PONTIANAK, SP – Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas OSO (Himaika) bersama KODAERAL XII dan Pemerintah Kabupaten Mempawah menanam 2.000 bibit mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Mempawah dengan melibatkan sekitar 300 peserta dari berbagai unsur.
Aksi tersebut menjadi bagian dari upaya rehabilitasi ekosistem pesisir sekaligus memperingati Hari Mangrove Sedunia dan HUT ke-1 KODAERAL XII Pontianak.
Kegiatan bertajuk “Revitalisasi Sejuta Mangrove” itu mengusung tema “Kolaborasi, Edukasi, dan Aksi Nyata dalam Mewujudkan Ekosistem Pesisir yang Lestari”. Seluruh peserta berkumpul di Kampus Universitas OSO Pontianak sebelum menuju lokasi penanaman di pesisir Mempawah.
Peserta yang terlibat berasal dari mahasiswa, pelajar, personel TNI, pemerintah daerah, akademisi, komunitas lingkungan, hingga masyarakat umum. Sebanyak 2.000 bibit mangrove jenis Rhizophora apiculata dan Rhizophora mucronata ditanam di sepanjang area pesisir sekitar 500 meter.
Kedua spesies tersebut dipilih karena memiliki kemampuan adaptasi tinggi di kawasan berlumpur serta berfungsi menahan abrasi dan menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Kegiatan itu turut dihadiri Komandan KODAERAL XII, Bupati Mempawah, Ketua DPRD Kabupaten Mempawah, Kapolres Mempawah, Dandim Mempawah, Rektor Universitas OSO, Rektor Universitas Muhammadiyah Pontianak, serta Pembina Himaika Universitas OSO.
Pembina Himaika Universitas OSO, Hendi Santoso, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam menjaga kawasan pesisir Kalbar dari ancaman abrasi dan kerusakan lingkungan.
“Pelestarian mangrove tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi berbagai pihak agar manfaat ekologis maupun ekonominya dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan,” katanya, Minggu (2/8).
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan, termasuk para sponsor yang dinilai memiliki kepedulian terhadap upaya pelestarian lingkungan.
Sementara itu, Ketua Himaika Universitas OSO, Leondardy Saputra, menegaskan bahwa generasi muda harus menjadi motor penggerak dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Kata dia, keterlibatan mahasiswa, aparat TNI, pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, hingga pelajar menunjukkan bahwa upaya pelestarian lingkungan hanya dapat berhasil melalui kolaborasi yang kuat antarberbagai elemen masyarakat.
“Kami ingin memastikan penanaman mangrove tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Setelah ini akan dilakukan pemantauan pertumbuhan bibit, pendampingan kepada masyarakat, serta kolaborasi berkelanjutan agar manfaat ekologinya benar-benar dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Selain mahasiswa, pelajar SMAN 3 Pontianak juga turut berpartisipasi dalam aksi tersebut dengan menanam bibit mangrove secara langsung di kawasan pesisir.
Melalui program Revitalisasi Sejuta Mangrove, Himaika Universitas OSO berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, aparat keamanan, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat terus diperkuat guna mendukung pelestarian ekosistem pesisir di Kalbar. (din)