaman dan bahagia. Tidak tertekan. Keduanya pernah saling mengatakan, betapa pun cinta kepada seseorang, namun keduanya tidak akan menikah selama perang, karena si gadis tidak mau ditinggal mati.

Apakah si lelaki tampan dan gagah itu teringat kata-kata perempuan muda remaja ini?
Lelaki muda yang dewasa ini terkenal karena sangat disiplin dan pemberani.

Ketika itu keadaan terasa mulai memanas. Padahal sebelumnya semua tampak tenang-tenang saja. Terlihat dan terasa ada kesibukan. Pasukan Republik mulai berkemas meninggalkan kota Jakarta, untuk kembali ke daerah asal, membawa misi kemerdekaan Republik Indonesia.

Senja itu. Memang bukan senja biasa. Tapi bukan lagi senja istimewa. Dia adalah senja yang murung. Sebuah perpisahan pada senja ini.

Tiba-tiba di jelita dikejutkan kedatangan lelaki muda yang berseragam siap tempur itu. Ada apa gerangan? Keduanya sadar. Mereka tahu keadaan mulai memanas. Dan dia, sebagai pasukan, mulai bersiaga.

Mereka anak muda tak bersenjata lengkap.
Senja itu saling bertemu. Berjalan lalu duduk berdua. Dan, dia khusus bertemu untuk berpamitan, benaknya berkata kemungkinan besar perang akan terjadi.

Lelaki muda dari asrama Prapatan 10 ini menatap di perempuan remaja dengan wajah yang serius. Dia tidak ceria seperti biasanya. Dia mengatakan bahwa dia akan pergi jauh. Dan mungkin tak akan kembali. Jika, tiada berita darinya di mana dia berada, apakah si gadis akan menunggunya? Bagaimana kalau dia gugur? Apakah si jelita  akan tetap menantinya?

Pertanyaan demi pertanyaan oleh si gadis dijawab sendiri. Dengan yakin bahwa apa pun yang akan terjadi, dia akan tetap menunggunya. Berita mengenai gugurnya akan dipercaya si gadis kalau ada buktinya.
Berulang-ulang dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Seolah dia belum puas mendengar jawaban.

Si gadis menangis. Air matanya bercucuran membasahi wajahnya.

Dia pun terlihat sangat tertekan. Dia meminta maaf telah membuat kekasihnya sedih. Dan menangis.

Si gadis sangat terpukul  dengan pertanyaan-pertanyaannya. Seolah-olah dia tidak percaya kepadanya dan cintanya kepada dia. Dia seakan tak kan kembali. Dan si gadis jelita terisak tangis.

Senja itu saat si lelaki muda itu datang, pada batin si gadis seakan dia tidak dapat meninggalkannya tanpa pamit. Semula si jelita menolak untuk berjumpa dengannya. Dia merasa terlalu sedih untuk menghadapinya.
Dan senja itu, si gadis yang bergegas pergi ke stasiun. Dia menemuinya di peron, dia sedang mengobrol dengan temannya.

Terlihat gagah dan tampan dengan seragam tempurnya. Lengkap dengan pistol di pinggang, senapan, dan ransel di punggungnya.

Dia mendekati si gadis, memeluknya dan memandangnya dengan sorot matanya yang begitu serius dan tajam. Seolah menembus relung hati. Senyumnya halus dan lembut, seakan menyatakan cinta tanpa kata, yang akan membawa si gadis manis ke mana pun dia pergi. Dia takkan melepaskan kekasihnya sampai kapan pun.

Pada saat itu pun si gadis tahu dalam lubuk hatinya, bahwa saat itu adalah pertemuan mereka yang penghabisan, yang terakhirnya. Dia tak akan kembali. Dia akan pergi untuk selamanya.

Peluit kepala stasiun berbunyi tanda kereta akan berangkat.

Kereta mulai bergerak. Lelaki tampan itu melepaskan si gadis manis. Tetapi dengan tetap memandangnya. Dia melompat ke atas gerbong terakhir di bordes belakang.

Si jelita terdiam di tempat. Tak mampu menahan kesedihannya, melihat dia pergi. Sambil memandangi si gadis, dia tetap berdiri dengan tegap di bordes. Seorang lelaki penuh wibawa, seorang perwira belia, calon dokter muda, begitu gagah dan tampannya dengan rela menuju medan perang.

Tugas yang dia emban adalah membela bangsa dan tanah air.
Ia rela meninggalkan orang yang ia cintai.
Kereta menjauh dan semakin menjauh. Dia tetap memandanginya sampai menghilang ...

Sekian waktu kemudian setelah senja yang memisahkan itu ...

Bagaimana kabarnya Rahadi? Si jelita, Oetari berharap Rahadi baik-baik saja, meskipun keduanya tiada lagi berjumpa.

Oetari, gadis muda jelita itu, teringat akan mimpi-mimpinya. Di dalam mimpi yang pertama, Oetari dan Rahadi berjalan di tepi danau dengan saling bergandengan tangan. Dia berpakaian siap tempur. Tetapi anehnya, dia berjalan di air, sedangkan Oetari berjalan di darat. Latar belakangnya adalah bangunan serupa pabrik yang telah hancur atau dibumihanguskan.

Pada mimpi kedua, Oetari dengan Rahadi berjalan di tengah-tengah kebun atau hutan. Dan bergandengan tangan juga. Kemudian, keduanya beristirahat dan duduk di bawah pohon yang rindang. Menatap ke depan, ke bukit yang bergelombang dan lembah dengan hamparan rumput.

Begitu indah dan sepi. Seolah dunia ini milik mereka berdua.

Oetari merenungkan kedua mimpi tersebut. Apakah itu cara Rahadi memberi tahu pada saat terakhirnya bahwa dia selalu ingat kepada Oetari. Betapa bahagianya dia bersama Oetari. Dan Rahadi ingin membawa Oetari ke mana pun dia pergi? Bergandengan tangan seolah merupakan sebuah tanda bahwa dia tidak akan melepaskan ke mana pun dia pergi.

Dalam mimpi Oetari, keduanya menatap dan menerawang ke tempat yang begitu indah. Hamparan rumput dan gelombang pegunungan. Keduanya seolah bersama, kekal dan abadi.

Oetari, gadis jelita itu, menangis. Dia seakan mengerti pesan Rahadi melalui mimpi. Dan Oetari menerimanya. Memang, Rahadi bukanlah milik Oetari semata. Dia milik bangsa dan negara, yang dibela sampai titik darah penghabisan.

Namun, impian itu adalah milik Oetari. Oetari akan menyimpan dan mengenangnya selama hidupnya.

Suatu hari Oetari mengirim surat kepada Rahadi, lalu surat dikembalikan dengan tulisan berwarna merah “Soedah Meninggal”. Oetari terkejut, apa artinya ini?

Sekian waktu Oetari mencoba mencari informasi melalui teman-teman. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang mau memberi tahu sama sekali.

Dan sampailah sekian waktu lamanya ...
Setelah 1945, di tahun 2005, artinya 60 tahun selepas senja di stasiun Jatinegara itu, Oetari menerima dengan ikhlas bahwa kabar terakhir sebagai kabar penghabisan untuknya, Rahadi telah gugur di Sungai Besar Ketapang Kalimantan Barat.

Oetari semula tidak dapat menerima kabar itu begitu saja. Dia tidak percaya Rahadi telah gugur. Tidak mungkin. Dia begitu ceria, penuh dengan gairah hidup. Tak mungkin.

Rahadi dikenang sepanjang masa sebagai pemuda yang gagah berani dan bertanggungjawab. Tidak hanya kepada keluarganya, tapi juga kepada negara dan bangsanya.

Oetari bangga. Oetari setia menanti. Enam puluh tahun dalam penantian. Sebuah penantian panjang selepas perpisahan pada senja yang temaram di stasiun Jatinegara itu. Oetari tetap bangga telah mengenal Rahadi sebagai teman. Dan sebagai orang yang dicintainya. Dia menangis. Dia telah kehilangan.

Namun Oetari sadar, dia seorang wanita pejuang. Tidak boleh menangis. Itu adalah harga yang harus dibayar kepada negara. Itu kewajiban.

Lambat-lambat Oetari merenung. Dalam dia dan membisunya. Tatapan mata Rahadi yang tajam dan menusuk hati sanubarinya, meninggalkan dia di peron stasiun Jatinegara. Dari atas kereta api yang bergerak menjauh dan semakin jauh. Lama kelamaan menghilang dari pandangan.

Rahadi telah pergi untuk selamanya. Rahadi tidak kembali.

Oetari menangis. Dan sangat merindukannya.
Apakah ini semua benar terjadi? Atau, ini hanya sebuah mimpi? Apakah Rahadi tahu bahwa dia adalah pahlawan milik Oetari?
Tanpanya Oetari bukanlah apa-apa.
Oetari di hari senjanya mendambakan rasa kebersamaan di antara sesama pejuang. Cinta murni yang bersemi di tengah-tengah panggilan Ibu Pertiwi sirna dengan penuh pengorbanan.

Mengapa Rahadi pergi saat kemenangan telah dipersembahkan? Mengapa justru pada saat kemerdekaan sudah dinyatakan, dan perang usai, yang Rahadi lalui melalui perjuangan selama bertahun-tahun dan meninggalkan kenangan?

Perang yang mendekatkan, perang pula yang memisahkan Rahadi dan Oetari untuk selama-lamanya .... (***)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda