SAMBAS, SP - Pagi baru saja merekah di Desa Sempadian, Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas. Embun masih menempel di dedaunan ketika para petani mulai menyusuri kebun karet yang membentang di sekitar desa.
Dengan pisau sadap di tangan, mereka menoreh batang demi batang pohon untuk mengumpulkan getah yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Dari goresan tipis pada kulit batang itulah getah putih perlahan mengalir ke mangkuk-mangkuk kecil yang tergantung di bawah pohon. Rutinitas itu berlangsung hampir setiap hari.
Bagi warga Sempadian, karet bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan bagian dari kehidupan yang telah diwariskan turun-temurun.
"Kalau pagi kami biasanya sudah di kebun sebelum matahari naik. Setelah selesai menyadap baru mengurus pekerjaan lain. Begitulah rutinitas petani karet di sini sejak dulu," ujar Daryadi Muhlis, Ketua Kelompok Tani Sempadian Karet Makmur.
Kehidupan masyarakat desa ini memang tidak bisa dipisahkan dari kebun karet. Dari hasil sadapan itulah kebutuhan rumah tangga dipenuhi, biaya pendidikan anak-anak dibayarkan, hingga berbagai keperluan keluarga sehari-hari tercukupi.
Hamparan kebun karet menjadi pemandangan yang akrab di Sempadian. Desa ini merupakan salah satu sentra perkebunan karet rakyat terbesar di Kabupaten Sambas. Dari sekitar 54 ribu hektare areal perkebunan karet yang tersebar di kabupaten tersebut, hampir seperempatnya atau sekitar 13.583 hektare berada di wilayah Sempadian.
Di Kelompok Tani Sempadian Karet Makmur, yang beranggotakan 10 orang petani, sebagian besar anggota mengelola kebun seluas sekitar satu hingga dua hektare. Dari sekitar 550 pohon karet produktif yang mereka rawat, setiap petani rata-rata mampu menghasilkan 20 hingga 26 kilogram karet kering per hari saat cuaca mendukung.

Menurut Daryadi, keberadaan kelompok tani menjadi tempat para petani saling bertukar pengalaman sekaligus mencari solusi ketika menghadapi persoalan di lapangan.
"Kalau ada masalah di kebun atau soal pemasaran, biasanya kami diskusikan bersama. Dengan kelompok tani, petani tidak merasa berjalan sendiri," katanya.
Kelompok tani juga berupaya menjaga kualitas bahan olah karet rakyat yang dihasilkan para anggota. Sebab kualitas menjadi salah satu faktor penting yang menentukan harga jual di pasaran.
"Kami selalu mengingatkan anggota agar menjaga mutu bokar. Jangan mencampur bahan lain yang bisa menurunkan kualitas. Kalau kualitas bagus, harga biasanya juga lebih baik," ujarnya.
Bagi petani karet, harga menjadi salah satu hal yang paling menentukan. Setelah beberapa tahun menghadapi fluktuasi yang cukup tajam, belakangan mereka mulai merasakan sedikit angin segar. Harga karet di Kalimantan Barat kembali menunjukkan tren membaik.
Pada akhir Mei 2026, harga karet dengan Kadar Karet Kering (KKK) 100 persen tercatat mencapai Rp40.409 per kilogram. Sementara untuk KKK 50 persen berada di kisaran Rp20.205 per kilogram.
Kenaikan tersebut memberi harapan baru bagi petani agar hasil kerja mereka kembali sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan setiap hari.
Meski demikian, jalan yang dilalui petani karet masih jauh dari kata mudah.
Musim hujan menjadi tantangan yang paling sering dihadapi. Saat hujan turun sejak dini hari, aktivitas penyadapan kerap tertunda.
Pohon yang basah tidak dapat disadap secara optimal, sementara getah yang bercampur air hujan berisiko menurunkan kualitas hasil.
"Kadang harga bagus, kadang turun. Cuaca juga sering tidak menentu. Tetapi petani tetap bekerja karena inilah mata pencaharian yang kami miliki," kata Daryadi.

Selain persoalan cuaca dan harga, petani juga menghadapi tantangan lain seperti produktivitas kebun yang belum optimal, penggunaan bibit yang kurang unggul, keterbatasan pemupukan, hingga gangguan hama dan penyakit tanaman.
Di sejumlah daerah, kondisi tersebut bahkan mendorong sebagian petani mengalihkan lahannya ke komoditas lain yang dianggap lebih menjanjikan, terutama kelapa sawit.
Namun bagi sebagian besar warga Sempadian, karet masih menjadi sandaran hidup yang sulit tergantikan.
Daryadi mengaku telah menyaksikan sendiri bagaimana hasil kebun karet mampu mengubah kehidupan banyak keluarga di desanya.
"Saya melihat banyak anak petani yang sekarang berhasil. Ada yang menjadi guru, ASN, membuka usaha sendiri. Orang tua mereka membiayai sekolah dari hasil menoreh karet setiap hari," tuturnya.
Cerita serupa disampaikan Ngah Isa. Pria paruh baya itu telah puluhan tahun bekerja sebagai petani karet. Sebagian besar perjalanan hidup keluarganya tidak pernah lepas dari hasil kebun.
"Alhamdulillah, dari karet inilah saya membesarkan anak-anak. Memang tidak selalu mudah, tetapi sampai hari ini karet masih menjadi sumber penghidupan utama kami," katanya.
Menurut Ngah Isa, keberadaan kelompok tani membuat para petani lebih mudah memperoleh informasi mengenai bibit, perawatan tanaman hingga perkembangan harga pasar.
"Dulu petani banyak bekerja sendiri-sendiri. Sekarang kalau ada informasi soal bibit, perawatan, atau harga, lebih cepat kami ketahui karena ada kelompok tani," ujarnya.
Di usianya yang tidak lagi muda, Ngah Isa masih menyimpan harapan agar generasi berikutnya tetap mau melanjutkan usaha perkebunan yang telah diwariskan orang tua mereka.
"Kami ingin anak-anak muda tidak malu menjadi petani. Kalau sektor perkebunan terus berkembang dan petani sejahtera, tentu banyak yang tertarik melanjutkan usaha kebun keluarga," katanya.
Harapan lain yang kerap muncul dalam perbincangan para petani adalah hadirnya industri pengolahan karet di daerah. Selama ini hasil kebun sebagian besar masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diterima petani relatif terbatas.
"Kalau nanti ada pabrik karet di Sambas, kami tentu senang. Hasil kebun bisa lebih bernilai dan petani punya peluang mendapatkan harga yang lebih baik," ujar Ngah Isa.
Di Sempadian, hasil kebun yang dibawa pulang petani setiap hari kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pola pemasaran tradisional. Dalam beberapa tahun terakhir, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mulai mengambil peran dalam menggerakkan potensi ekonomi masyarakat.
Direktur BUMDes Sempadian Permai Usaha, Aang Permana, mengatakan desa memiliki beragam potensi yang terus dikembangkan. Selain karet yang menjadi komoditas utama masyarakat, terdapat pula perkebunan kelapa dan kelapa sawit yang turut menopang perekonomian warga.
Menurut Aang, keberadaan BUMDes berupaya menjadi jembatan agar potensi-potensi tersebut dapat dikelola lebih baik dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
"Kami berusaha melihat apa yang menjadi kekuatan desa. Karet masih menjadi andalan masyarakat, tetapi ada juga potensi lain yang bisa terus dikembangkan untuk mendukung ekonomi warga," ujarnya.
Upaya tersebut mendapat dukungan melalui Program Desa BRILiaN yang diikuti Desa Sempadian sejak 2023. Melalui program itu, pemerintah desa dan pengelola BUMDes memperoleh pendampingan untuk memperkuat tata kelola usaha desa sekaligus menggali berbagai potensi yang dimiliki masyarakat.
Koordinator Rumah BUMN Sambas Kantor Cabang BRI Singkawang, Firmansyah, menilai Desa Sempadian memiliki modal yang cukup kuat untuk berkembang. Selain didukung sumber daya alam yang melimpah, masyarakatnya juga masih memiliki semangat yang tinggi dalam mengelola sektor perkebunan.
"Potensi desa ini cukup besar. Yang perlu terus diperkuat adalah pengelolaan usaha desa, kolaborasi masyarakat, dan pemanfaatan teknologi agar hasil yang diperoleh bisa semakin optimal," katanya. (aep mulyanto)