PONTIANAK, SP - Persoalan narkoba bukan sekadar masalah hukum, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan, keluarga, masa depan generasi muda, hingga kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, penanganannya membutuhkan kepedulian dan keterlibatan banyak pihak.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Seminar JPIC Kapusin Pontianak yang digelar hari ini, Sabtu (12/9/2026), di Paroki Gembala Yang Baik Kuala Dua, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau.
Seminar yang melibatkan berbagai unsur umat dan masyarakat tersebut menghadirkan tiga narasumber dari Ordo Saudara Dina Kapusin atau OFMCap. Salah satunya adalah Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, yang dipercaya menyampaikan materi pada sesi ketiga.
Berbeda dari penyampaian materi yang hanya bertumpu pada teori, Bruder Stephanus Paiman akan membawa peserta melihat persoalan narkoba dari sisi yang lebih dekat dengan realitas kehidupan. Pengalamannya sebagai Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) menjadi bagian penting dalam materi yang akan disampaikannya.
Melalui pengalaman FRKP dalam mendampingi berbagai kasus kemanusiaan, termasuk persoalan yang berkaitan dengan narkoba, peserta akan diajak melihat bahwa di balik sebuah kasus terdapat manusia, keluarga, dan persoalan sosial yang tidak selalu sederhana.
Bukan Sekadar Bicara Narkoba, tetapi Membaca Persoalan dari Kasus Nyata
Bruder Stephanus Paiman dikenal terlibat dalam kerja-kerja kemanusiaan melalui FRKP. Dalam pendampingan berbagai kasus, relawan tidak hanya berhadapan dengan persoalan di permukaan, tetapi juga berusaha memahami kondisi orang yang didampingi serta lingkungan yang melatarbelakanginya.
Pengalaman tersebut akan menjadi bahan refleksi bagi peserta seminar.
Kasus-kasus nyata yang pernah didampingi FRKP diharapkan dapat membuka perspektif bahwa persoalan narkoba tidak cukup dilihat sebatas pada pelaku dan perbuatannya. Ada faktor keluarga, lingkungan pergaulan, kondisi sosial, tekanan kehidupan, hingga persoalan masa depan generasi muda yang perlu mendapatkan perhatian.
Melalui pengalaman pendampingan tersebut, peserta akan diajak melihat pentingnya kepedulian dan kehadiran masyarakat dalam menghadapi persoalan narkoba.
Pendekatan kemanusiaan menjadi penting karena seseorang yang terjerat narkoba tidak hanya membutuhkan penilaian, tetapi juga membutuhkan pendampingan, dukungan, dan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.
Pengalaman Lapangan Jadi Bahan Refleksi
Materi yang dibawakan Bruder Stephanus diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan bagi peserta. Pengalaman nyata yang dibagikan menjadi bahan refleksi bersama mengenai sejauh mana keluarga, komunitas, organisasi umat, dan masyarakat dapat mengambil peran dalam mencegah serta menghadapi persoalan narkoba.
Kehadiran unsur Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Legio Maria, Orang Muda Katolik (OMK), hingga pengurus adat dalam seminar menjadi penting karena persoalan sosial seperti narkoba tidak mengenal batas kelompok.
Kaum muda, misalnya, menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian serius. Lingkungan pergaulan dan perkembangan zaman menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, pendidikan, pendampingan, serta komunikasi yang sehat antara anak muda, keluarga dan komunitas menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Di sisi lain, keluarga juga memiliki peran strategis dalam mengenali perubahan perilaku dan kondisi anggota keluarga. Kepedulian sejak dini dapat menjadi langkah penting sebelum persoalan berkembang menjadi lebih berat.
JPIC Tidak Berhenti pada Seminar
Seminar JPIC Kapusin Pontianak sendiri mengusung semangat “Mari bersama membangun kepedulian dan kebaikan untuk sesama dan lingkungan.”
Semangat tersebut sejalan dengan pendekatan yang dibawa Bruder Stephanus melalui kerja kemanusiaan. Kepedulian terhadap sesama tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui keberanian untuk hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan.
Dalam konteks narkoba, kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk. Mulai dari edukasi, pencegahan, membangun lingkungan yang sehat bagi anak muda, hingga pendampingan terhadap mereka yang sudah terjerat persoalan.
Karena itu, seminar diharapkan menjadi ruang untuk membangun kesadaran bersama bahwa persoalan sosial membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Libatkan Tiga Narasumber Kapusin
Seminar JPIC Kapusin Pontianak berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 16.30 WIB.
Sebelum memasuki rangkaian materi, peserta melakukan registrasi dan persiapan pada pukul 07.00 hingga 08.00 WIB. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ice breaking dan pembukaan.
Materi pertama disampaikan oleh Pastor Dr. Hermanus Mayong Andreas Acin, OFMCap, pada pukul 08.30 hingga 10.15 WIB.
Selanjutnya, Pastor Pionius Hendi, OFMCap, menyampaikan materi kedua pada pukul 10.30 hingga 11.45 WIB.
Setelah istirahat dan makan siang, kegiatan kembali dilanjutkan dengan ice breaking pada pukul 13.15 WIB. Sesi ketiga yang dibawakan Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, dimulai pukul 13.30 hingga 15.00 WIB.
Usai materi ketiga, peserta mengikuti sesi tanya jawab. Sesi ini diharapkan menjadi ruang dialog terbuka untuk membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan materi seminar maupun realitas kehidupan umat dan masyarakat.
Kegiatan kemudian ditutup pada pukul 16.30 WIB dengan acara penutupan dan sayonara.
Membangun Kepedulian dari Lingkungan Terdekat
Kehadiran Bruder Stephanus sebagai pembicara dengan membawa pengalaman lapangan memberikan warna tersendiri dalam seminar tersebut.
Pengalaman FRKP dalam mendampingi kasus-kasus kemanusiaan diharapkan dapat membuat peserta melihat persoalan narkoba secara lebih utuh. Tidak hanya mengenai bahaya dan dampaknya, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat mengambil peran ketika berhadapan dengan persoalan tersebut.
Semangat yang ingin dibangun adalah kepedulian yang tidak berhenti pada rasa prihatin.
Masyarakat perlu memiliki keberanian untuk peduli, kemampuan untuk mengenali persoalan, serta kemauan untuk mendampingi mereka yang membutuhkan.
Apalagi ketika persoalan tersebut menyentuh generasi muda. Pencegahan tidak cukup dilakukan setelah masalah terjadi. Lingkungan keluarga, sekolah, komunitas keagamaan, organisasi kepemudaan dan masyarakat harus bersama-sama membangun ruang yang sehat bagi generasi muda.
Melalui seminar ini, peserta diharapkan pulang bukan hanya membawa pengetahuan baru, tetapi juga kesadaran bahwa persoalan narkoba merupakan tanggung jawab bersama.
Sebab, menghadapi narkoba tidak cukup hanya dengan mengatakan “jangan”. Dibutuhkan lingkungan yang peduli, keluarga yang hadir, komunitas yang mampu merangkul, dan masyarakat yang tidak menutup mata ketika persoalan muncul di sekitarnya.
Di situlah pengalaman pendampingan FRKP yang dibagikan Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, menjadi penting, bukan sekadar sebagai cerita tentang kasus, tetapi sebagai cermin dan bahan refleksi bersama untuk membangun kepedulian serta kebaikan bagi sesama dan lingkungan. (*)