PONTIANAK, SP - Suasana khusyuk dan penuh kehangatan mewarnai pelaksanaan Program Sajadah Fajar pada Sabtu (6/6/2026) di Masjid Al Ittihad atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Masjid Kubah Merah, Komplek Arikarya Indah IV, Kabupaten Kubu Raya. Kegiatan yang menjadi agenda harian setiap usai salat Subuh ini kembali mempererat ukhuwah Islamiyah antarjamaah melalui konsep salat berjamaah berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya.
Kedatangan rombongan Jamaah Sajadah Fajar disambut hangat oleh Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Ittihad, H. Arsyad, bersama para jamaah setempat. Program yang berada di bawah pembinaan dan pengelolaan H. Munir dan H. Ahmad Nurdin tersebut terus menunjukkan konsistensinya dalam menghidupkan waktu fajar dengan ibadah dan silaturahmi.
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan salat Subuh berjamaah yang diimami oleh Sekretaris DKM Masjid Al Ittihad, Sholihin HZ. Setelah salat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lantunan zikir Asmaul Husna, serta tausiyah keagamaan yang disampaikan oleh Sholihin HZ.
Dalam tausiyahnya, Sholihin HZ yang juga menjabat sebagai Kepala MAN 1 Pontianak mengingatkan pentingnya memanfaatkan kesempatan hidup untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa pada hari kiamat nanti Allah akan menghadirkan empat golongan manusia sebagai hujjah atau dalil untuk mematahkan berbagai alasan manusia yang enggan beribadah selama hidup di dunia.
“Empat orang tersebut adalah Nabi Sulaiman as, ia adalah hujjah Allah SWT untuk mereka yang malas beribadah karena alasan sibuk mengurus kekayaan. Mengapa kalian tidak mentaatiku? Tanya Allah, “kami sibuk mengurus barang dagangan, niaga, kekayaan dan harta yang berlimpah. “AKU memiliki hamba yang kekayaannya lebih dari kalian tapi tetap beribadah kepadaku.” Mereka akan menjadi hujjah Allah untuk menunjukkan bahwa alasan manusia meninggalkan ibadah tidak dapat dibenarkan,” jelasnya mengawali kelompok pertama yang akan dijadikan hujjah atas malasnya manusia untuk taat kepada Allah SWT.
Orang kedua yang diajukan adalah mereka yang meninggalkan ibadah karena sakit. Allah SWT lantas mengajukan nabi Ayyub as yang meski sakitnya kuta, namun tidak meninggalkan ibadah kepada Allah SWT.
“Berikutnya adalah orang yang meninggalkan ibadah kepada Allah SWT karena posisi pekerjaannya sebagai buruh, office boy, pekerja bawahan, staff, kuli. Kelompok ini berdalih bahwa mereka tidak beribadah karena keadaan mereka yang tidak memungkinkan untuk taat. Lantas Allah SWT mengajukan hamba-Nya Yusuf as yang dikala mudanya adalah budak belian, dijual-belikan, dibawah perintah majikan tempat ia tinggal.
Allah SWT lantas berdalih, “AKU memiliki hamba juga seperti kalian tetapi ia tidak meninggalkan ketaatan kepadaKU, terakhir mereka yang hidupnya miskin, papa, dan lemah ekonomi dan menjadikannya sebagai alasan untuk tidak taat kepada Allah SWT.
Allah berujar bahwa ia memiliki hamba yakni Isa as, hidupnya juga seperti halnya demikian tetap ia tidak meninggalkan ketaatan kepada Allah SWT.” pungkas pentaushiyah yang juga dikenal dengan penulis kolom opini di media lokal.
Menurutnya, keberadaan golongan-golongan tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa selama seseorang diberikan kondisi demikian, maka tidak ada alasan untuk menunda ketaatan kepada Allah SWT.
“Karena itu, waktu fajar yang penuh keberkahan ini hendaknya dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan menghadiri majelis ilmu merupakan bekal yang sangat berharga bagi kehidupan dunia dan akhirat,” ujarnya di hadapan jamaah.
Kegiatan Sajadah Fajar di Masjid Al Ittihad berlangsung dengan penuh kekeluargaan. Selain menjadi sarana meningkatkan kualitas ibadah, program ini juga menjadi wadah memperkuat silaturahmi dan kebersamaan antarumat Islam di wilayah Pontianak dan Kubu Raya.
Para jamaah berharap Program Sajadah Fajar dapat terus istiqamah dilaksanakan dan menjangkau lebih banyak masjid, sehingga semangat memakmurkan rumah Allah pada waktu subuh semakin tumbuh di tengah masyarakat. Dengan semangat kebersamaan dan kecintaan kepada masjid, Sajadah Fajar diharapkan menjadi salah satu gerakan nyata dalam membangun masyarakat yang religius dan berkarakter Islami. (aep)