Opini post author Kiwi 22 Juli 2026

Rektor Baru dan Masa Depan IAIN Pontianak

Photo of Rektor Baru dan Masa Depan IAIN Pontianak

Oleh: Syamsul Kurniawan

"Perubahan sebuah kampus tidak dimulai dari bergantinya nama, tetapi dari keberanian para pemimpinnya menuntun perubahan cara berpikir, cara belajar, dan cara mengabdi."

SETIAP pergantian rektor selalu membawa harapan baru. Di dalamnya ada ekspektasi, ada optimisme, sekaligus ada beban sejarah yang harus dipikul. Kepemimpinan di perguruan tinggi tidak pernah sekadar pergantian administrasi, melainkan pergantian arah tentang ke mana institusi akan dibawa.

IAIN Pontianak kini berada pada sebuah persimpangan yang penting. Di satu sisi, ia telah memiliki pengalaman panjang sebagai institusi pendidikan Islam. Di sisi lain, cita-cita menuju Universitas Islam Negeri (UIN) menuntut lompatan yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi persyaratan administratif.

Menuntun; Melampaui Perubahan Nama

Perubahan status menjadi UIN sering dipahami sebagai capaian kelembagaan. Padahal, hakikatnya bukanlah perubahan papan nama, melainkan perubahan paradigma berpikir. Sebuah universitas hanya akan besar apabila gagasan yang hidup di dalamnya lebih besar daripada gedung-gedung yang dibangunnya.

Di titik inilah kepemimpinan rektor baru memperoleh maknanya. Tugasnya bukan hanya mengelola organisasi, melainkan menghidupkan kembali cita-cita pendidikan. Sebab pendidikan, sebagaimana dipahami Ki Hadjar Dewantara, adalah proses “menuntun” segala kekuatan kodrat manusia agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Konsep "menuntun" mengandung arti yang jauh lebih dalam daripada "mengajar". Menuntun berarti mengenali potensi manusia, membimbingnya, lalu membiarkannya bertumbuh sesuai kodratnya. Pendidikan tidak menciptakan manusia baru, tetapi membantu manusia menemukan dirinya sendiri.

Karena itu pendidikan bukan sekadar aktivitas mentransfer ilmu. Pendidikan adalah instrumen untuk mengembangkan rasa, cipta, dan karsa manusia sebagai makhluk Tuhan. Sejak seseorang berada dalam kandungan, lahir di tengah keluarga, tumbuh di lingkungan masyarakat, hingga memasuki sekolah dan perguruan tinggi, seluruh proses kehidupan itu sesungguhnya adalah ruang pendidikan.

Akal manusia berkembang bukan dalam ruang yang kosong. Ia tumbuh melalui dialog dengan keluarga, masyarakat, guru, buku, pengalaman, bahkan kegagalan. Oleh sebab itu pendidikan yang baik selalu memahami bahwa manusia dibentuk oleh banyak ruang sekaligus.

Ki Hadjar Dewantara menyebutnya sebagai tripusat pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiganya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Jika salah satu rapuh, maka keseluruhan bangunan pendidikan ikut kehilangan keseimbangannya.

Dalam konteks IAIN Pontianak, gagasan ini menjadi sangat relevan. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori. Ia harus mampu melahirkan sarjana yang memiliki kepekaan sosial, integritas moral, serta kemampuan menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.

Maka rektor baru perlu memikirkan kembali arah pendidikan tinggi Islam. Apakah kampus hanya menjadi tempat memperoleh ijazah, atau benar-benar menjadi ruang pembentukan manusia? Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya menentukan masa depan institusi.

Ki Hadjar Dewantara pernah menempatkan budi pekerti sebagai inti pendidikan. Budi pekerti bukan sekadar daftar tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Ia merupakan kesatuan antara pikiran, perasaan, kemauan, dan tindakan yang melahirkan karakter.

