By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com
“Di antara rahmat Allah kepada umat ini adalah bahwa Dia tidak menyempitkannya; bahkan Dia memberikan ruang bagi beragam pendapat dan beragam pemahaman.” (Y?suf al-Qara??w?, 1926–2022)
Pada Selasa, 08 September 2026, IAIN Pontianak melaksanakan pelantikan sejumlah pimpinan dan pejabat akademik di lingkungan institusi, sebuah momentum yang menjadi penanda penting bagi penguatan komitmen kepemimpinan dan arah pengembangan kampus menuju UIN Pontianak yang semakin unggul dan berdaya saing.
Dalam sambutannya, Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, MA., menyampaikan pesan yang begitu menggugah, "Kita boleh berbeda dalam cara berpikir, tetapi jangan berbeda dalam tujuan. Kita boleh berbeda dalam strategi, tetapi harus sama dalam komitmen. Dan kita boleh berbeda dalam pendapat, tetapi tetap satu dalam persaudaraan dan pengabdian."
Pesan ini sesungguhnya menggemakan sebuah kearifan yang telah lama dipahami dalam sejarah peradaban Islam bahwa perbedaan cara pandang bukanlah ancaman bagi persatuan, melainkan kekayaan yang dapat memperkuat capaian bersama, selama tujuan akhirnya tetap satu dan tak tergoyahkan.
Rasulullah saw sendiri memberikan teladan agung tentang bagaimana menghargai perbedaan cara berpikir tanpa kehilangan kesatuan tujuan.
Dalam Perang Khandaq, ketika beliau meminta pendapat para sahabat tentang strategi pertahanan Madinah, Salman Al-Farisi RA mengusulkan penggalian parit, sebuah taktik yang belum pernah dikenal bangsa Arab sebelumnya, sangat berbeda dari kebiasaan perang terbuka yang lazim mereka jalani.
Rasulullah saw tidak menolak gagasan yang tampak asing itu, justru menerimanya dengan lapang dada karena tujuannya sama: melindungi Madinah dan kaum muslimin. Sikap ini sejalan dengan sabda beliau,
"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitab Allah dan saling mengajarkannya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan." (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa musyawarah dan keterbukaan terhadap gagasan yang berbeda, selama diniatkan untuk kebaikan bersama, justru mendatangkan ketenangan dan keberkahan, bukan perpecahan.
Allah Swt berfirman, "Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 159).
Ayat ini bagaikan jembatan yang menghubungkan dua tepian penting dalam kepemimpinan, keterbukaan terhadap perbedaan pendapat melalui musyawarah, dan kebulatan tekad yang satu setelah keputusan diambil bersama, sebagaimana pesan Rektor bahwa strategi boleh berbeda, namun komitmen harus tetap sama.
Kisah para sahabat Nabi dalam mengumpulkan mushaf Al-Qur'an memberikan teladan indah tentang bagaimana perbedaan pendekatan dapat bermuara pada tujuan yang satu.
Ketika Zaid bin Tsabit ra. ditugaskan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an pada masa Khalifah Abu Bakar ra, ia melakukannya dengan metode yang sangat berhati-hati, meneliti setiap ayat dari berbagai sumber dan saksi.
Ketika ditanya mengapa ia begitu teliti hingga memakan waktu lama, ia menjawab, "Demi Allah, seandainya mereka membebankan kepadaku untuk memindahkan sebuah gunung, itu tidak akan lebih berat bagiku dibanding apa yang mereka bebankan kepadaku untuk mengumpulkan Al-Qur'an ini.
Namun aku melakukannya dengan caraku sendiri, karena aku tahu tujuannya adalah menjaga kemurnian Kitab Allah untuk umat sepanjang zaman."
Kehati-hatian dan metodenya yang berbeda dari sahabat lain tidak pernah menjadi soal, karena semua sepakat pada satu tujuan besar: menjaga wahyu Allah tetap murni bagi generasi mendatang.
Imam Asy-Syafi'I menegaskan mengenai kehati-hatian ini dalam kata hikmahnya, "Pendapatku benar, namun mengandung kemungkinan salah. Dan pendapat orang lain salah, namun mengandung kemungkinan benar."
Kata hikmah ini menjadi cermin kerendahan hati intelektual yang begitu relevan dengan pesan Rektor bahwa perbedaan strategi dan cara berpikir semestinya disikapi dengan lapang dada, sebab kebenaran mutlak hanya milik Allah, sementara ikhtiar manusia senantiasa terbuka pada ruang perbaikan bersama.
Di tengah dinamika perguruan tinggi modern yang menuntut kolaborasi lintas disiplin, generasi, dan cara pandang, pesan persatuan dalam perbedaan ini menjadi semakin relevan.
Rasulullah saw mengingatkan, "Orang mukmin yang satu dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu bagian dengan bagian yang lain." (HR. Bukhari dan Muslim).
Peringatan ini menjadi pengingat penting bagi para pejabat yang baru dilantik bahwa setiap bidang keahlian dan cara kerja yang berbeda di antara mereka sesungguhnya adalah bagian dari satu bangunan besar bernama IAIN Pontianak, yang hanya akan kokoh jika setiap bagiannya saling menguatkan, bukan saling meniadakan.
Perlu diwaspadai agar perbedaan cara berpikir dan strategi ini tidak berkembang menjadi fanatisme golongan (ta'ashub) yang justru memecah belah institusi, sebab persatuan yang dipesankan Rektor bukanlah keseragaman berpikir, melainkan kesatuan arah dan komitmen di tengah keberagaman pendekatan.
Sebagai solusi, Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10).
Jadilah seperti sungai-sungai yang mengalir dari berbagai arah dan sumber yang berbeda, namun akhirnya bermuara pada satu lautan yang sama, tanpa pernah mempertanyakan dari lembah mana masing-masing berasal.
Jadilah pula seperti orkestra yang memainkan alat musik berbeda-beda, dengan nada dan teknik yang tidak seragam, namun menghasilkan satu harmoni indah karena diarahkan oleh satu partitur dan satu tujuan yang sama.
Ingatlah bahwa kelak setiap perbedaan cara yang kita tempuh dalam mengemban amanah akan ditanya muaranya, apakah ia bermuara pada tujuan yang satu demi kebaikan bersama, ataukah justru menjadi jalan yang memecah belah persaudaraan yang seharusnya dijaga.
Ya Allah, satukanlah hati kami dalam tujuan dan komitmen pengabdian di tengah keberagaman cara berpikir dan strategi yang kami miliki, jauhkanlah kami dari perpecahan akibat perbedaan pendapat, dan jadikanlah setiap perbedaan di antara kami sebagai rahmat yang memperkaya, bukan fitnah yang memecah belah. Amin. (*)