PONTIANAK, SP - Regenerasi kepemimpinan menjadi salah satu kebutuhan penting dalam menjaga keberlangsungan dan kemajuan organisasi olahraga. Karena itu, munculnya figur muda yang memiliki pengalaman, jaringan luas, serta memahami denyut dunia olahraga dinilai patut mendapatkan ruang dan kesempatan.
Tokoh olahraga senior Kalimantan Barat yang pernah aktif dalam kepemimpinan KONI Kalbar, Setiawan Lim, secara terbuka menyebut Ongky sebagai salah satu figur yang layak dipertimbangkan untuk menakhodai Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI).
Bukan tanpa alasan. Setiawan menilai Ongky memiliki sejumlah modal penting yang dibutuhkan seorang pemimpin organisasi olahraga. Mulai dari pengalaman dalam berbagai kegiatan olahraga, kemampuan membangun komunikasi, jaringan yang luas, hingga karakter yang dinilai mampu menjembatani kepentingan lintas generasi.
“Menurut saya, Ongky memang figur yang tepat untuk menakhodai PASI,” kata Setiawan.
Menurutnya, Ongky bukan sosok yang tiba-tiba muncul dalam dunia olahraga. Ia telah cukup lama bersentuhan dengan berbagai kegiatan olahraga dan terlibat dalam penyelenggaraan sejumlah event yang berkaitan dengan cabang olahraga atletik maupun PASI.
Pengalaman tersebut, kata Setiawan, menjadi modal berharga. Sebab, memimpin organisasi olahraga tidak cukup hanya bermodalkan popularitas atau jabatan. Dibutuhkan pemahaman terhadap persoalan di lapangan, kemampuan mengelola organisasi, serta kecakapan membangun hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Sejauh yang saya kenal, Ongky cukup berpengalaman dalam kegiatan olahraga yang berkaitan erat dengan PASI. Sudah banyak event yang diselenggarakan,” ujarnya.
Bukan Instan, Ongky Dinilai Tumbuh dari Bawah
Setiawan juga menyoroti perjalanan Ongky yang dinilainya dibangun secara bertahap. Karakter tersebut dianggap penting karena pengalaman yang diperoleh dari bawah membuat seorang pemimpin lebih memahami proses dan dinamika organisasi.
“Ongky tipe anak muda yang menapak karier dari bawah,” kata Setiawan.
Ia menilai karakter Ongky yang supel dalam bergaul juga menjadi kelebihan tersendiri. Kemampuan berkomunikasi dengan banyak kalangan membuat Ongky memiliki jaringan yang cukup luas, mulai dari institusi dan instansi pemerintah, pejabat, pengusaha, masyarakat, hingga insan olahraga.
Dalam pandangan Setiawan, jaringan tersebut bukan sekadar persoalan relasi pribadi. Jika dikelola secara positif, jaringan yang luas dapat menjadi kekuatan untuk membangun kolaborasi dan membuka peluang lebih besar bagi kemajuan olahraga.
PASI, menurutnya, membutuhkan kepemimpinan yang mampu membangun jembatan dengan banyak pihak. Pembinaan atlet tidak bisa hanya dibebankan kepada pengurus, tetapi membutuhkan dukungan pemerintah, KONI, dunia usaha, pelatih, klub, komunitas, orang tua atlet, dan masyarakat.
Saatnya Anak Muda Tidak Hanya Menonton
Setiawan melihat momentum regenerasi sebagai peluang bagi generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam dunia olahraga.
Ongky yang berasal dari generasi muda, bahkan Gen Z, dinilai memiliki energi dan perspektif yang relevan dengan tantangan organisasi olahraga saat ini.
“Dia sosok Gen Z yang memang sekarang masanya untuk tampil dan lebih berperan,” tegas Setiawan.
Menurutnya, regenerasi bukan berarti memutus hubungan dengan generasi sebelumnya. Justru, kekuatan organisasi akan semakin besar jika energi anak muda berjalan berdampingan dengan pengalaman para senior.
Senior memiliki pengalaman dan kebijaksanaan. Sementara generasi muda membawa energi, kreativitas, serta keberanian untuk mencoba pendekatan baru.
“Yang muda jangan hanya menjadi penonton. Mereka harus diberi ruang untuk tampil dan mengambil tanggung jawab,” kata Setiawan.
Karena itu, ia berharap Pengurus PASI Kabupaten/Kota dapat melihat figur muda seperti Ongky secara objektif dan memberikan kesempatan apabila memang dinilai mampu membawa organisasi ke arah yang lebih baik.
Dukungan Daerah Jadi Penentu
Setiawan menegaskan, siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin PASI membutuhkan dukungan dari seluruh struktur organisasi. Tidak mungkin organisasi dapat bergerak maksimal apabila kepemimpinan tidak didukung oleh jajaran di tingkat Kabupaten/Kota.
“Saya berharap tentunya Ongky bisa diberi kesempatan dan didukung oleh Pengurus PASI di Kabupaten/Kota,” ujarnya.
Dukungan tersebut, lanjutnya, bukan sekadar dukungan saat proses pemilihan. Lebih penting lagi adalah dukungan setelah kepemimpinan terbentuk, sehingga program pembinaan dan peningkatan prestasi dapat berjalan secara konsisten.
Menurut Setiawan, PASI ke depan membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan berbagai kekuatan. Jangan sampai energi organisasi habis pada persoalan internal, sementara pembinaan atlet dan pencapaian prestasi justru terabaikan.
Fokus utama harus kembali kepada atlet.
Bagaimana menciptakan sistem pembinaan yang berkelanjutan, meningkatkan kualitas kompetisi, memperkuat kapasitas pelatih, menemukan bibit-bibit atlet potensial, serta memberikan kesempatan kepada atlet untuk berkembang dan mengukir prestasi.
Setiawan Ingatkan: Jabatan Adalah Amanah
Meski memberikan dukungan dan penilaian positif terhadap Ongky, Setiawan tidak ingin kesempatan memimpin PASI hanya dimaknai sebagai persoalan mendapatkan jabatan.
Menurutnya, ada tanggung jawab besar yang mengikuti setiap kepercayaan.
“Yang paling penting adalah Ongky harus berkomitmen membawa PASI lebih berprestasi dengan visi dan misinya. Dan kalau terpilih, harus amanah terhadap kepercayaan yang diberikan,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi catatan penting. Sebab, kepemimpinan olahraga pada akhirnya akan dinilai bukan dari seberapa kuat dukungan saat proses pemilihan, melainkan dari seberapa besar perubahan dan prestasi yang mampu dihasilkan setelah dipercaya memimpin.
Setiawan berharap Ongky, apabila nantinya mendapatkan kepercayaan, mampu membuktikan bahwa generasi muda tidak hanya memiliki keberanian untuk tampil, tetapi juga kesiapan untuk bekerja dan bertanggung jawab.
Bisa Hormati Senior, Rangkul Sebaya, Ayomi Junior
Satu hal lain yang menjadi perhatian Setiawan adalah karakter kepemimpinan Ongky.
Ia meyakini Ongky memiliki kemampuan untuk menempatkan diri di tengah berbagai kelompok dan generasi.
“Saya yakin Ongky sosok yang bisa menghormati yang senior, bekerja sama dengan yang selevel, dan bisa mengemong yang yunior,” ujarnya.
Kemampuan tersebut dinilai penting dalam sebuah organisasi yang diisi oleh berbagai latar belakang dan generasi. Seorang ketua tidak hanya dituntut mampu membuat program, tetapi juga harus mampu merawat komunikasi dan menjaga kekompakan.
Pemimpin harus bisa mendengar yang senior, berjalan bersama rekan selevel, sekaligus memberikan ruang kepada generasi yang lebih muda untuk tumbuh.
Dengan pengalaman di dunia olahraga, jaringan yang luas, karakter yang dinilai mampu bergaul dengan berbagai kalangan, serta semangat regenerasi yang dibawanya, Ongky kini dipandang memiliki modal untuk mengambil peran yang lebih besar di PASI.
Namun bagi Setiawan, semua modal tersebut baru akan berarti apabila dibuktikan melalui kerja nyata.
PASI tidak hanya membutuhkan figur yang mampu memimpin organisasi, tetapi pemimpin yang mampu menggerakkan organisasi menuju prestasi.
Dan di situlah, menurut Setiawan, tantangan terbesar sekaligus kesempatan bagi Ongky apabila nantinya diberikan kepercayaan untuk menakhodai PASI.
“Kesempatan harus dijawab dengan kerja. Kepercayaan harus dibalas dengan prestasi dan amanah,” pungkas Setiawan. (*)