Di sinilah tantangan pendidikan tinggi hari ini semakin terasa. Kita menyaksikan orang-orang yang cerdas secara akademik, tetapi miskin empati. Kita menemukan mereka yang menguasai teknologi, tetapi gagal mengendalikan dirinya sendiri. Pengetahuan bertambah, tetapi kebijaksanaan tidak selalu ikut tumbuh.

Fenomena tersebut sesungguhnya juga menjadi cermin dunia pendidikan nasional. Kasus perundungan, kekerasan, intoleransi, hingga berbagai praktik ketidakjujuran akademik menunjukkan bahwa kecerdasan belum otomatis melahirkan karakter. Ada sesuatu yang hilang dalam proses pendidikan kita.

Karena itu, menuju UIN bukan hanya soal membuka fakultas baru. Yang lebih penting ialah membangun budaya akademik yang sehat. Sebab universitas yang besar dibangun oleh tradisi berpikir, bukan semata-mata oleh struktur organisasi.

Budaya akademik berarti menghadirkan kebebasan berpikir yang bertanggung jawab. Mahasiswa diberi ruang untuk bertanya tanpa rasa takut. Dosen diberi kesempatan meneliti tanpa dibatasi oleh rutinitas administratif yang berlebihan. Kampus menjadi ruang dialog, bukan ruang yang hanya sibuk dengan birokrasi.

Rektor baru perlu menjadikan penelitian sebagai denyut utama universitas. Sebuah UIN tidak cukup dikenal karena jumlah mahasiswanya, melainkan karena kualitas gagasan yang dihasilkannya. Kampus harus menjadi produsen pengetahuan, bukan sekadar konsumen teori dari tempat lain.

Pontianak memiliki kekayaan yang luar biasa sebagai laboratorium keilmuan. Masyarakat Melayu, Dayak, Tionghoa, dan berbagai komunitas lain hidup berdampingan dalam dinamika sosial yang unik. Keragaman ini dapat menjadi sumber penelitian yang bernilai nasional bahkan internasional apabila dikelola secara serius.

Selain itu, Kalimantan Barat juga menyimpan persoalan lingkungan, kemiskinan, pendidikan, moderasi beragama, hingga pembangunan kawasan perbatasan. Semua itu adalah tema-tema strategis yang semestinya menjadi identitas keilmuan IAIN Pontianak. Universitas besar selalu tumbuh dari kemampuannya membaca persoalan di sekitarnya.

Namun pendidikan tidak hanya berbicara tentang kecerdasan intelektual. Ki Hadjar Dewantara juga menaruh perhatian besar pada kesehatan jasmani. Manusia yang cerdas tetapi tidak sehat akan kesulitan mengoptimalkan seluruh potensinya.

Karena itu pembangunan kampus tidak boleh hanya berorientasi pada gedung dan fasilitas pembelajaran. Lingkungan akademik yang sehat, ruang terbuka, aktivitas olahraga, layanan kesehatan mental, serta budaya hidup yang seimbang juga merupakan bagian dari pendidikan. Universitas mendidik manusia secara utuh, bukan hanya pikirannya.

Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah keteladanan. Ki Hadjar Dewantara mengajarkan prinsip ing ngarsa sung tulada, bahwa pemimpin berada di depan untuk memberi contoh. Dalam dunia akademik, keteladanan lebih kuat daripada ribuan pidato motivasi.

Rektor baru memiliki kesempatan membangun budaya integritas melalui tindakan nyata. Transparansi pengelolaan anggaran, objektivitas dalam pengambilan keputusan, penghargaan terhadap prestasi, dan penegakan etika akademik akan menjadi pesan yang jauh lebih kuat daripada slogan-slogan kelembagaan.

Pendidikan yang ramah terhadap mahasiswa juga harus menjadi prioritas. Mahasiswa bukan sekadar objek kebijakan, melainkan subjek pendidikan. Mereka perlu didengar aspirasinya, dibimbing potensinya, dan diberikan ruang untuk berkembang secara kreatif.

