Opini post author Kiwi 14 September 2026

Hoaks dan Fitnah: Saudara Kembar di Era Media Sosial

Photo of Hoaks dan Fitnah: Saudara Kembar di Era Media Sosial

By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. E-Mail : [email protected] /www.mhtindonesia.com

"Kebohongan bisa mengelilingi dunia sebelum kebenaran sempat memakai sepatunya." (Mark Twain, Penulis dan Pemikir, abad ke-19 M)

Sebuah unggahan tanpa sumber jelas muncul di linimasa, membawa kabar mengejutkan tentang seseorang yang kita kenal. Dalam hitungan detik, ribuan orang membagikannya kembali, mengomentari, menghakimi, bahkan mencaci maki tanpa satu pun dari mereka yang benar-benar tahu apakah kabar itu benar adanya.
Fenomena ini menggambarkan betapa hoaks dan fitnah telah menjelma menjadi saudara kembar di era media sosial, keduanya lahir dari rahim yang sama, yaitu ketergesaan dalam mempercayai dan menyebarkan informasi tanpa tabayyun terlebih dahulu, dan keduanya sama-sama meninggalkan luka yang tidak mudah disembuhkan bagi korban yang menjadi sasarannya.

Meski istilah "hoaks" terasa begitu modern, sesungguhnya akar persoalannya telah lama diperingatkan oleh para nabi dan orang-orang shaleh sejak berabad-abad silam, jauh sebelum manusia mengenal layar dan tombol bagikan.

Rasulullah saw sendiri hidup di tengah masyarakat yang juga rentan terhadap penyebaran kabar bohong dan fitnah, terutama dari kalangan munafik yang sengaja menyebarkan kabar untuk memecah belah kaum muslimin.

Namun beliau senantiasa mengajarkan umatnya untuk berhati-hati dan tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum jelas kebenarannya. Beliau bersabda, "Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dustanya perkataan.

Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah saling mendengki, janganlah saling membenci, dan janganlah saling membelakangi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini bagaikan vaksin spiritual yang begitu relevan untuk melawan wabah hoaks dan fitnah di zaman modern mengajarkan bahwa akar dari penyebaran kabar bohong sesungguhnya bermula dari hati yang mudah berprasangka buruk, sebelum akhirnya menjelma menjadi kata-kata dan unggahan yang menyakiti sesama.

Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini bagaikan filter canggih yang Allah pasang di gerbang hati setiap mukmin, jauh sebelum teknologi mengenal istilah "fact-checking", Al-Qur'an telah mengajarkan prinsip verifikasi yang sama persis, bahwa setiap kabar harus disaring terlebih dahulu sebelum diyakini, apalagi disebarluaskan kepada orang lain.

Kisah tentang peristiwa haditsul ifki (berita bohong) yang menimpa Sayyidah Aisyah ra. memberikan pelajaran paling berharga tentang bahaya fitnah yang menyebar tanpa kendali.

Ketika kabar dusta tentang kehormatan Aisyah ra. tersebar luas di kalangan sahabat, banyak yang ikut membicarakannya tanpa memastikan kebenarannya, hingga Allah Swt sendiri menurunkan ayat untuk membersihkan namanya dan menegur keras mereka yang telah ikut menyebarkan fitnah tersebut. Aisyah ra. kemudian berkata mengenang peristiwa itu, "Demi Allah, aku tidak menyangka Allah akan menurunkan wahyu tentang urusanku yang akan dibacakan (dalam Al-Qur'an), sebab kedudukanku terlalu remeh untuk itu.

Namun aku berharap Allah memperlihatkan dalam mimpi sesuatu yang membersihkan namaku." Peristiwa ini menjadi pengingat abadi bahwa fitnah dapat menimpa siapa saja, bahkan orang yang paling mulia sekalipun, dan hanya kehati-hatian serta pertolongan Allah yang mampu memulihkan nama baik yang telah dicemari.

Hal ini diperkuat oleh Umar bin Khattab ra dalam sebuah kata hikmahnya, "Janganlah kalian berprasangka buruk terhadap kalimat yang keluar dari mulut saudaramu, selama engkau masih mendapati kemungkinan baik untuknya."

Kata hikmah ini menegaskan bahwa dalam menghadapi setiap informasi yang meragukan, seorang mukmin dianjurkan mencari sebanyak mungkin kemungkinan baik sebelum menjatuhkan penilaian buruk, apalagi menyebarkannya lebih jauh kepada orang lain.

Di era media sosial saat ini, hoaks dan fitnah menjelma menjadi ancaman yang jauh lebih masif dibanding zaman dahulu, algoritma justru mempercepat penyebaran konten yang provokatif, sementara verifikasi kebenaran kerap kalah cepat dengan hasrat untuk menjadi yang pertama membagikan sebuah kabar.

Rasulullah saw mengingatkan, "Tidaklah dua orang duduk lalu menggunjing seorang muslim, melainkan Allah akan menyiksa keduanya di neraka." (HR. Ahmad).

Hadis ini merupakan sebuah peringatan yang begitu keras, mengingat betapa mudahnya hari ini seseorang menjadi bagian dari rantai penyebaran fitnah hanya dengan satu ketukan jari di layar ponsel.

Perlu diwaspadai bahwa hoaks dan fitnah, meski tampak sebagai dua istilah berbeda, sesungguhnya berjalan beriringan, hoaks menyediakan bahan bakarnya, sementara fitnah dan ghibah menjadi wujud nyata dari penyebarannya, keduanya sama-sama dilarang tegas dalam Islam sebagaimana Allah Swt mengibaratkan perbuatan ini dengan perumpamaan yang begitu keras, "Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?

Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya." (QS. Al-Hujurat: 12). Dalam surat yang sama juga ditegaskan, "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain." (QS. Al-Hujurat: 12).

Jadilah seperti penyaring air yang menahan kotoran sebelum air itu sampai ke mulut yang meminumnya, memastikan apa yang mengalir ke dalam tubuh benar-benar bersih dan menyehatkan. Jadilah pula seperti benteng kokoh yang tidak mudah ditembus badai fitnah, sebab akarnya tertanam pada prinsip tabayyun yang kuat, bukan pada ketergesaan mengikuti arus opini yang belum tentu benar.

Ingatlah bahwa kelak setiap unggahan yang kita bagikan dan setiap kabar yang kita percayai tanpa verifikasi akan menjadi saksi di hadapan Allah, apakah ia menjadi bagian dari penyebaran kebenaran, ataukah justru menjadi mata rantai fitnah yang melukai saudara-saudara kita sendiri.

Ya Allah, lindungilah kami dari mudah percaya pada hoaks dan fitnah yang menyebar di sekeliling kami, ajarkanlah kami untuk senantiasa bertabayyun sebelum meyakini dan membagikan sebuah kabar, dan jagalah jari-jemari serta lisan kami agar tidak menjadi perantara luka bagi saudara-saudara kami. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda