PONTIANAK, SP - Di sebuah sudut Kota Pontianak, tepatnya di Jalan Purnama 9, Kelurahan Parit Tokaya, Kecamatan Pontianak Selatan, Kalimantan Barat, sebuah kendaraan tua masih menyimpan denyut kehidupan.
Di tengah deretan mobil modern yang terus berganti wajah dan teknologi, sebuah Land Rover Series I berdiri dengan tenang. Catnya mungkin tidak lagi semengilap kendaraan keluaran terbaru.
Tubuhnya menyimpan jejak usia dan perjalanan panjang. Namun, di balik kesederhanaannya, mobil ini membawa cerita yang jauh lebih berharga daripada sekadar kemewahan.
Ia adalah saksi zaman. Ia adalah bagian dari sejarah otomotif dunia yang masih bertahan hingga hari ini.
Land Rover Series I pertama kali diperkenalkan pada tahun 1948 dalam pameran otomotif di Kota Amsterdam, Belanda.
Kendaraan asal Inggris ini lahir dari masa setelah Perang Dunia II, ketika dunia sedang berusaha bangkit dari kehancuran.
Dengan bodi berbahan aluminium dan sasis baja, mobil ini dirancang sebagai kendaraan tangguh yang mampu melewati berbagai medan berat.
Bukan kendaraan untuk sekadar bergaya, tetapi kendaraan untuk bekerja.
Ia pernah menjadi sahabat para petani, pekerja lapangan, petualang, hingga mereka yang membutuhkan kendaraan kuat untuk menjangkau wilayah sulit.
Salah satu versi paling ikonik dari Land Rover Series I dikenal dengan nomor pelat HUE166, sebuah nama yang kemudian menjadi legenda dalam sejarah Land Rover.
Namun jauh dari Inggris, di Kalimantan Barat, sebuah Land Rover Series I lainnya juga memiliki cerita istimewa.
Mobil itu disebut-sebut sebagai satu-satunya Land Rover Series I di Kalimantan Barat yang masih orisinal, tetap berjalan, dan memiliki pajak kendaraan aktif.
Di balik keberadaannya ada seorang lelaki yang merawatnya bukan sekadar sebagai kendaraan klasik, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Namanya Bruder Stephanus Paiman, OFMCap. Orang-orang mengenalnya dengan panggilan Bruder Steph.
Sosoknya mudah dikenali. Kepala plontos dengan tato yang menjadi ciri khas menghiasi bagian atas kepalanya. Namun yang paling melekat dari dirinya bukanlah penampilan tersebut, melainkan senyum ramah yang selalu menyambut siapa pun yang datang.
Wawancara dengan Bruder Steph dilakukan pada Jumat, 17 Juli 2026, di kediamannya di Jalan Purnama 9, Pontianak Selatan. Di tempat itulah Land Rover tua tersebut dirawat dengan penuh perhatian.
Bagi Bruder Steph, mobil ini bukan sekadar kumpulan besi, mesin, dan roda.
Ada nilai sejarah yang harus dijaga.
"Mobil ini bukan hanya kendaraan. Ada cerita dan perjalanan panjang di dalamnya. Kalau masih bisa dirawat dan digunakan, kenapa harus dibiarkan hilang begitu saja," ujar Bruder Steph.
Kalimat sederhana itu menggambarkan bagaimana ia memandang sebuah benda berusia puluhan tahun.
Baginya, merawat Land Rover bukan tentang mempertahankan barang mahal. Bukan pula mengejar pengakuan sebagai kolektor kendaraan klasik.
Lebih dari itu, ada rasa hormat terhadap sejarah.
Setiap baut memiliki cerita. Setiap suara mesin menyimpan kenangan. Setiap goresan di bodinya menjadi catatan perjalanan yang tidak dapat diulang.
Menariknya, karakter Land Rover yang kuat dan sederhana terasa sejalan dengan kehidupan Bruder Steph sendiri.
Selain dikenal sebagai penggemar otomotif dan anggota Indonesia Off-Road Federation (IOF), ia juga aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan sebagai Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP).
Jika kendaraan ini dikenal mampu melewati jalan sulit, Bruder Steph pun menjalani hidup dengan prinsip yang sama.
Melewati berbagai tantangan. Mendatangi mereka yang membutuhkan bantuan. Hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
Mungkin itulah alasan mengapa Land Rover tua tersebut menemukan tempat yang tepat.
Kendaraan yang sejak awal diciptakan untuk membantu manusia, kini dirawat oleh seseorang yang juga mengabdikan dirinya untuk membantu sesama.
Bagi komunitas otomotif, Land Rover Series I merupakan kendaraan langka yang memiliki nilai sejarah tinggi. Mempertahankan kondisi orisinal kendaraan berusia lebih dari tujuh dekade bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kecintaan yang besar.
Bruder Steph memilih merawatnya dengan cara sederhana namun konsisten.
Mesinnya tetap dihidupkan. Kondisinya tetap diperhatikan. Roda-rodanya masih diajak menyentuh jalan.
Ia tidak membiarkan mobil itu hanya menjadi pajangan yang diam di sudut ruangan. Sebab baginya, kendaraan yang memiliki sejarah sebaiknya tetap memiliki kehidupan.
"Yang penting bukan hanya memiliki, tetapi bagaimana kita menjaga dan menghargai apa yang kita miliki," ungkapnya.
Di dunia yang bergerak semakin cepat, Land Rover Series I di Jalan Purnama 9 seakan mengingatkan bahwa tidak semua hal lama harus ditinggalkan.
Ada sesuatu yang bernilai dalam ketekunan menjaga.
Ada cerita dalam benda yang bertahan. Dan ada manusia yang membuat sebuah mesin tua tetap memiliki jiwa.
Kini, ketika suara mesinnya kembali terdengar menyusuri jalanan Pontianak, Land Rover itu bukan hanya membawa Bruder Steph bepergian.
Ia membawa kenangan. Ia membawa sejarah.
Ia membawa pesan bahwa sesuatu yang dirawat dengan hati akan selalu menemukan cara untuk bertahan melawan waktu.
“Karena sejarah tidak selalu tersimpan di museum. Kadang ia hidup di sebuah garasi sederhana, dirawat oleh tangan yang penuh kasih, dan terus berjalan menyusuri jalan kehidupan,” pungkas Bruder Steph, Tokoh Kemanusiaan Kalbar yang karya nyatanya selalu abadi. (mul)