Sambas post authorKiwi 13 Juni 2026

Dari Kebun Gambut, Petani Sambas Menyeduh Asa

Photo of Dari Kebun Gambut, Petani Sambas Menyeduh Asa Anggota Kelompok Tani Batu Layar Sejahtera Desa Sendoyan, Kecamatan Sejangkung, menggelar panen bersama Kopi Liberika Sambas menandai keberhasilan menghidupkan kembali kejayaan kopi aslo dari Kalimantan Barat.suara pemred/aep mulyanto

SAMBAS, SP - Pagi masih basah oleh embun ketika Budi melangkah menyusuri kebun kopi di Desa Sendoyan, Kecamatan Sejangkung. Cahaya matahari yang baru muncul menembus sela-sela dedaunan, memantulkan warna hijau yang menenangkan mata.

Di antara barisan pohon kopi yang tumbuh di atas hamparan gambut, angin berembus perlahan membawa aroma yang tak biasa.
Harumnya menyerupai nangka matang.

Aroma itu telah lama menjadi penanda khas kopi liberika Sambas. Bagi warga Sendoyan, wangi tersebut bukan sekadar aroma kopi.
Ia adalah bagian dari kehidupan yang tumbuh bersama desa, mengiringi musim demi musim, serta menjadi saksi perjuangan para petani yang menggantungkan harapan pada tanah gambut.

Setiap pagi, Budi bersama anggota Kelompok Tani Batu Layar Sejahtera memulai aktivitas mereka di kebun. Mereka membersihkan rumput liar, memangkas ranting yang tak produktif, memeriksa kondisi tanaman, hingga memetik buah kopi yang telah berwarna merah sempurna.

Pekerjaan itu tampak sederhana. Namun di baliknya tersimpan ketekunan yang panjang. Tanah gambut bukanlah lahan yang mudah ditaklukkan.

Tingkat keasamannya tinggi, unsur haranya terbatas, dan kondisi air sering berubah mengikuti musim. Ketika hujan datang, lahan bisa terlalu basah. Sebaliknya saat kemarau, ancaman kekeringan bahkan kebakaran selalu menghantui.

Namun justru di atas lahan yang dianggap sulit itulah kopi liberika menemukan rumah terbaiknya.

"Dulu banyak yang belum melihat kopi liberika sebagai peluang besar. Sekarang masyarakat mulai merasakan manfaatnya. Hasil panen bisa membantu kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, bahkan membuka peluang usaha baru di desa," kata Budi.

Perjalanan menuju titik itu tidak berlangsung singkat. Bertahun-tahun lalu, liberika belum mendapatkan tempat istimewa seperti sekarang. Di tengah popularitas kopi arabika dan robusta, keberadaannya sering dipandang sebelah mata.

Banyak orang mengenalnya hanya sebagai kopi kampung. Karakter rasanya yang unik justru dianggap kelemahan. Aromanya yang menyerupai nangka dan profil rasanya yang berbeda membuat sebagian konsumen belum terbiasa.

Di sisi lain, pengetahuan mengenai pengolahan pascapanen masih terbatas sehingga kualitas biji kopi yang dihasilkan belum seragam. Akibatnya, harga jual liberika relatif rendah.

Hasil panen petani hanya berputar di pasar lokal dengan nilai ekonomi yang belum mampu mengubah kehidupan mereka secara signifikan.

Meski demikian, sebagian petani tetap bertahan. Mereka percaya tanaman yang telah lama tumbuh di tanah gambut Sambas itu menyimpan potensi yang suatu hari akan menemukan jalannya sendiri.

Keyakinan tersebut perlahan mulai menemukan jawabannya. Ketika tren specialty coffee berkembang di Indonesia, banyak penikmat kopi mulai mencari karakter rasa yang berbeda.

Mereka tidak lagi hanya mencari kopi yang kuat atau pahit, tetapi juga pengalaman rasa yang unik. Di situlah liberika mulai menarik perhatian.

Aroma nangka matang, sentuhan rasa buah-buahan tropis, body yang tebal, serta karakter khas yang tidak dimiliki kopi lain menjadikan liberika memiliki identitas yang kuat.

Desa Sendoyan pun perlahan bangkit menjadi salah satu sentra pengembangan liberika di Kalimantan Barat. Melalui Gerakan Tanam Kopi Liberika yang digerakkan Kelompok Tani Batu Layar Sejahtera, lahan-lahan gambut mulai ditanami kembali.