Pada setiap jenjang pendidikan, pemikiran Ki Hadjar Dewantara tetap menegaskan pentingnya pembentukan karakter melalui keteladanan, kasih sayang, dan proses pendidikan yang menumbuhkan kesadaran, bukan memaksakan kehendak. Nilai-nilai tersebut tidak kehilangan relevansinya ketika peserta didik memasuki pendidikan tinggi. Sekalipun telah dewasa, mahasiswa tetap belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan di ruang kuliah, tetapi juga dari keteladanan yang mereka saksikan setiap hari dalam kehidupan akademik.

Dalam konteks menuju UIN, IAIN Pontianak juga perlu memperkuat jejaring nasional dan internasional. Kolaborasi penelitian, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta kerja sama lintas disiplin akan mempercepat peningkatan kualitas akademik. Universitas modern tidak tumbuh dalam isolasi.

Digitalisasi juga tidak boleh dipahami hanya sebagai penggunaan aplikasi. Transformasi digital harus menyentuh tata kelola, pelayanan akademik, pembelajaran, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat. Teknologi seharusnya mempermudah lahirnya inovasi, bukan menambah kerumitan birokrasi.

Yang tidak kalah penting ialah membangun identitas keilmuan Islam yang relevan dengan tantangan zaman. Islam tidak cukup diajarkan sebagai kumpulan doktrin normatif. Ia perlu dihadirkan sebagai sumber etika, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan solusi atas persoalan-persoalan masyarakat kontemporer.

Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Yang sering terasa kurang adalah mereka yang mampu menggunakan kepintarannya untuk menghadirkan kebaikan bersama. Pendidikan tinggi Islam memiliki tanggung jawab moral untuk mempertemukan kecerdasan dengan kebijaksanaan.

Tidak Mudah?

Perjalanan menuju Universitas Islam Negeri (UIN) tentu bukan jalan yang pendek dan mudah. Berbagai tantangan akan menghadang, mulai dari pemenuhan aspek kelembagaan, penguatan sumber daya manusia, peningkatan mutu tridarma perguruan tinggi, hingga kemampuan membangun jejaring nasional dan internasional. Namun, sejarah selalu memperlihatkan bahwa institusi yang besar tidak dibangun oleh kemudahan, melainkan oleh keberanian para pemimpinnya untuk memikirkan masa depan melampaui kepentingan hari ini.

Karena itu, agenda transformasi IAIN Pontianak menuju UIN semestinya dipahami sebagai ikhtiar membangun peradaban, bukan sekadar memenuhi target administratif. Perubahan status kelembagaan harus berjalan seiring dengan perubahan budaya akademik, tata kelola, kualitas riset, pengabdian kepada masyarakat, dan karakter seluruh sivitas akademika. Tanpa transformasi substansial tersebut, perubahan nama hanya akan menjadi simbol yang kehilangan makna.

Di titik inilah kepemimpinan rektor baru akan diuji. Keberhasilannya tidak semata-mata diukur dari tercapainya status UIN, melainkan dari kemampuannya menumbuhkan tradisi keilmuan yang hidup, menghadirkan tata kelola yang berintegritas, memperkuat budaya riset, serta melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial. Warisan kepemimpinan yang paling berharga bukanlah bangunan fisik, melainkan budaya akademik yang terus hidup melampaui masa jabatannya.

Pada akhirnya, cita-cita menuju UIN akan menemukan maknanya apabila kampus ini tetap berpijak pada hakikat pendidikan sebagaimana diajarkan Ki Hadjar Dewantara: pendidikan yang menuntun, bukan sekadar mengajar; yang memerdekakan, bukan mendikte; dan yang membentuk manusia seutuhnya, bukan hanya menghasilkan lulusan. Jika arah itu mampu diwujudkan, maka transformasi IAIN Pontianak menjadi UIN bukan sekadar pergantian nama, melainkan penegasan bahwa pendidikan telah menjalankan tugas sucinya, yakni melahirkan manusia yang cerdas, berbudi pekerti, sehat jasmani dan rohani, merdeka dalam berpikir, serta bertanggung jawab bagi kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan.***


*) Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak. Ketua Komisi Pendidikan Keagamaan Dewan Pendidikan Kalimantan Barat.

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda