Opini post authorKiwi 15 Juni 2026

1 Muharram dan Reformasi Pendidikan

Photo of 1 Muharram dan Reformasi Pendidikan

Oleh: Syamsul Kurniawan / Ketua Komisi Pendidikan Keagamaan Dewan Pendidikan Kalimantan Barat

TAHUN selalu bergerak dengan caranya sendiri, tetapi manusia sering menganggapnya sebagai sesuatu yang netral. Padahal setiap pergantian waktu selalu membawa peluang untuk membaca ulang diri sendiri.

1 Muharram 1448 H yang jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026 hadir bukan sekadar sebagai penanda kalender, tetapi sebagai ruang refleksi kolektif dalam kehidupan berbangsa.

Di Indonesia, 1 Muharram ditetapkan sebagai hari libur nasional. Status ini menjadikannya jeda sosial yang serentak, ketika aktivitas formal berhenti sejenak. Namun jeda ini sering tidak diisi dengan kesadaran reflektif, melainkan hanya berhenti sebagai waktu istirahat administratif.

Pendidikan dalam konteks ini tampak seperti sistem yang terus berjalan tanpa jeda makna. Data capaian literasi, numerasi, dan sains menunjukkan bahwa ada masalah struktural yang belum terselesaikan. Di balik angka-angka itu, terdapat realitas kelas yang masih bertumpu pada hafalan dan reproduksi pengetahuan.

Krisis pendidikan tidak hanya terletak pada sistem, tetapi juga pada energi yang menggerakkannya.

Motivasi belajar siswa menjadi salah satu titik paling lemah dalam ekosistem pendidikan Indonesia. Tanpa dorongan internal yang kuat, proses belajar kehilangan daya transformasinya.

Dalam kerangka psikologi motivasi, David McClelland (1961) menawarkan tiga kebutuhan dasar manusia yang relevan dengan pendidikan. Tiga kebutuhan tersebut adalah kebutuhan akan prestasi, kekuasaan, dan afiliasi. Ketiganya bekerja sebagai energi yang membentuk perilaku belajar seseorang dalam ruang sosial.

Need for Achievement berkaitan dengan dorongan untuk mencapai standar keberhasilan tertentu. Namun dalam praktik pendidikan, dorongan ini sering direduksi menjadi sekadar mengejar nilai. Akibatnya, proses belajar kehilangan dimensi personal dan berubah menjadi kompetisi administratif.

Need for Power sering disalahpahami sebagai dominasi atas orang lain. Padahal dalam konteks pendidikan, ia bisa diarahkan sebagai kemampuan mengelola diri dan memimpin proses belajar. Ketika tidak diarahkan dengan baik, dorongan ini dapat berubah menjadi perilaku otoriter atau pasif.

Need for Affiliation merujuk pada kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan sosial. Dalam ruang kelas, hal ini terlihat dari bagaimana siswa membangun hubungan dengan guru dan teman sebaya.

Namun jika tidak dikelola, ia bisa berubah menjadi ketergantungan sosial yang menghambat kemandirian belajar.

Guru berada dalam posisi yang kompleks di tengah tiga energi motivasi tersebut. Ia tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengelola dinamika psikologis kelas. Dalam banyak kasus, beban administratif membuat fungsi pedagogisnya tereduksi.

Sistem pendidikan akhirnya bergerak seperti mesin yang stabil tetapi kehilangan arah reflektif. Ia mampu menghasilkan lulusan secara kuantitatif, tetapi tidak selalu mampu membentuk manusia yang sadar akan proses belajarnya sendiri. Di titik ini, pendidikan menjadi rutinitas yang berulang tanpa transformasi yang mendalam.

Dalam tradisi Islam, terdapat konsep hijrah yang sering dipahami secara terbatas sebagai perpindahan fisik. Padahal secara maknawi, hijrah adalah perubahan orientasi hidup dari satu keadaan ke keadaan yang lebih baik. Ia adalah proses meninggalkan kebiasaan lama yang tidak produktif menuju kesadaran baru.

Hijrah dalam konteks pendidikan dapat dimaknai sebagai perubahan cara belajar dan cara memandang pengetahuan. Ia mengandaikan keberanian untuk meninggalkan pola belajar yang pasif dan mekanistik. Dalam arti ini, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi transformasi kesadaran.

Namun realitas pendidikan sering menyamarkan stagnasi sebagai keteraturan. Kurikulum yang rapi, jadwal yang tertib, dan evaluasi yang terstandar menciptakan ilusi bahwa sistem sedang berjalan dengan baik. Padahal di balik itu, bisa saja tidak terjadi perubahan substantif dalam diri peserta didik.

Karena itu, Muharram dapat dibaca sebagai momen simbolik untuk menguji ulang arah pendidikan. Ia bukan hanya awal tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga kesempatan untuk mengoreksi arah perjalanan kolektif.

Dalam konteks pendidikan, ia menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan revolusi besar, tetapi kesadaran yang terus diperbarui.

Spirit Hijrah dalam Motivasi Belajar

Spirit hijrah dalam pendidikan dimulai dari perubahan pusat kendali belajar itu sendiri. Motivasi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dorongan eksternal seperti nilai atau penghargaan. Ia harus bergerak menuju kesadaran internal yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Dalam perspektif McClelland, kebutuhan akan prestasi tidak lagi dipahami sebagai kompetisi semata.

Ia menjadi kemampuan untuk bertahan dalam proses belajar yang panjang dan tidak selalu nyaman. Prestasi di sini bukan hasil akhir, tetapi kualitas proses yang dijalani.

Kebutuhan akan kekuasaan dalam pendidikan tidak diarahkan untuk menguasai orang lain. Ia diubah menjadi kemampuan menguasai diri sendiri dan mengarahkan potensi secara bertanggung jawab. Dalam konteks ini, kepemimpinan dimulai dari disiplin pribadi.

Kebutuhan akan afiliasi juga mengalami transformasi makna. Ia tidak hanya menjadi kebutuhan untuk diterima, tetapi menjadi kesadaran bahwa belajar selalu berlangsung dalam ruang sosial. Relasi menjadi bagian dari proses pembentukan pengetahuan, bukan sekadar latar belakang.

Pendidikan Agama Islam memiliki posisi strategis dalam mengarahkan transformasi motivasi ini. Ia tidak hanya berfungsi sebagai penyampai nilai normatif, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran spiritual dalam belajar.

Dengan demikian, PAI menjadi ruang internalisasi nilai sekaligus pembentukan karakter.

Guru dalam kerangka ini tidak lagi sekadar penyampai materi. Ia menjadi penjaga arah yang memastikan bahwa proses belajar tidak kehilangan orientasi kemanusiaannya. Perannya bergeser dari instruktur menjadi fasilitator kesadaran.

Ki Hadjar Dewantara memberikan fondasi filosofis yang relevan dalam konteks ini.

Pendidikan dipahami sebagai proses memerdekakan manusia, bukan menundukkannya pada sistem. Konsep ini menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar.

Namun realitas menunjukkan bahwa pendidikan sering terjebak dalam orientasi hasil yang sempit. Fokus pada angka dan standar membuat proses pembelajaran kehilangan dimensi pembebasan. Akibatnya, siswa pintar secara akademis tetapi tidak selalu matang secara emosional dan sosial.

Moderasi beragama menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan pendidikan. Ia mencegah pendidikan terjebak dalam ekstremitas, baik dalam bentuk otoritarianisme maupun liberalisme tanpa batas. Pendidikan yang sehat membutuhkan keseimbangan antara akal, nilai, dan praktik sosial.

Di era digital, tantangan pendidikan menjadi semakin kompleks karena akses informasi tidak lagi terbatas. Siswa dapat memperoleh pengetahuan dengan cepat, tetapi tidak selalu memahami maknanya. Hal ini menciptakan paradoks antara akses dan pemahaman.

Karena itu, reformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan modernisasi teknologi. Yang lebih penting adalah transformasi cara manusia memaknai belajar itu sendiri. Tanpa itu, teknologi hanya mempercepat distribusi informasi tanpa meningkatkan kualitas pemahaman.

Pada akhirnya, pendidikan harus kembali pada pertanyaan dasarnya tentang manusia. Apakah sistem yang dibangun benar-benar membentuk individu yang sadar, reflektif, dan bertanggung jawab. Atau justru hanya menghasilkan manusia yang terbiasa menjalani rutinitas tanpa kesadaran yang mendalam.

Dalam momentum 1 Muharram ini, pendidikan Indonesia berdiri di antara dua kemungkinan. Ia bisa terus berjalan sebagai sistem administratif yang stabil, atau berubah menjadi ruang hijrah kolektif menuju kesadaran baru. Pilihan ini tidak hanya berada di tangan kebijakan, tetapi juga pada kesadaran setiap pelaku pendidikan.

Maka pada titik ini, satu pertanyaan perlu diajukan kembali: apakah pendidikan yang kita jalani hari ini benar-benar sedang mengubah manusia, atau hanya membuatnya semakin terbiasa untuk tidak berubah?. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda