Ponticity post authorKiwi 12 Juni 2026

Kalbar Tuan Rumah Rakernas ARSADA XVI

Photo of Kalbar Tuan Rumah Rakernas ARSADA XVI Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi tuan rumah Rakernas ARSADA XVI yang dibuka Gubernur Ria Norsan.  ISTIMEWA

PONTIANAK, SP – Kalimantan Barat (Kalbar) dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) ke-16 tahun 2026. Kegiatan yang mempertemukan pengelola rumah sakit daerah dari berbagai wilayah di Indonesia itu secara resmi dibuka Gubernur, Ria Norsan, Kamis (11/6/2026).

Salah satu pembahasan dalam agenda tersebut yakni kemandirian rumah sakit daerah masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) besar di Indonesia. Hingga kini, hanya sekitar 20 hingga 25 rumah sakit daerah yang dinilai telah mandiri secara finansial, sementara sebagian besar lainnya masih bergantung pada dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Ketua Arsada Wilayah Kalbar, Hary Agung Tjahyadi, mengatakan persoalan tata kelola rumah sakit daerah, khususnya yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam rakernas.

Menurutnya, tingkat kemandirian rumah sakit daerah di Indonesia masih sangat beragam. Ada yang telah mandiri, menuju mandiri, hingga yang masih sangat bergantung pada dukungan pemerintah daerah. 

"Perkiraan sementara baru sekitar 20 sampai 25 rumah sakit di Indonesia yang mandiri. Selebihnya belum mandiri. Artinya pendapatannya masih belum mampu menutupi seluruh biaya operasional,” ujarnya.

Hary menjelaskan, rumah sakit dapat dikategorikan mandiri apabila pendapatan BLUD telah mampu menutup lebih dari 80 persen kebutuhan operasional. Semakin tinggi persentasenya, semakin tinggi pula tingkat kemandiriannya.

Ia mencontohkan seperti RSUD Soedarso yang saat ini telah mencapai tingkat kemandirian sekitar 86 persen, sehingga sudah masuk kategori rumah sakit mandiri. 

"Dalam beberapa tahun terakhir pendapatan BLUD Soedarso meningkat cukup signifikan. Di sisi lain, porsi APBD secara bertahap berkurang, dan diarahkan untuk belanja modal serta pengembangan rumah sakit,” jelasnya.

Meski demikian, Hary yang juga Direktur RSUD Soedarso itu menegaskan, dukungan pemerintah daerah masih sangat dibutuhkan, terutama bagi rumah sakit yang pendapatannya belum mampu menutup biaya operasional. Dukungan tersebut antara lain melalui penyediaan sarana, prasarana, hingga alat kesehatan.

Selain persoalan kemandirian rumah sakit, kualitas pelayanan juga menjadi tantangan besar yang masih dihadapi rumah sakit di daerah. Menurut Hary, tingginya jumlah pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan membuat rumah sakit daerah harus bekerja lebih keras meningkatkan kecepatan, dan kualitas pelayanan.

“Bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana mengelola hospitality, keramahan kepada pasien, dan kecepatan pelayanan. Ini yang masih menjadi tantangan rumah sakit daerah,” katanya.

Di RSUD Soedarso misalnya, jumlah pasien rawat jalan setiap harinya disebutkan dia, mencapai 800 hingga 1.000 orang. Sementara pasien yang masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) berkisar 80 hingga 120 orang per hari. Tingginya kunjungan pasien tersebut juga berdampak pada tingkat keterisian tempat tidur. 

"Nah ini saya kira tantangan juga untuk rumah sakit daerah, agar memberikan pelayanan lebih cepat. Sekali lagi ya, menambah sarana-prasarana, dan juga menambah SDM," terangnya.

Dalam kesempatan itu Gubernur Ria Norsan menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kalbar sebagai tuan rumah Rakernas ARSADA XVI.

Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus kesempatan bagi Kalbar untuk menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan nasional.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Kalbar, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta Rakernas ARSADA. Kami merasa terhormat karena Kalimantan Barat dipercaya menjadi tuan rumah forum nasional yang sangat penting ini,” ujarnya.

Ria Norsan berharap forum tersebut tidak hanya menghasilkan rekomendasi di atas kertas, tetapi mampu melahirkan langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan di rumah sakit daerah seluruh Indonesia.

“Harapan saya, Rakernas ini menghasilkan musyawarah dan mufakat yang dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Tema yang kita usung hari ini harus benar-benar diimplementasikan sehingga mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat,” katanya.

Selain menjadi ajang membahas transformasi layanan kesehatan, Rakernas ARSADA juga menjadi momentum memperkenalkan Kalimantan Barat kepada para peserta dari berbagai daerah. Norsan mengajak seluruh tamu yang hadir untuk menikmati keindahan alam, keragaman budaya, serta kuliner khas Kalbar selama berada di Pontianak.

Menurutnya, Kalbae memiliki banyak potensi yang layak dikenal lebih luas, termasuk letaknya yang strategis karena berbatasan langsung dengan Malaysia.

“Kalau ada waktu luang, silakan menikmati destinasi wisata dan kuliner khas Kalbar. Daerah kita memiliki banyak potensi yang patut dikenal lebih luas, termasuk akses yang semakin mudah menuju negara tetangga seperti Kuching, Sarawak,” ujarnya. (din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda