Ponticity post author elgiants 18 Juli 2026

Kualitas Air Parit Bangkong Membaik hingga 50 Persen, Eco Enzyme Mulai Tunjukkan Hasil

Photo of Kualitas Air Parit Bangkong Membaik hingga 50 Persen, Eco Enzyme Mulai Tunjukkan Hasil KURANGI PENCEMARAN-Wako Pontianak Edi dengan ratusan pelajar dan guru mengikuti penaburan eco enzyme di Parit HOS Cokroaminoto. Kegiatan bagian dari MPLS SMP Negeri 1 Pontianak itu mendukung upaya Pemkot meningkatkan kualitas air dan pencemaran lingkungan

PONTIANAK, SP – Upaya Pemerintah Kota Pontianak memulihkan kualitas lingkungan melalui pemanfaatan eco enzyme mulai membuahkan hasil. Berdasarkan uji laboratorium Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak, kualitas air di Parit Sungai Bangkong mengalami peningkatan sekitar 30 hingga 50 persen setelah dilakukan penaburan cairan eco enzyme beberapa pekan lalu.

Hasil tersebut menjadi indikator awal bahwa pemanfaatan eco enzyme dari limbah organik berpotensi membantu memperbaiki kualitas perairan perkotaan.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, pengujian laboratorium menunjukkan adanya perbaikan pada sejumlah parameter kualitas air yang selama ini menjadi indikator tingkat pencemaran.

“Setelah dilakukan pengujian laboratorium, terdapat peningkatan kualitas air. Kadar oksigen yang sebelumnya rendah mengalami peningkatan, begitu juga indikator lainnya. Secara keseluruhan ada peningkatan kualitas sekitar 30 hingga 50 persen,” ujarnya usai melakukan penaburan eco enzyme secara simbolis di Parit Jalan HOS Cokroaminoto dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP Negeri 1 Pontianak, Jumat (17/7).

Data DLH menunjukkan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) meningkat dari 0,42 miligram per liter menjadi 0,54 miligram per liter. Sementara itu, nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) turun antara 10 hingga 40 persen. Penurunan kedua parameter tersebut mengindikasikan berkurangnya beban pencemaran organik di dalam air.

Menurut Edi, capaian tersebut menjadi kabar baik sekaligus menumbuhkan optimisme bahwa upaya sederhana berbasis partisipasi masyarakat dapat memberikan dampak nyata bagi pemulihan kualitas lingkungan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut harus diiringi perubahan perilaku masyarakat, terutama dengan tidak membuang sampah ke parit maupun sungai.

“Kita terus mengajak para pelajar, mulai dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA/SMK untuk bersama-sama menjaga lingkungan, baik di sekolah, lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan di sekitar mereka,” katanya.

Selain itu, Pemkot Pontianak terus mendorong gerakan penghijauan dan pengelolaan sampah rumah tangga sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Menurut Edi, pengelolaan sampah sejak dari sumbernya menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi pencemaran dan menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

“Kami mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi timbunan sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pengelolaan sampah dari rumah tangga menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kualitas lingkungan di Kota Pontianak,” ujarnya.

Kepala DLH Kota Pontianak Syarif Usmulyono menambahkan, hasil laboratorium juga menunjukkan kadar nitrat turun hingga mendekati 50 persen.

“Penurunan ini menjadi indikator bahwa kandungan nutrien penyebab pencemaran mulai berkurang sehingga potensi pertumbuhan alga secara berlebihan juga semakin kecil,” jelasnya.

Meski menunjukkan perkembangan positif, DLH akan terus melakukan pemantauan dan pengujian secara berkala guna memastikan peningkatan kualitas air berlangsung secara konsisten. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar penyusunan kebijakan pengelolaan lingkungan di Kota Pontianak.

Pada kesempatan yang sama, penaburan eco enzyme juga menjadi bagian dari rangkaian MPLS SMP Negeri 1 Pontianak yang mengusung tema “MPLS Ramah, Hijau, dan Berkarakter.”

Kepala SMP Negeri 1 Pontianak Kiswanti mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada peserta didik sejak hari pertama memasuki sekolah.

“Kami tidak hanya menghadirkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, saling menghargai, dan saling memuliakan, tetapi juga mengajarkan anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan. Salah satunya melalui penaburan eco enzyme,” katanya.

Ia menjelaskan, eco enzyme yang digunakan merupakan hasil pembelajaran kokurikuler yang telah dilaksanakan sejak Februari 2026. Dari program tersebut, siswa berhasil memproduksi 286 liter eco enzyme, sedangkan para guru menghasilkan sekitar 100 liter.

Program tersebut sekaligus memperkuat komitmen SMP Negeri 1 Pontianak sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional yang tengah menuju predikat Sekolah Adiwiyata Mandiri.

Antusiasme siswa tampak selama kegiatan berlangsung. Siswi kelas VIII C, Christine Agusta Putri Irawan, mengaku memperoleh banyak pengetahuan mengenai manfaat eco enzyme, mulai dari membantu menjernihkan saluran air hingga mengurangi pencemaran lingkungan.

Sementara itu, Isabel Dhani Pudiarjo mengaku tertarik mempraktikkan pembuatan eco enzyme di rumah dengan memanfaatkan limbah kulit buah yang selama ini terbuang.

“Kami senang terlibat dalam aksi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat, Pemkot Pontianak berharap pemanfaatan eco enzyme tidak hanya mampu memperbaiki kualitas air di jaringan parit kota, tetapi juga menumbuhkan budaya pengelolaan sampah organik dan kepedulian terhadap lingkungan secara berkelanjutan sejak usia dini. (din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda