Oleh : Mei Purwowidodo
RIUH rendah soal nilai tukar dolar, indeks saham, dan berbagai indikator ekonomi memang selalu menarik perhatian publik.
Para ekonom, pengamat, pelaku usaha, hingga masyarakat biasa memiliki sudut pandang masing-masing dalam melihat situasi tersebut.
Tidak ada yang salah, karena dalam negara demokrasi, perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan berbangsa.
Namun ada satu hal yang juga penting untuk kita renungkan bersama. Bagi generasi yang lahir pada tahun 1960-an dan 1970-an, naik turunnya nilai tukar rupiah bukanlah cerita baru.
Kita pernah melewati berbagai krisis, mulai dari gejolak ekonomi, pergantian rezim, krisis moneter 1998, hingga berbagai dinamika global lainnya. Semua itu pernah membuat masyarakat cemas, tetapi bangsa ini tetap berdiri dan terus berjalan.
Sampai hari ini, sebagian besar rakyat masih bisa menyekolahkan anak-anaknya, bekerja, berusaha, memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan.
Teknologi terus berkembang, kendaraan terus berganti, komunikasi semakin mudah, dan kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Tentu bukan berarti kita mengabaikan tantangan ekonomi, tetapi juga tidak perlu setiap saat terjebak dalam kepanikan.
Presiden Prabowo pernah menyampaikan bahwa pergerakan dolar tidak selalu dirasakan langsung oleh masyarakat pedesaan. Pernyataan itu dapat dimaknai bahwa kehidupan rakyat tidak semata-mata ditentukan oleh angka yang bergerak di layar bursa atau pasar valuta asing.
Bagi petani, nelayan, pedagang kecil, tukang, dan pelaku UMKM, yang lebih penting adalah hasil panen, daya beli masyarakat, harga kebutuhan pokok, serta kesempatan untuk bekerja dan berusaha.
Sering kali kita terlalu fokus pada angka-angka besar, tetapi lupa melihat realitas kehidupan sehari-hari. Padahal ekonomi pada akhirnya adalah tentang bagaimana masyarakat dapat hidup layak, bekerja dengan tenang, dan memiliki harapan terhadap masa depan.
Sejarah dunia juga mengajarkan bahwa geopolitik selalu berubah. Dari Perang Dunia, Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, hingga rivalitas ekonomi antara Amerika Serikat dan Tiongkok saat ini.
Pemimpin dunia datang dan pergi, tetapi negara-negara tetap berusaha menjaga kepentingan nasionalnya. Dinamika global adalah sesuatu yang akan terus berlangsung dan setiap negara harus beradaptasi.
Indonesia pun demikian. Dalam sistem demokrasi, rakyat memilih pemimpinnya setiap lima tahun sekali.
Setelah pilihan itu ditetapkan secara konstitusional, sudah sewajarnya kita memberikan ruang dan kesempatan kepada presiden terpilih untuk menjalankan visi, misi, dan kebijakannya.
Kepercayaan bukan berarti menutup mata terhadap kritik. Kritik tetap diperlukan sebagai bentuk kontrol publik. Namun kritik yang konstruktif berbeda dengan pesimisme yang berlebihan. Jika setiap kebijakan langsung dianggap gagal sebelum sempat dijalankan, maka ruang untuk membuktikan diri menjadi sangat sempit.
Pada dasarnya tidak ada satu pun presiden yang ingin meninggalkan warisan buruk bagi bangsanya. Dari Presiden Sukarno, Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga Prabowo Subianto, semuanya tentu ingin dikenang sebagai pemimpin yang memberikan manfaat bagi rakyat dan negaranya.
Soal berhasil atau tidak, sejarah yang akan menilai secara objektif. Karena itu, sebagai rakyat, kita perlu menjaga keseimbangan antara kepercayaan dan pengawasan. Percaya kepada nahkoda yang dipilih mayoritas rakyat, tetapi tetap mengawasi arah kapal agar tetap menuju tujuan yang benar.
Seperti kata Gus Dur yang sering dikutip masyarakat dengan senyum, "Gitu aja kok repot."
Kadang-kadang yang kita perlukan bukan kepanikan, melainkan ketenangan, kerja keras, dan keyakinan bahwa bangsa ini memiliki kemampuan untuk beradaptasi menghadapi setiap tantangan zaman.
Selama fondasi kehidupan masyarakat masih terjaga, selama rakyat masih mau bekerja dan berusaha, serta selama pemerintah dan masyarakat berjalan dalam semangat yang sama untuk memajukan Indonesia, maka optimisme adalah pilihan yang lebih produktif daripada kegelisahan yang berlebihan.
Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh nilai tukar mata uangnya, tetapi juga oleh kepercayaan rakyat terhadap masa depan negaranya. Merdeka...!! (*)