Opini post author Kiwi 13 September 2026

Menjaga Bumi, Menjaga Napas Anak Cucu

Photo of Menjaga Bumi, Menjaga Napas Anak Cucu

By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. E-Mail : [email protected] /www.mhtindonesia.com

"Bumi ini diciptakan dalam keseimbangan yang sempurna, dan setiap kerusakan yang kita perbuat padanya kelak akan kembali menimpa diri kita dan anak cucu kita sendiri." (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, gagasan dari Miftah Dar As-Sa'adah, abad ke-14 M)

Sejak pekan ini, Kota Pontianak berada dalam status kualitas udara yang benar-benar mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan IQAir, Indeks Kualitas Udara (AQI) di beberapa titik pemantauan Kota Pontianak sempat menembus angka ekstrem 1.061 hingga 1.569 US AQI, dengan konsentrasi PM2.5 berada di kisaran 607 hingga 862 mikrogram per meter kubik, lebih dari 50 kali lipat ambang batas aman yang ditetapkan WHO.

Data ini dikuatkan pula oleh pemantauan Beta Attenuation Monitoring (BAM) milik BMKG Kalimantan Barat dan Air Quality Monitoring System (AQMS) milik Dinas Lingkungan Hidup, yang sama-sama mengonfirmasi kondisi ini masuk zona hitam atau kategori "Berbahaya".

Pada level ini, udara yang kita hirup setiap hari bukan lagi sekadar tidak nyaman, melainkan benar-benar mengancam nyawa, terutama bagi bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, dan mereka yang memiliki riwayat gangguan pernapasan atau jantung.

 

Di tengah kondisi darurat ini, hal pertama yang harus dilakukan bukanlah menunggu atau membiarkan diri terpapar lebih lama, melainkan segera mengambil langkah perlindungan.

Pihak berwenang telah mengimbau agar warga membatasi seluruh aktivitas di luar ruangan sebisa mungkin, terutama bagi kelompok rentan yang sebaiknya benar-benar tinggal di dalam rumah.

Bagi yang terpaksa harus keluar, wajib menggunakan masker dengan filtrasi partikulat tinggi seperti N95 atau KN95 bukan sekadar masker kain atau masker medis biasa, sebab partikel PM2.5 berukuran sangat halus dan hanya bisa disaring oleh masker dengan standar filtrasi tersebut.

Di dalam rumah, tutuplah seluruh ventilasi dan celah udara semaksimal mungkin untuk mencegah asap masuk, dan bila memungkinkan, gunakan alat penjernih udara (air purifier) untuk menjaga kualitas udara ruangan tetap lebih aman.
Perbanyak minum air putih untuk membantu tubuh mengeluarkan racun, dan segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat apabila muncul gejala sesak napas, batuk berat, iritasi mata yang parah, atau pusing berkepanjangan, jangan menunda pemeriksaan medis, sebab pada level polusi seperti ini, gejala ringan sekalipun bisa berkembang cepat menjadi kondisi yang serius.

 

Sembari melakukan seluruh ikhtiar perlindungan ini, penting bagi kita untuk merenungi apa yang sesungguhnya sedang terjadi bahwa krisis udara sebesar ini tidak datang begitu saja, melainkan buah dari pembakaran hutan dan lahan yang terus berulang setiap tahunnya.

Allah SWT berfirman, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini menjadi cermin yang begitu jelas bagi kondisi yang kita alami hari ini, udara yang kini menyesakkan dada anak-anak kita adalah konsekuensi nyata dari tangan-tangan yang membakar bumi tanpa memikirkan dampaknya bagi generasi yang akan datang.

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga bumi sebagai amanah, bukan sekadar sumber daya yang bebas dieksploitasi tanpa batas.

Beliau bersabda, "Dunia ini hijau dan manis, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (pengelola) di atasnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian mengelolanya." (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa setiap kerusakan bumi yang kita saksikan hari ini, termasuk kabut asap yang merenggut kesehatan anak cucu kita, kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah bukan hanya oleh mereka yang membakar lahan, tetapi juga oleh kita semua yang berdiam diri tanpa berikhtiar mencegah dan memperbaikinya.

Maka di tengah udara yang menyesakkan ini, mari kita jadikan momentum untuk kembali memperbaiki cara kita memperlakukan bumi, mendukung upaya pemadaman dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan, sekaligus tidak lupa memanjatkan doa memohon hujan yang menyejukkan dan membersihkan udara yang telah tercemar.

Jadilah seperti akar pohon yang menjaga tanah agar tidak longsor, sebagaimana kita seharusnya menjaga bumi agar tidak terus dirusak oleh keserakahan sesaat. Ingatlah bahwa setiap napas anak cucu kita yang kelak akan mereka hirup, baik atau buruk kualitasnya, sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga bumi hari ini.

Ya Allah, lindungilah kami dan keluarga kami dari bahaya udara yang mengancam ini, sembuhkanlah saudara-saudara kami yang telah jatuh sakit akibat kabut asap, turunkanlah hujan yang membersihkan udara kami, dan bukakanlah hati orang-orang yang merusak bumi untuk segera bertaubat. Jadikanlah kami khalifah yang menjaga bumi ini, bukan yang merusaknya, demi napas anak cucu kami kelak. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda