MEMPAWAH, SP – Kepala Desa Pasir Panjang, Mohlis Saka, menyoroti pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dr. Rubini Mempawah yang dinilai kerap mengecewakan masyarakat, Jumat (24/7).
"Saya bukan kepala desa yang baru mengurus warga dan keluarga yang hendak berobat ke rumah sakit. Pelayanan yang saya temui sangat mengecewakan," tegasnya.
Mohlis, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Laskar Pemuda Melayu (LPM) Kabupaten Mempawah, mengaku telah kerap mendampingi warga kurang mampu berobat sejak 2010. Namun, dalam kurun waktu 2024 hingga 2026, menurutnya, keluhan masyarakat terkait buruknya respons oknum petugas IGD semakin sering terjadi.
"Sangat disayangkan pola pelayanan IGD RSUD Dr. Rubini yang terlalu sering mengecewakan. Warga yang datang kerap dipingpong atau dilempar ke sana kemari. Bahkan, tidak jarang terjadi keributan di area pelayanan IGD karena pasien dan keluarganya sudah terlanjur kecewa," ujar Mohlis.
Ia menambahkan, dirinya juga merasa malu karena beberapa kali harus berdebat dengan petugas saat mendampingi warga di IGD RSUD Dr. Rubini.
"Bahkan pernah saat saya membawa warga, pada waktu yang sama keluarga pasien lain juga ribut di IGD karena kecewa dengan pelayanannya," katanya.
Mohlis kemudian menceritakan pengalaman yang baru saja dialami keponakannya. Menurutnya, keponakannya telah empat kali dibawa ke IGD, tetapi selalu diminta pulang dengan alasan kondisinya masih tergolong biasa dan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
"Saat dibawa pulang, kondisinya justru semakin drop, bahkan mengalami mimisan dan sesak napas. Namun, ketika dibawa kembali ke IGD, petugas kembali menyatakan kondisi tersebut biasa dan menyuruh pulang lagi. Masa harus menunggu pasien koma atau sekarat baru ditangani serius? Alasan SOP itu terkesan basi," tegasnya.
Ia juga menyoroti kebingungan masyarakat ketika diminta mencari surat rujukan dari puskesmas saat berobat ke IGD pada sore hari. Padahal, pada waktu tersebut puskesmas sudah tutup sehingga tidak dapat menerbitkan surat rujukan. Menurutnya, layanan IGD yang beroperasi selama 24 jam seharusnya menjadi tempat utama bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan darurat.
Menurut Mohlis, pembangunan rumah sakit yang menghabiskan anggaran ratusan miliar rupiah dari uang rakyat seharusnya diimbangi dengan sikap pelayanan (attitude) dan kualitas layanan yang baik.
"Buat apa bangunan mewah jika pelayanannya amburadul? Jika tidak siap bertugas di instansi pelayanan publik, lebih baik meminta dipindahkan ke instansi lain. Saya mendesak Bupati Mempawah segera mengevaluasi seluruh jajaran RSUD Dr. Rubini dan Dinas Kesehatan agar gedung mewah ini tidak sekadar menjadi simbol semata," pungkasnya. (ben)