Oleh: Syafaruddin Daeng Usman / Sejarawan dan Akademisi Kalbar
DI RUMAH kursus mengetik, steno dan bahasa asing Neratja milik dua bersaudara Ya’ Umar dan Ya’ Usman Yasin di Jalan Palmenlaan (Jalan Merdeka Timur sekarang) Pontianak, para pemuda militan dan kaum republikein untuk pertamakalinya mendengar (dan mengetahui) kabar Kemerdekaan Indonesia.
Disimak dari ulasan pada siaran radio sore itu, 15 September 1945, bahwa sebulan lalu pada 17 Agustus 1945, Indonesia sudah merdeka.
Malamnya, para pemuda melakukan aksi propaganda ke pelosok Pontianak, dan mengirim kabar ke banyak daerah, tentang langkah mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Barat.
Esok paginya, 16 September di Padang Sayok Pontianak, berkibarlah bendera merah putih untuk pertamakalinya di angkasa Pontianak. Bendera merah putih itu dikibarkan pemuda militan dan republikein Abang Achmad Noor dan A Hasan Bafadal. Peristiwa ini disaksikan ratusan pasang mata penduduk Pontianak.
Malam 16 September, pemuda Ibrahim Saleh dan Buyung Raja Habibana, melalui telegram menyebarkan kabar ini ke banyak rekan, keluarga terdekat dan kenalannya di berbagai daerah di Kalimantan Barat.
Dari Pontianak, Gusti Abdulhamid Aun seorang guru muda, mengirim telegram kabar kemerdekaan Indonesia ini melalui petugas kantor telekom Ngabang, Ismail Gani, untuk diteruskan kepada Kadaruddin B Mundit, seorang pemuda penuh militansi.
Pada 20 September 1945, di Ngabang Landak, atas prakarsa Gusti Abdulhamid Aun, dibentuk Persatoean Ra’jat Indonesia (PRI) sebagai cabang dari Pemuda Penyongsong Republik Indonesia (PPRI) yang berpusat di Pontianak.
PRI Landak diketuai Gusti Abdulhamid Aun dengan penasehat Gusti Mohamad Appandie Ranie Pangeran Mangkubumi Setia Negara (Wakil Panembahan Landak) dan sejumlah pengurus lain di antaranya Gusti Mohamad Said Rani, Bardan Nadi, Ya’ Nasri Dedeh Osman, Gusti Mohammad Lagum Amin, Kadaruddin B Mundit, Ya' Mustafa Tayib.
Tujuan PRI adalah menyebarkan berita dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di segenap pelosok Landak. Dan akan melalukan gerakan bersenjata untuk memghadapi NICA Belanda yang sejak 25 Oktober 1945 sudah bercokol kembali di Kalimantan Barat.
Kurun waktu 20 September 1945 hingga 9 Oktober 1946, hampir setahun PRI memobilisasi rakyat Landak untuk mempertahankan kemerdekaan.
Atas instruksi dr Mas Soedarso pimpinan pusat PPRI di Pontianak, setelah dilakukan berbagai kontak dengan badan perjuangan di Pontianak, Sambas, Singkawang, Bengkayang, Anjungan, Sanggau dan Sintang, pada Rabu 9 Oktober 1946 PRI berganti nama menjadi Gerakan Ra’jat Merdeka (Geram).
Pada Kamis pukul 00 WIB memasuki 10 Oktober 1946 (dikenal dengan peristiws 10-10-1946) telah meletus pertempuran rakyat Landak terpusat di Ngabang. Pertempuran baku tembak berlangsung hingga pulul 7 pagi Jumat, 11 Oktober 1946, dengan sasaran tangsi militer, pos polisi dan jembatan Ngabang.
Dalam pertempuran sengit ini, pimpinan penyerbuan Ya’ Nasri Dedeh Osman tertembak di lubang perlindungan zaman Jepang di depan rumah Controleur Landak Dr AB Faber.
Pada 27 Oktober 1946, pertempuran kembali meletus di Sidas, di mana Mane Pak Kasih dan pasukannya gugur dalam kontak senjata. Beberapa hari kemudian Bardan Nadi Sutrisno tertangkap, sebelumnya anak balita mungilnya Paini Trisnowati ditembak kaki tangan NICA KNIL Belanda. Juga ditawan militer NICA antaranya dua saudara Bardan yaitu Sardiman dan Ngadimin.
Di simpang ruas jalan Jatak arah ke Menyuke terjadi pula pertempuran, di mana pimpinan pertempuran Bun Yamin, A Kasim dan A Rani gugur. Ketiga pemimpin perlawanan ini sebelumnya telah ditangkap, disiksa dan kemudian ditembak dalam satu lubang yang kemudian sebagai liang lahat ketiganya.
Pertempuran Landak Ngabang adalah pertempuran berskala (ter)besar di Kalimantan Barat dalam revolusi fisik 1945-1949. Telah gugur tak sedikit pemuda revolusioner dan kaum republikein serta tokoh militan Melayu dan Dayak maupun masyarakat lainnya.
Bardan Nadi Sutrisno pada 17 April 1947 ditembak mati oleh selusin regu tembak di penjara Sungai Jawi Pontianak. Bardan Nadi merupakan orang Indonesia pertama yang dijatuhi hukuman mati dalam kurun revolusi fisik di Indonesia pada 1945-1950. Sedangkan Gusti Mohamad Said Rani meninggal akibat penyiksaan berat selama dalam tahanan di penjara Sungai Jawi Pontianak.
Adapun Ya’ Nasri Dedeh Osman menemui ajalnya ditemggelamkan di Teluk Jakarta. Sedangkan tokoh lainnya Mane Pak Kasih bersama 27 orang anggota pasukannya gugur di Sidas dalam suatu kontak senjata jarak dekat dengan persenjataan yang tak berimbang.
Gusti Mohammad Appandi Ranie Pangeran Mangkubumi Setia Negara Wakil Panembahan Kerajaan Landak bersama Gusti Mustafa Sotol, Ya' A Rahim Anom dan lainnya meneruskan memimpin grilya dan perlawanan bersenjata hingga tertangkap pada 1947 akibat pengkhianatan beberapa orang yang cukup dikenalnya.
Gusti Muhammad Saleh Aliudin dan Ahmad Djajadi meneruskan grilya hingga Teluk Pakkedai dan menggerakkan pergoalakan bersenjata di wilayah Afdeeling van Sungai Kakap di Teluk Pakkedai dan sekitarnya.
Ibu mertua Bardan, Fatimah ditembak mati oleh kaki tangan NICA KNIL Belanda di Tanjung Putus daerah Teluk Palkedai. Di Serimbu Air Besar gugur Selamat, Rumai dan lainnya, begitupun di Sepatah, Senakin, Sidas, Sengah Temila dan lainnya di wilayah Onderafdeeling Landak.
Di Darit dan Meranti Menyuke Kimas Akil Abdurrahman, Merseb Abdurrahman, Hamdan Budjang dan para tokoh di sana terus bergolak.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa pahlawan bangsanya. Dan jangan sekali-kali melupakan dan meninggalkan sejarah. (*)