Opini post authorKiwi 02 Juni 2026

Dollar dalam Secangkir Kopi dan Lepat Ubi

Photo of Dollar dalam Secangkir Kopi dan Lepat Ubi

Oleh : Mei Purwowidodo

SUATU pagi di warkop, topik yang paling laris bukan lagi sepak bola atau politik, melainkan kurs dollar terhadap rupiah.

Ada yang membuka aplikasi kurs setiap lima menit sekali. Ada yang mengeluh seolah dirinya eksportir besar.

Bahkan ada yang terlihat paling khawatir, padahal tabungannya tidak dalam dollar dan usahanya pun tidak berhubungan dengan perdagangan internasional.

Begitulah uniknya kehidupan. Kadang kita ikut cemas pada sesuatu yang bahkan tidak memiliki pengaruh langsung terhadap keseharian kita.

Padahal sejak dulu para ekonom dunia telah mengingatkan bahwa ekonomi adalah sesuatu yang dinamis. Ekonomi bukan foto yang diam, melainkan film yang terus bergerak.

Ekonom peraih Nobel, Milton Friedman pernah mengatakan bahwa tidak ada makan siang yang benar-benar gratis...! Setiap kebijakan ekonomi selalu memiliki konsekuensi dan penyesuaian.

Sementara John Maynard Keynes mengingatkan bahwa kesulitan terbesar bukanlah menerima ide baru, melainkan melepaskan cara berpikir lama.

Banyak orang masih membayangkan ekonomi ideal adalah ekonomi yang selalu stabil dan tidak berubah.

Padahal dalam kenyataannya, perubahan adalah bagian alami dari kehidupan ekonomi itu sendiri.

Bahkan Joseph Schumpeter memperkenalkan konsep creative destruction, bahwa kemajuan sering lahir dari perubahan, guncangan, dan penyesuaian.

Dunia usaha, teknologi, hingga negara-negara besar terus beradaptasi karena tidak ada kondisi yang benar-benar tetap.

Di warung kopi beda lagi, perdebatan bisa berlangsung berjam-jam. Ada yang menyalahkan pemerintah, ada yang menyalahkan pasar global, ada yang menyalahkan negara lain. Semua berbicara dari sudut pandang dan pengetahuan yang dimiliki.

Namun di luar perdebatan itu, pasar tetap buka, pedagang tetap berjualan, petani tetap ke sawah, nelayan tetap melaut, karyawan tetap bekerja, dan anak-anak tetap berangkat sekolah. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya.

Tentu nilai tukar rupiah penting untuk diperhatikan karena memengaruhi harga barang impor, biaya produksi, dan berbagai sektor ekonomi.

Namun selama masyarakat masih bisa bekerja, berusaha, makan, dan menjalankan aktivitasnya dengan baik, tidak setiap pergerakan kurs harus menjadi sumber kepanikan.

Kadang kita terlalu sibuk mengamati angka di layar hingga lupa memperhatikan kehidupan nyata di sekitar kita.

Kestabilan memang baik, tetapi sejarah menunjukkan bahwa dunia tidak pernah benar-benar stabil. Krisis datang dan pergi. Harga naik dan turun.

Mata uang menguat lalu melemah. Itulah siklus yang selalu menyertai perjalanan peradaban manusia.

Maka bagi kebanyakan dari kita yang bukan gubernur bank sentral, bukan menteri keuangan, dan bukan pelaku pasar valuta asing, mungkin sikap paling bijak adalah tetap fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan.

Bekerja lebih baik hari ini daripada kemarin. Menjaga keluarga. Meningkatkan keterampilan. Memperkuat usaha dan penghasilan.

Karena pada akhirnya, kesejahteraan seseorang lebih banyak ditentukan oleh produktivitas dan kemampuan beradaptasi dibandingkan oleh angka kurs yang berubah setiap hari.

Nikmati secangkir kopi, dengarkan berbagai pendapat di warkop, ambil hikmah dari setiap perbincangan. Namun jangan sampai kegaduhan informasi membuat kita lupa menjalani kehidupan yang nyata.

Sebab ekonomi negara memang penting, tetapi kehidupan kita tidak boleh berhenti hanya karena angka dollar sedang naik atau turun. Tugas kita adalah terus berkarya.

Adapun urusan besar negara, percayakan kepada mereka yang diberi amanah untuk mengelolanya, sembari tetap menjadi warga yang kritis, rasional, dan optimis menghadapi masa depan.

Dollar naik janganlah gusar. Jangan pula hati terbakar. Manusia hidup bukan karena dollar, tapi karena usaha, doa, dan sabar. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda