Opini post author Kiwi 18 September 2026

Sungai yang Dangkal Berisik, Laut yang Dalam Tenang

Photo of Sungai yang Dangkal Berisik, Laut yang Dalam Tenang

Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia
[email protected] | www.mhtindonesia.com

"Kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari seberapa keras ia membela dirinya, melainkan dari seberapa dalam ia berserah kepada Allah yang mengetahui segala isi hatinya." (Ibnu Athaillah As-Sakandari, gagasan dari Al-Hikam, abad ke-13 M)

Ada kelelahan yang tidak terlihat oleh mata dalam perjalanan hidup manusia, bukan karena beratnya pekerjaan, bukan pula karena sedikitnya harta, melainkan karena hati terlalu sibuk memikirkan penilaian sesama. Ingin dihargai, ingin dianggap berhasil, ingin dipahami seutuhnya hingga tanpa sadar jiwa menghabiskan begitu banyak energi hanya untuk menjaga pandangan orang lain.

Fenomena ini mengingatkan pada sebuah perumpamaan alam yang sederhana namun dalam maknanya: sungai yang dangkal airnya justru mengeluarkan suara gemericik yang riuh ketika mengalir melewati bebatuan, sementara laut yang dalam bergerak dengan tenang tanpa perlu menampakkan kegaduhan.

Semakin dangkal sesuatu, semakin ia berisik untuk menunjukkan keberadaannya; semakin dalam sesuatu, semakin ia tenang karena tidak perlu lagi membuktikan apa pun. Para sufi dan orang-orang shaleh telah lama memahami hikmah ini bahwa kedalaman jiwa seseorang justru tercermin dari ketenangannya menghadapi penilaian manusia, bukan dari kerasnya ia membela dan menjelaskan diri.

Rasulullah saw sendiri adalah teladan agung tentang bagaimana menghadapi penilaian manusia yang terus berubah-ubah tanpa kehilangan ketenangan hati.

Beliau pernah dipuji sebagai pemimpin yang jujur dan dipercaya (Al-Amin) oleh kaumnya sendiri, namun kemudian dituduh gila, penyihir, bahkan pendusta ketika membawa risalah kenabian.

Di tengah pergantian penilaian yang begitu drastis itu, beliau tidak pernah menghabiskan energinya untuk membuktikan diri kepada setiap orang yang meragukannya. Beliau bersabda,

"Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah dengan cara membuat manusia murka, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Namun barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan cara membuat Allah murka, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka pula kepadanya." (HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini menjadi kompas penting bagi siapa saja yang lelah mengejar pengakuan manusia, menegaskan bahwa mengutamakan keridhaan Allah, meski harus kehilangan sebagian penerimaan manusia, pada akhirnya justru akan membawa ketenangan yang lebih hakiki dibanding terus-menerus menyesuaikan diri dengan penilaian yang tak pernah selesai.

Allah Swt berfirman, "Dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan." (QS. At-Taghabun: 4). Ayat ini bagaikan samudra luas yang menampung segala sesuatu, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, baik doa yang dipanjatkan dalam kesunyian malam maupun air mata yang jatuh tanpa diketahui siapa pun.

Menyadari bahwa Allah mengetahui seluruh perjuangan yang tersembunyi ini seharusnya menjadi sumber ketenangan yang jauh lebih besar dibanding pengakuan manusia yang sifatnya terbatas dan mudah berubah.

Kisah Uwais Al-Qarni memberikan teladan paling menggetarkan tentang bagaimana seseorang dapat mencapai kedalaman spiritual justru Ketika ia tidak dikenal oleh manusia. Ia hidup dalam kesederhanaan, merawat ibunya yang lumpuh, tanpa pernah dikenal luas oleh penduduk sezamannya.

Namun Rasulullah saw sendiri menyebutnya sebagai salah satu penghuni surga dan memerintahkan Umar bin Khattab RA., untuk meminta doa darinya.

Ketika akhirnya ditemukan, Uwais justru merasa malu dan tidak ingin dikenal, sebab baginya yang terpenting bukanlah pengakuan manusia, melainkan kedekatannya dengan Allah yang telah lama ia bangun dalam diam.

Kisahnya menjadi bukti nyata bahwa kedalaman jiwa seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan seberapa ramai ia dikenal dan dipuji manusia.

Hal ini sejalan dengan penegasan Imam Al-Ghazali, "Barangsiapa yang mengenal hakikat dirinya di hadapan Allah, ia tidak akan lagi gelisah dengan penilaian manusia, sebab timbangan yang sesungguhnya bukan berada di mata makhluk, melainkan di sisi Penciptanya." (gagasan dari Ihya' Ulumuddin).

Kata hikmah ini menegaskan bahwa ketenangan sejati lahir dari kesadaran akan posisi seorang hamba di hadapan Allah, bukan dari seberapa keras ia berusaha membuktikan nilai dirinya kepada manusia yang penilaiannya senantiasa berubah-ubah, sebagaimana riak sungai yang terus bergejolak mengikuti aliran yang melewatinya.

Di era media sosial saat ini, godaan untuk menjadi "sungai yang berisik" semakin besar, setiap pencapaian ingin segera diumumkan, setiap kebaikan ingin segera dilihat, setiap kesalahpahaman ingin segera diluruskan di hadapan publik.

Padahal semakin seseorang sibuk menjelaskan dirinya kepada dunia maya, semakin lelah pula hatinya memikul beban penilaian yang sebenarnya tidak perlu ditanggung.

Rasulullah saw mengingatkan, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini merupakan sebuah prinsip yang relevan bukan hanya untuk menjaga lisan dari perkataan buruk, tetapi juga untuk menahan diri dari dorongan terus-menerus membela dan menjelaskan diri di ruang publik yang tidak pernah benar-benar puas dengan penjelasan apa pun.

Perlu diwaspadai agar keinginan untuk terus dipahami dan dihormati manusia tidak berkembang menjadi bentuk kesombongan tersembunyi (ujub) yang lahir dari nafs yang ingin ditinggikan, sebab semakin seseorang haus akan pengakuan, semakin jauh pula hatinya dari keikhlasan yang sesungguhnya. Allah Swt berfirman, "Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian." (QS. Al-Ankabut: 52).

Ayat ini mengajarkan bahwa ketika manusia gagal memahami perjuangan dan ketulusan kita, cukuplah Allah sebagai saksi yang mengetahui seluruh kebenaran, tanpa perlu terus-menerus mencari pembenaran dari makhluk yang penilaiannya senantiasa terbatas.

Jadilah seperti laut yang dalam, yang tidak perlu mengeluarkan suara gaduh untuk membuktikan keluasannya, sebab kedalaman itu sendiri sudah cukup menjadi buktinya.

Jadilah pula seperti akar yang tumbuh diam-diam di bawah tanah, tidak pernah dipuji siapa pun, namun justru akar itulah yang membuat pohon mampu berdiri kokoh menghadapi badai kehidupan.

Ingatlah bahwa setiap penjelasan yang kita berikan dan setiap diam yang kita pilih akan ditanya maknanya, apakah ia lahir dari kedalaman hati yang tenang bersama Allah, ataukah sekadar riak dangkal yang berisik demi mengejar pengakuan manusia yang fana.

Ya Allah, jadikanlah hati kami tenang seperti lautan yang dalam, tidak lagi bergantung pada penilaian manusia yang senantiasa berubah. Cukupkanlah kami dengan pengetahuan-Mu atas seluruh perjuangan yang tersembunyi, dan jauhkanlah kami dari kelelahan mengejar pengakuan yang tidak pernah benar-benar memuaskan hati. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda