PONTIANAK, SP - Persoalan air bersih yang mulai menipis di tengah kemarau panjang membuat Rumah Sakit Umum (RSU) YARSI Pontianak harus mencari langkah cepat. Bagi rumah sakit, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, tetapi bagian penting untuk menjaga pelayanan kepada pasien tetap berjalan.
Di tengah kondisi tersebut, Ketua YARSI, Drs. Suhadi SW., M.Si., bergerak mencari solusi. Informasi mengenai menipisnya stok air bersih di rumah sakit mendorong Suhadi menghubungi berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan air tetap tersedia.
Langkah itu tidak mudah. Kebutuhan air RSU YARSI mencapai sekitar 8.000 liter per hari. Sebelum mendapat dukungan pasokan, rumah sakit harus membeli air bersih dengan biaya sekitar Rp2,5 juta per hari.
Jika berlangsung terus, beban tersebut tentu semakin besar. Bahkan, biaya pembelian air yang telah dikeluarkan disebut mencapai sekitar Rp52 juta.
Namun, persoalannya bukan semata soal jumlah air.
Air untuk Pasien Hemodialisis
Kebutuhan air menjadi jauh lebih penting karena RSU YARSI juga melayani pasien hemodialisis atau cuci darah.
Air untuk proses hemodialisis tidak dapat menggunakan air biasa. Air harus melalui pengolahan khusus, antara lain dengan sistem reverse osmosis (RO), sehingga memenuhi kualitas yang dibutuhkan untuk pelayanan medis.
Berdasarkan informasi operasional yang diterima, kebutuhan air RO untuk satu kali proses hemodialisis sekitar 300 liter per pasien. Artinya, bila terdapat 10 pasien, kebutuhan berdasarkan angka tersebut mencapai sekitar 3.000 liter.
Situasi ini membuat Suhadi harus memikirkan bukan hanya bagaimana mendapatkan air, tetapi juga bagaimana memastikan air tersebut dapat tersedia secara berkelanjutan dan sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit.
Menghubungkan Sumber Air dengan Rumah Sakit
Dari sinilah jejaring kemanusiaan mulai bergerak. Suhadi kemudian menghubungkan berbagai pihak untuk mencari sumber air alternatif.
Upaya tersebut mempertemukan unsur rumah sakit, pemerintah daerah, dunia usaha, pemadam kebakaran, organisasi kemanusiaan, serta relawan.
Alas Kusuma turut membantu membuka komunikasi dan membangun kerja sama dengan Bupati Kubu Raya Sujiwo untuk memanfaatkan sumber daya air dari waduk yang tersedia.
Gagasannya bukan sekadar memenuhi kebutuhan satu atau dua hari. Pasokan diupayakan dapat menopang kebutuhan rumah sakit selama sekitar satu bulan, terutama untuk menjaga pelayanan kepada pasien dan kelompok rentan.
Tetapi kembali muncul persoalan berikutnya, bagaimana membawa air dari sumbernya ke rumah sakit?
Di titik inilah Arief Suryono bersama jajaran Damkar Pontianak Timur ikut mengambil peran. Armada mobil tangki disiapkan untuk mengangkut dan mendistribusikan air menuju RSU YARSI Pontianak.
Mobil tangki berwarna merah-kuning itu kemudian bergerak membawa air dengan spanduk bertuliskan: “Kebutuhan Air Bersih untuk RSU YARSI Pontianak.”
Tidak ada seremoni besar. Yang terlihat justru kendaraan, petugas, pengemudi, dan orang-orang yang bekerja menghubungkan sumber air dengan rumah sakit yang membutuhkan.
Dari Masalah Rumah Sakit Menjadi Gerakan Bersama
Apa yang terjadi di YARSI memperlihatkan bagaimana persoalan air bersih pada musim kemarau dapat berkembang menjadi persoalan pelayanan publik.
Rumah sakit membutuhkan air.
Pemerintah daerah memiliki sumber daya dan akses. Dunia usaha dapat membantu membuka jaringan. Damkar memiliki armada distribusi. Organisasi kemanusiaan dan relawan memiliki jejaring di lapangan.
Ketika sumber daya tersebut dipertemukan, persoalan yang awalnya dihadapi satu rumah sakit menjadi gerakan bersama.
Bagi Gusti Hardiansyah, Guru Besar Universitas Tanjungpura, Ketua ICMI Orwil Kalbar, Jaringan Yudha Mandiri (JYM) Satupena, sekaligus pegiat penanganan karhutla, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang mampu merespons kebutuhan secara cepat dengan menghubungkan berbagai sumber daya yang tersedia.
“Ketika keadaan menjadi sulit, kita masih mempunyai satu sumber daya yang tidak boleh ikut mengering: kepedulian,” demikian refleksinya.
Air Bukan Sekadar Logistik
Persoalan air di rumah sakit juga menjadi pengingat bahwa dampak kemarau tidak berhenti pada kebutuhan rumah tangga.
Pasien, terutama mereka yang menjalani hemodialisis, membutuhkan kepastian pelayanan. Tenaga kesehatan membutuhkan lingkungan kerja yang mendukung. Keluarga pasien juga membutuhkan akses air selama berada di rumah sakit.
Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi musim kering tidak cukup hanya dengan mencari sumber air.
Rumah sakit dan pemangku kepentingan juga perlu memperhitungkan kapasitas penampungan, armada tangki, titik distribusi, kualitas air, serta kebutuhan khusus fasilitas pelayanan kesehatan.
Kelompok rentan seperti pasien rumah sakit, pasien hemodialisis, lansia, anak-anak, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan masyarakat berpenghasilan terbatas juga perlu masuk dalam pemetaan kebutuhan air bersih.
Pengalaman YARSI menjadi gambaran bahwa ketika kekeringan berlanjut, fasilitas pelayanan kesehatan lainnya berpotensi menghadapi persoalan serupa.
Ketika Ketua YASRI Memilih Bergerak
Bagi Suhadi, persoalan itu berawal dari kebutuhan sederhana: bagaimana memastikan air tetap tersedia agar rumah sakit dapat terus melayani pasien.
Dari kebutuhan tersebut, satu per satu jejaring dihubungkan. Sumber air dicari, pemerintah daerah diajak bekerja sama, armada disiapkan, dan distribusi dilakukan.
Gusti Hardiansyah menyampaikan apresiasi kepada Ketua YARSI Suhadi dan keluarga besar YARSI, Bupati Kubu Raya Sujiwo beserta jajaran, Alas Kusuma, Arief Suryono bersama jajaran Damkar, PMI, tenaga kesehatan, pengemudi mobil tangki, relawan, dunia usaha, serta masyarakat yang ikut membantu.
Ia berharap hujan segera turun dan mengakhiri tekanan kekeringan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
“Semoga hujan segera turun membawa keberkahan. Dan semoga ketika hujan nanti kembali memenuhi parit, waduk, dan sungai kita, pengalaman hari-hari sulit ini tidak ikut hanyut,” ujarnya.
Sebab, dari sebuah mobil tangki yang mengantar air ke rumah sakit, ada pelajaran sederhana: ketika kebutuhan dasar terancam, solusi sering kali dimulai dari seseorang yang memilih untuk mencari jalan, menghubungkan orang-orang, lalu bergerak.
Di YARSI, ikhtiar itu dimulai ketika Ketua YARSI Drs. Suhadi SW., M.Si., mencari cara agar air tetap mengalir dan pelayanan kepada pasien tidak berhenti. (*)