Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Bukan dunia ini yang gelap, melainkan mata kita yang belum terbiasa dengan cahaya." (Jalaluddin Rumi, gagasan dari Masnavi, abad ke-13 M)
Ada sebuah perumpamaan reflektif yang populer diceritakan dalam tradisi Zen tentang seorang murid yang datang kepada gurunya dengan hati yang penuh keluh kesah, bertanya mengapa hal-hal buruk seolah tak pernah berhenti menimpa hidupnya, sementara ia merasa telah berusaha menjadi orang baik.
Sang guru menjawab dengan tenang bahwa pikiran manusia memiliki kecenderungan alami untuk lebih sensitif terhadap sisi negatif kehidupan, sehingga satu peristiwa menyakitkan terasa jauh lebih besar dan lekat dalam ingatan dibanding seratus kebaikan yang sesungguhnya juga terjadi di waktu yang sama.
Perumpamaan ini, meski berasal dari tradisi yang berbeda, sesungguhnya menggemakan kebenaran yang juga telah diajarkan dalam Islam, bahwa yang sering keliru bukanlah kehidupan itu sendiri, melainkan cara pandang kita dalam memaknainya, sebagaimana para nabi dan orang-orang shaleh senantiasa mengajarkan pentingnya husnuzhan (berprasangka baik) kepada Allah di tengah setiap ujian yang datang silih berganti.
Rasulullah saw sendiri mengajarkan umatnya untuk melihat setiap peristiwa hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, dengan sudut pandang yang tidak sempit dan tidak pula berlebihan dalam kesedihan.
Beliau bersabda, "Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik, dan itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya." (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi cermin yang begitu jernih bagi persoalan yang sering kita rasakan bahwa kehidupan seorang mukmin sesungguhnya senantiasa berada dalam kebaikan, bukan karena tidak ada kesulitan yang menimpanya, melainkan karena cara pandangnya yang selalu menemukan hikmah, baik dalam kesenangan maupun kesusahan.
Allah Swt berfirman, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat ini bagaikan cahaya yang menembus kabut penilaian kita yang terbatas, menegaskan bahwa apa yang tampak sebagai kegelapan di mata manusia, belum tentu benar-benar gelap dalam pandangan Allah yang mengetahui hikmah di balik setiap peristiwa, sebagaimana seorang anak kecil yang menangis karena obat pahit, tanpa menyadari bahwa pahit itu justru yang menyembuhkannya.
Kisah Nabi Yusuf as memberikan teladan paling agung tentang bagaimana serangkaian peristiwa yang tampak kelam justru menjadi jalan menuju kebaikan yang jauh lebih besar.
Dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara bertahun-tahun tanpa kesalahan. Jika dilihat sepotong-sepotong, setiap peristiwa itu tampak sebagai kemalangan yang tiada henti.
Namun pada akhirnya, Yusuf as sendiri merenungkan seluruh perjalanan hidupnya dengan berkata, "Dan sesungguhnya setan itu benar-benar musuh yang nyata bagi manusia. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 5, dan gagasan reflektif dari ayat 100).
Ia memandang keseluruhan kisahnya bukan sebagai rangkaian kemalangan, melainkan sebagai jalinan hikmah yang mengantarkannya pada kedudukan mulia sebagai pembesar Mesir yang mampu menyelamatkan banyak jiwa dari kelaparan.
Hal tersebut di atas sejalan dengan penegasan Ibnu Athaillah As-Sakandari, "Jangan biarkan penundaan pemberian meski engkau telah bersungguh-sungguh berdoa, menjadikanmu berputus asa. Sebab Allah telah menjamin ijabah (terkabulnya doa) sesuai dengan pilihan-Nya untukmu, bukan sesuai dengan pilihanmu untuk dirimu sendiri, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki." (gagasan dari Al-Hikam).
Kata hikmah ini menegaskan bahwa kekecewaan yang sering kita rasakan terhadap hidup lahir dari ekspektasi kita sendiri tentang bagaimana seharusnya sesuatu terjadi, bukan dari ketidakadilan hidup itu sendiri.
Dalam kajian psikologi modern, Fenomena bias terhadap hal negatif di atas dikenal dengan negativity bias, yaitu kecenderungan alami otak manusia untuk memberi bobot perhatian yang jauh lebih besar pada pengalaman buruk dibanding pengalaman baik, meski jumlah keduanya mungkin setara.
Fenomena ini menjelaskan mengapa satu kritik pedas dapat mengalahkan seratus pujian dalam ingatan kita, atau mengapa satu hari yang buruk terasa jauh lebih membekas dibanding sepekan hari-hari biasa yang sesungguhnya berjalan baik-baik saja.
Rasulullah saw mengingatkan, "Barangsiapa di antara kalian yang bangun di pagi hari dalam keadaan aman di lingkungannya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya." (HR. At-Tirmidzi).
Hadis ini merupakan sebuah pengingat sederhana namun begitu dalam, bahwa nikmat-nikmat kecil yang kita anggap remeh justru adalah kebaikan besar yang sering luput dari perhatian kita, tertutup oleh kecenderungan pikiran yang terlalu fokus pada kekurangan.
Perlu diwaspadai agar kebiasaan berfokus pada hal negatif ini tidak berkembang menjadi su'uzhan (buruk sangka) kepada Allah atas ketetapan-Nya, sebab hal ini justru akan menjauhkan hati dari ketenangan dan menambah beban yang sesungguhnya tidak perlu dipikul.
Sebagai solusi, Allah Swt berfirman, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. An-Nahl: 18).
Ayat ini mengajak kita untuk melatih kembali fokus pikiran, dari yang semula terpaku pada kekurangan, beralih kepada kesadaran akan luasnya nikmat yang senantiasa mengalir meski jarang kita sadari.
Jadilah seperti seorang musafir yang berjalan melewati padang gersang, namun tetap mampu melihat bunga-bunga kecil yang tumbuh di sela-sela bebatuan, alih-alih hanya menatap kerasnya jalan yang harus ditempuh. Jadilah pula seperti langit malam yang tetap dipenuhi gemintang meski sebagian tertutup awan, sebab cahaya itu tidak pernah benar-benar padam, hanya terhalang oleh sudut pandang kita yang sesaat.
Ingatlah bahwa setiap cara kita memaknai hidup akan menjadi cerminan dari sejauh mana kita mengenal kebijaksanaan Allah dalam setiap ketetapan-Nya.
Ya Allah, luruskanlah fokus hati dan pikiran kami agar mampu melihat kebaikan yang tersembunyi di balik setiap ujian, jauhkanlah kami dari prasangka buruk kepada-Mu, dan tuntunlah kami untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang sering luput dari perhatian kami. Amin. (*)