Ribuan bibit baru ditanam sejak beberapa tahun terakhir sebagai upaya mengembalikan kejayaan kopi yang sempat meredup.
Kini luas budidaya liberika di Desa Sendoyan mencapai sekitar 100 hektare. Sementara secara keseluruhan, luas perkebunan kopi di Kabupaten Sambas mencapai hampir 2.000 hektare.

Kebangkitan itu tidak hanya terlihat dari semakin luasnya kebun yang ditanami, tetapi juga dari meningkatnya nilai ekonomi yang diterima petani.

Perubahan juga terjadi dalam cara petani mengolah hasil panen.

Jika dahulu pengolahan dilakukan secara sederhana, kini para petani mulai mempelajari teknik pascapanen yang lebih baik. Metode natural process dan honey process diperkenalkan untuk meningkatkan kualitas biji kopi sehingga mampu bersaing di pasar premium. Hasilnya mulai terlihat.

Menurut Budi, petani kini semakin memahami bahwa kualitas menjadi kunci untuk memperoleh harga yang lebih baik.

"Dulu kami menjual hasil panen apa adanya. Yang penting laku. Sekarang kami belajar memilih buah yang benar-benar matang, mengolah dengan lebih baik, dan menjaga kualitas. Ternyata pasar menghargai itu," ujarnya.

Saat ini harga kopi liberika di tingkat petani berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram, tergantung mutu biji kopi yang dihasilkan. Nilai tersebut jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu ketika liberika belum banyak dilirik pasar. Bagi petani, kenaikan harga itu bukan sekadar angka.

"Ada rasa bangga juga. Dulu kopi ini sering dianggap kopi kampung. Sekarang banyak orang mencari dan ingin mencoba. Kami merasa usaha yang selama ini dilakukan tidak sia-sia," kata Budi sambil tersenyum.

Di balik harga tersebut, tersimpan cerita tentang perubahan cara pandang terhadap liberika. Kopi yang dahulu dianggap biasa kini mulai menempati posisi baru sebagai kopi khas dengan karakter eksotis yang dicari penikmat specialty coffee.

Nilai tambah semakin meningkat ketika kopi tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah. Melalui proses pengolahan yang lebih baik, kopi liberika Sambas mulai dipasarkan dalam bentuk roasted bean maupun bubuk kemasan.
Di pasaran, produk kopi Liberika Sambas dijual mulai sekitar Rp55 ribu hingga lebih dari Rp250 ribu, tergantung ukuran kemasan dan kualitas proses pengolahannya.

Bahkan untuk produk premium dengan mutu terbaik dan proses seleksi ketat, harga jualnya dapat mencapai sekitar Rp595 ribu per kilogram.

Angka-angka itu menjadi bukti bahwa kopi yang tumbuh di atas lahan gambut ternyata mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Perjalanan kopi Sendoyan menuju pasar yang lebih luas turut dirasakan oleh Lang Jagat, pemilik merek Liber.co. Sejak 2018, ia menekuni usaha pengolahan kopi liberika Sambas.

Baginya, yang dijual bukan hanya kopi, melainkan cerita tentang tanah gambut, tentang petani, dan tentang sebuah desa yang perlahan bangkit melalui secangkir minuman.

"Setiap daerah memiliki karakter kopi masing-masing. Liberika Sambas memiliki aroma dan rasa yang khas. Banyak orang menyebutnya memiliki aroma nangka, dan itu yang membuatnya mudah dikenali," katanya.

Melalui berbagai pameran dan promosi UMKM, kopi liberika Sambas mulai dikenal di berbagai daerah. Konsumen yang awalnya hanya penasaran, kemudian datang kembali karena tertarik pada karakter rasanya yang unik.

"Saat orang mencoba, mereka biasanya langsung mencari tahu asal kopinya dari mana. Dari situ mereka mengenal Sambas. Jadi yang kami perkenalkan bukan hanya produknya, tetapi juga daerah dan para petani yang ada di belakangnya," ujarnya.

Menurut Lang Jagat, pasar specialty coffee membuka ruang baru bagi liberika.

"Konsumen sekarang tidak hanya mencari kopi yang enak. Mereka juga mencari cerita di balik kopi itu. Ketika mereka tahu kopi ini tumbuh di lahan gambut dan memiliki aroma nangka yang khas, mereka menjadi tertarik," katanya.

Perlahan, kopi dari kebun-kebun gambut Sendoyan menempuh perjalanan yang jauh. Dari Sambas menuju Pontianak. Dari Kalimantan menuju Jawa. Bahkan melintasi batas negara hingga Kuching, Sarawak.
Permintaan terus berdatangan dari berbagai pelaku usaha kopi dan UMKM di Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, hingga sejumlah daerah lainnya. “Dalam sebulan, kebutuhan pasar dapat mencapai sekitar 50 kilogram, jumlah yang terkadang masih sulit dipenuhi karena keterbatasan produksi,” kata Lang Jagat.

“Yang kami kirim adalah Kopi Liberika Sambas (bubuk/biji) dengan proses honey dengan harag di pasaran sekitar Rp55.000 per 250 gram. Sementara kalau pasar premium dengan harga jual tinggi, mencapai Rp595 ribu per kilogram,” tuturnya.

Jejak kopi Sendoyan juga dapat ditemukan di sejumlah kedai kopi di Pontianak, kota yang dikenal dengan budaya warung kopinya yang kuat.

Salah satunya di Coffee 101 Pontianak. Di sana aroma khas liberika Sambas menjadi pengalaman baru bagi sebagian pelanggan.
Reza Pratama mengaku pertama kali mengenal kopi tersebut dari kedai itu.
"Saya cukup sering mencoba kopi dari berbagai daerah, tetapi liberika Sambas ini berbeda. Begitu diseduh langsung tercium aroma seperti nangka matang. Rasanya juga unik, tidak terlalu pahit dan meninggalkan kesan yang khas," ujarnya.

Menurut Reza, keunikan itu membuatnya kembali memesan kopi yang sama setiap kali berkunjung.

"Biasanya kalau ada teman dari luar daerah, saya rekomendasikan untuk mencoba kopi ini. Karena karakter rasanya memang berbeda dengan kopi yang umum ditemukan," kata Reza.

Bagi para petani di Sendoyan, setiap testimoni seperti itu terasa istimewa.
Sebab di balik secangkir kopi yang dinikmati seseorang di kota lain, ada kerja panjang yang berlangsung selama berbulan-bulan di kebun-kebun mereka.

Ada tanah yang diolah. Ada bibit yang ditanam. Ada pohon yang dirawat setiap hari. Ada musim yang ditunggu dengan sabar. Dan ada harapan yang terus dipelihara.

Perjalanan itu semakin kuat berkat dukungan berbagai pihak. Melalui Rumah BUMN Sambas yang dikelola BRI Cabang Singkawang, para petani dan pelaku UMKM mendapatkan pendampingan usaha, pelatihan pemasaran digital, pengembangan produk, hingga perluasan akses pasar.

Koordinator Rumah BUMN Sambas Kantor Cabang BRI Singkawang, Firmansyah, mengatakan pendampingan menjadi bagian penting agar produk lokal mampu berkembang dan memiliki daya saing yang lebih kuat.

"Setiap produk lokal memiliki potensi untuk berkembang. Tugas kami adalah mendampingi mereka agar memiliki kemampuan usaha yang lebih baik, memahami pemasaran digital, meningkatkan kualitas produk, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas," katanya.

Sepanjang 2024, Rumah BUMN Sambas menyelenggarakan 34 pelatihan penguatan kapasitas. Jumlah tersebut meningkat menjadi 80 pelatihan pada 2025 sebagai bentuk komitmen mendukung UMKM dan petani lokal agar semakin berkembang.

Bagi Firmansyah, keberhasilan sebuah produk bukan hanya soal penjualan, melainkan bagaimana manfaat ekonominya dapat kembali kepada masyarakat yang menghasilkannya.

"Kami ingin UMKM dan petani binaan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas. Ketika produk mereka semakin dikenal dan pasar semakin luas, manfaat ekonominya akan kembali kepada keluarga dan masyarakat di daerah asalnya," ujarnya.
Sore hari perlahan turun di Desa Sendoyan.

Angin kembali berembus di antara pohon-pohon kopi yang berjajar rapi di atas tanah gambut. Harum khas liberika kembali menguar, menyatu dengan suara alam yang mengiringi aktivitas para petani yang bersiap mengakhiri hari.

Di kebun-kebun itulah harapan terus tumbuh. Harapan yang dulu nyaris tenggelam bersama rendahnya harga dan minimnya perhatian pasar. Harapan yang kini kembali menemukan jalannya melalui secangkir kopi dengan aroma nangka yang khas.

Dan selama pohon-pohon liberika itu tetap berdiri di tanah gambut Sendoyan, para petani akan terus merawatnya.

Karena mereka percaya, dari kebun sederhana di sudut utara Kalimantan Barat itu, masa depan yang lebih baik sedang diseduh perlahan, setetes demi setetes, dalam setiap cangkir kopi yang sampai ke tangan penikmatnya.(aep mulyanto)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda