Mempawah post authorelgiants 11 Juni 2026

Ikan Keramba Mati Massal di Sungai Mempawah, Air Sungai Terlalu Asam Diduga Jadi Pemicu

Photo of Ikan Keramba Mati Massal di Sungai Mempawah, Air Sungai Terlalu Asam Diduga Jadi Pemicu

Ratusan bahkan diduga ribuan ekor ikan budidaya di keramba apung sepanjang aliran Sungai Mempawah, Kabupaten Mempawah, ditemukan mati secara massal sejak Rabu (10/6/2026). Peristiwa yang terjadi secara mendadak itu membuat para pembudidaya ikan panik sekaligus mengalami kerugian yang tidak sedikit.

Sejumlah pemilik keramba mulai menemukan ikan-ikan peliharaan mereka mengapung di permukaan air dalam kondisi mati. Fenomena tersebut terjadi hampir di sejumlah titik kawasan budidaya keramba apung yang selama ini menjadi sentra produksi ikan air tawar masyarakat setempat.

Kematian ikan secara massal itu tidak hanya mengganggu aktivitas budidaya, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terkait kondisi kualitas air Sungai Mempawah yang selama ini menjadi tumpuan utama usaha perikanan masyarakat.

Berdasarkan informasi yang berkembang di lapangan, peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan perubahan kondisi perairan yang terjadi secara tiba-tiba setelah wilayah Mempawah diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi. Kondisi itu terjadi saat debit air sungai sedang mengalami penurunan akibat musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Perubahan karakteristik air secara mendadak diduga memengaruhi kadar oksigen terlarut maupun kualitas perairan sehingga menyebabkan ikan mengalami stres dan tidak mampu bertahan hidup. Namun hingga kini, penyebab pasti kematian massal tersebut masih menunggu hasil kajian lebih lanjut dari pihak berwenang.

Peristiwa ini menjadi pukulan berat bagi para pembudidaya ikan yang selama ini menggantungkan penghasilan dari usaha keramba apung di Sungai Mempawah. Tidak sedikit dari mereka yang harus menyaksikan ikan siap panen mati dalam waktu singkat.

Pemerintah Kabupaten Mempawah bergerak cepat merespons peristiwa kematian massal ikan keramba yang terjadi di sepanjang aliran Sungai Mempawah, Kamis (11/6/2026).

Melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DPKPP), tim langsung diterjunkan ke lapangan untuk menelusuri penyebab utama musibah yang mengakibatkan kerugian besar bagi para pembudidaya ikan.

Kepala DPKPP Kabupaten Mempawah, Arifin, mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan sejak laporan pertama diterima. Penelusuran terus dilakukan guna memastikan faktor penyebab kematian ikan yang terjadi secara serentak di sejumlah lokasi keramba apung.

“Dari kemarin kami sudah melakukan pengecekan ke lapangan dan hari ini tim kami juga kembali turun untuk memastikan apa sebenarnya yang menjadi penyebab utama,” ujar Arifin.

Berdasarkan hasil investigasi awal yang dilakukan bersama sejumlah pihak terkait, dugaan sementara mengarah pada perubahan kualitas air Sungai Mempawah yang terjadi dalam waktu relatif singkat.

Menurut Arifin, kondisi air sungai diduga mengalami peningkatan tingkat keasaman yang cukup ekstrem sehingga berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup ikan budidaya.

“Hasil pengecekan yang dilakukan bersama pihak terkait, dugaan sementara karena kondisi air sungai yang berubah menjadi sangat asam, sehingga membuat banyak ikan di dalam keramba tidak mampu bertahan hidup dan mati,” jelasnya.

Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan yang terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Mempawah di tengah kondisi debit sungai yang sedang menurun akibat musim kemarau.

Menariknya, hasil pengamatan di lapangan menunjukkan tidak semua jenis ikan mengalami dampak yang sama. Beberapa komoditas budidaya masih mampu bertahan, sementara jenis tertentu mengalami tingkat kematian yang sangat tinggi.

“Dari data pengamatan sementara kami di lapangan, yang paling banyak terdampak dan mati massal adalah jenis ikan mas,” ungkap Arifin.

Sementara itu Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Mempawah, M. Husni Thamrien, meminta pemerintah daerah segera turun tangan untuk menangani persoalan tersebut. Menurutnya, kejadian ini tidak boleh dianggap sebagai peristiwa biasa karena berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.

“Pemerintah Kabupaten Mempawah melalui dinas terkait mesti segera turun tangan. Jangan biarkan masalah ini berlarut-larut. Temukan akar masalahnya agar ke depan dapat dilakukan langkah mitigasi yang tepat,” katanya.

Thamrien menilai investigasi menyeluruh perlu segera dilakukan untuk memastikan penyebab utama kematian ikan. Ia bahkan mendorong pemerintah daerah menggandeng Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat maupun pihak akademisi guna melakukan penelitian secara komprehensif.

Menurutnya, langkah tersebut penting agar pemerintah memiliki dasar ilmiah dalam menyusun kebijakan pencegahan sehingga kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun.

“Langkah itu penting agar solusi yang diambil benar-benar efektif dan kejadian serupa tidak terus berulang,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, kematian ikan keramba di Sungai Mempawah bukan kali pertama terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena serupa beberapa kali dilaporkan oleh para pembudidaya dengan tingkat kerugian yang cukup besar.

“Setahu saya, peristiwa kematian ikan keramba di aliran Sungai Mempawah ini sudah beberapa kali terjadi. Kerugian yang ditimbulkan tidak kecil dan sangat dirasakan oleh nelayan maupun pemilik keramba,” katanya.

Karena itu, ia berharap persoalan kematian massal ikan dapat menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menurutnya, upaya penanganan tidak cukup hanya dilakukan setelah kejadian, tetapi harus dibarengi dengan langkah pencegahan yang berkelanjutan.

“Kita berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret dan berkelanjutan agar usaha budidaya ikan keramba di Sungai Mempawah tetap terjaga dan masyarakat tidak terus-menerus mengalami kerugian akibat kejadian yang berulang,” pungkasnya.

Fenomena kematian ikan massal ini kini menjadi perhatian masyarakat Mempawah. Selain menunggu hasil investigasi pemerintah, para pembudidaya berharap ada solusi jangka panjang agar usaha keramba apung yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi warga tidak terus dihantui ancaman serupa setiap kali terjadi perubahan cuaca ekstrem maupun kondisi perairan sungai. (din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda