Ponticity post author Kiwi 09 September 2026

Kemarau Mengeringkan Kampung, Anak Vespa Mengalirkan Air Bersih dan Harapan: Tiga Hari FRKP West Borneo Vespa Lovers Bergerak Membantu Warga yang Kesulitan di Tengah Kekeringan Ancaman Karhutla

Photo of Kemarau Mengeringkan Kampung, Anak Vespa Mengalirkan Air Bersih dan Harapan: Tiga Hari FRKP West Borneo Vespa Lovers Bergerak Membantu Warga yang Kesulitan di Tengah Kekeringan Ancaman Karhutla

PONTIANAK, SP - Musim kemarau mulai menunjukkan wajahnya di sejumlah kawasan Pontianak dan sekitarnya.

Parit yang biasanya menjadi sumber air warga perlahan mengering, kolam menyusut, bahkan air yang masih tersisa pun sudah berubah warna dan tidak lagi layak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah kondisi seperti itu, persoalan air bersih menjadi semakin berat bagi warga yang memiliki penghasilan terbatas. Untuk sekadar mendapatkan air minum, mereka harus mengeluarkan uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya.

Kondisi tersebut pula yang membuat kedatangan sejumlah anggota Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) West Borneo Vespa Lovers menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi warga.

Mereka datang bukan dengan kendaraan mewah atau membawa bantuan dalam jumlah besar. Para relawan membawa mobil pikap, tong air, galon dan jeriken, lalu bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya untuk menyalurkan air bersih secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.
Selama tiga hari berturut-turut, aksi kemanusiaan itu menyasar warga di Sungai Selamat Dalam, Jalan 28 Oktober, Pontianak; Usu’ Kamang, Jalan Purnama; serta Gang Ismail Arahman RT 04 dan RT 06, Tanjung Harapan.

Jumlah warga yang terbantu mencapai ratusan keluarga.

Bagi para relawan, bantuan tersebut mungkin sederhana. Namun bagi warga yang sedang berhadapan dengan kekeringan, beberapa galon air dapat menjadi penolong untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama beberapa hari.

Jangkau Ratusan Keluarga

Aksi pertama dilakukan di Sungai Selamat Dalam, Jalan 28 Oktober, Pontianak.

Sebanyak 64 kepala keluarga (KK) menerima bantuan air bersih layak konsumsi. Masing-masing keluarga mendapatkan dua galon atau dua jeriken air bersih.

Penyalurannya tidak dilakukan dengan cara biasa. Galon dan jeriken milik warga terlebih dahulu dijemput dari rumah mereka di Sungai Selamat Dalam.

Setelah terkumpul, seluruh wadah tersebut dibawa menuju Rumah Pelangi Gunung Benuah, Jalan Trans Kalimantan Km 70, Kabupaten Kubu Raya, untuk diisi air bersih.

Setelah penuh, kendaraan kembali membawa galon dan jeriken tersebut ke permukiman warga untuk dibagikan. Begitu seterusnya hingga seluruh bantuan tersalurkan.

Pekerjaan itu berlangsung hingga larut malam. Bahkan, tim FRKP West Borneo Vespa Lovers baru menyelesaikan kegiatan sekitar pukul 02.50 WIB.

Kelelahan tentu tidak dapat dihindari.

Namun, wajah warga yang menerima air bersih membuat para relawan tetap bertahan menyelesaikan pekerjaan.

Sopia, salah seorang warga Sungai Selamat Dalam, mengaku sangat terbantu dengan bantuan tersebut. Ia mengatakan, selama musim kemarau warga terpaksa menampung air hujan untuk memenuhi sebagian kebutuhan sehari-hari.

Masalahnya, hujan semakin jarang turun. Sementara sumber air di sekitar permukiman mulai mengering.

“Kami warga Sungai Selamat Dalam mengucapkan terima kasih kepada Bruder Steph yang telah memimpin timnya hingga kami mendapatkan air bersih. Bruder bisa lihat sendiri kondisi air parit dan kolam kami, kering,” kata Sopia.

Ia mengatakan, kalaupun masih ada air di parit, kondisinya sangat buruk.

“Kalau ada air sedikit di parit, warnanya hitam. Itupun masih kami gunakan untuk mencuci beras dan memasak,” ungkapnya.

Untuk kebutuhan minum, warga terpaksa membeli air kemasan dengan kondisi keuangan yang terbatas.

“Untuk minum, kami harus irit membeli air karena gaji hanya Rp40 ribu per hari. Yang kasihan anak-anak kalau mau minum, terpaksa harus irit membeli air karena keuangan sangat terbatas,” tuturnya.

Sopia kemudian menyampaikan terima kasih kepada para relawan yang telah datang membantu.

“Terima kasih banyak, Bruder, telah meringankan derita kami. Semoga Bruder dan kawan-kawan tim selalu sehat dan murah rezeki,” ujarnya.

Aksi Berlanjut ke Usu’ Kamang

Setelah membantu warga Sungai Selamat Dalam, rombongan FRKP West Borneo Vespa Lovers kembali bergerak pada hari kedua.

Sasarannya warga Usu’ Kamang di kawasan Jalan Purnama.

Titik pelayanan dipusatkan di kediaman Deni Batik, salah seorang anggota FRKP West Borneo Vespa Lovers, bersama istrinya, Sis Christa Kila.

Malam itu, suasana di lokasi terasa hangat. Para relawan masih terlihat sibuk mengatur air dan kendaraan, sementara alunan musik reggae terdengar mengiringi kegiatan.

John Repar, yang juga merupakan pendiri Club Vespa KAKURA Senakin, ikut turun langsung dalam kegiatan tersebut dengan membawa mobil pikap lengkap dengan tong air, galon dan berbagai perlengkapan.
Air dibawa menuju Rumah Pelangi untuk diisi, kemudian kembali diangkut ke lokasi warga.

Bagi para relawan, perjalanan pulang-pergi tersebut sudah menjadi bagian dari tugas yang harus diselesaikan.

Edo, salah seorang warga penerima bantuan, mengaku senang mendapatkan air bersih.

“Terima kasih, Bruder, atas air bersihnya. Sangat kami butuhkan sekarang ini,” katanya.

Pertemuan tersebut bahkan membawa Edo mengingat masa lalu. Ia mengaku pernah satu sekolah dengan Bruder Stephanus Paiman OFMCap ketika masih duduk di bangku SD Nusa Indah.

“Saya dua kelas di bawahnya,” ujarnya sambil merangkul Bruder Steph.

Ketua FRKP West Borneo Vespa Lovers, Fransiskus Renne, mengatakan dirinya bersyukur kegiatan sosial tersebut dapat berjalan selama dua hari berturut-turut.

“Kami bersyukur karena sejak kemarin hingga hari ini kegiatan baksos membantu warga mendapatkan air bersih dapat dilaksanakan dengan baik. Semoga besok, giat hari ketiga juga dapat kami laksanakan dengan baik sesuai rencana,” katanya.

Hari Ketiga, 86 KK Kembali Terbantu

Rencana tersebut akhirnya terlaksana. Pada hari ketiga, tim bergerak menuju kawasan Tanjung Harapan, tepatnya Gang Ismail Arahman RT 04 dan RT 06 serta warga di sekitarnya.

Sebanyak 86 KK mendapatkan bantuan air bersih gratis. Sumber air kembali berasal dari Telaga Santo Petrus, Rumah Pelangi, Jalan Trans Kalimantan Km 70, Kabupaten Kubu Raya.

Warga menyambut kedatangan para relawan dengan antusias. Maripek, salah seorang penerima bantuan, mengaku bersyukur meskipun hanya mendapatkan satu galon air.

“Luar biasa bapak-bapak ini punya kepedulian kepada warga yang benar-benar membutuhkan air bersih saat ini. Walaupun saya hanya dapat satu galon, alhamdulillah senang rasanya,” ungkapnya.

Ketua FRKP West Borneo Vespa Lovers, Frans Rene Winarno, mengatakan antusiasme warga, terutama para ibu, menunjukkan bahwa persoalan air bersih memang sangat dirasakan masyarakat.

“Kami memang tidak dapat memberikan kepada semua warga, tetapi ketulusan kami melakukan kegiatan ini yang perlu dicatat,” ujarnya.

Anak Vespa Juga Peduli

Bagi FRKP West Borneo Vespa Lovers, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda komunitas. Bruder Stephanus Paiman OFMCap, Ketua FRKP sekaligus salah seorang penasihat FRKP West Borneo Vespa Lovers, mengatakan kegiatan itu menjadi bukti bahwa komunitas Vespa tidak hanya berkutat pada kegiatan touring dan otomotif.

Ada kepedulian sosial yang mereka jalankan ketika masyarakat membutuhkan.

“Luar biasa semangat mereka untuk melayani warga. Ini juga menampik anggapan sebagian masyarakat bahwa anak-anak Vespa hanya touring dan mengukur jalan. Ternyata kepedulian sosial kepada masyarakat juga ada dan nyata dilakukan,” kata Bruder Stephanus.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut dilakukan secara mandiri melalui kepedulian anggota komunitas serta masyarakat yang ikut tergerak untuk berbagi.

“Kegiatan ini bukan menggunakan uang negara, luar negeri ataupun BUMN, tetapi murni dari mereka sendiri serta orang-orang yang tersentuh hatinya untuk berbagi melalui mereka,” tegasnya.

Menurutnya, kegiatan sosial seperti ini bukan sesuatu yang baru dilakukan FRKP.

Semangat membantu sesama sudah menjadi bagian dari perjalanan forum tersebut sejak awal berdiri.

Kemarau Bukan Hanya Soal Air

Persoalan yang dihadapi warga saat ini tidak berhenti pada sulitnya mendapatkan air bersih. Musim kemarau juga membawa persoalan lain yang tidak kalah serius, yakni meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

Saat tanah dan vegetasi mengering, api akan lebih mudah menyebar.

Jika kebakaran terjadi dalam skala besar, masyarakat kembali menghadapi persoalan lain berupa kabut asap. Asap karhutla dapat mengganggu kesehatan, aktivitas warga, kegiatan sekolah, hingga transportasi apabila kondisinya semakin parah.

Karena itu, kemarau seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan berkurangnya air, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana lingkungan.

Di sisi lain, masyarakat yang hidup di kawasan rawan kekeringan membutuhkan solusi yang dapat bertahan lebih lama daripada sekadar bantuan air ketika kemarau datang.

Bruder Stephanus berharap pemerintah dapat mulai menyiapkan sarana pengolahan air seperti Water Treatment Plant (WTP) yang dapat mengolah sumber air, termasuk air sungai, menjadi air bersih yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

“Pemerintah seharusnya menyiapkan alat Water Treatment Plant atau WTP yang mampu mengolah air sungai dalam berbagai kondisi menjadi air bersih. Dengan begitu, ketika masyarakat menghadapi kekeringan seperti sekarang, mereka tidak hanya bergantung pada bantuan air dari relawan,” tegasnya.

Menurut dia, aksi sosial yang dilakukan relawan hanya mampu menjawab kebutuhan dalam jangka pendek.

“Bantuan seperti yang kami lakukan ini sifatnya hanya sementara. Yang dibutuhkan masyarakat sebenarnya adalah solusi jangka panjang. Kalau ada WTP yang bisa mengolah air sungai menjadi air bersih, masyarakat akan jauh lebih terbantu,” katanya.

Lelah yang Terbayar

Tiga hari bukan waktu yang sebentar bagi para relawan. Mereka harus mengangkut air, menjemput galon dan jeriken warga, membawa kendaraan menuju sumber air, kemudian kembali mendistribusikannya ke permukiman.

Tidak jarang pekerjaan baru selesai ketika sebagian besar warga sudah terlelap.

Namun, bagi Bruder Stephanus dan anggota FRKP West Borneo Vespa Lovers, rasa lelah itu seperti terbayar ketika melihat warga menerima bantuan dengan wajah gembira.

“Teman-teman tim FRKP West Borneo Vespa Lovers baru selesai dalam kegiatan baksos ini sekitar pukul 02.50 WIB. Memang capek, tetapi rasa capek itu terbayarkan ketika melihat wajah ibu-ibu dan bapak-bapak tersenyum gembira menerima air bersih,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Ibu Yuni dan Pak Wijaya yang menjadi sponsor sekaligus meminjamkan kendaraan pikap untuk mendukung distribusi air.

Ucapan terima kasih juga diberikan kepada Ordo Kapusin melalui Fraternitas Rumah Pelangi yang dikomandani Pastor Warsito OFMCap karena telah mengizinkan para relawan mengambil air dari Telaga Santo Petrus.

Semua bantuan tersebut, kata Bruder Stephanus, menjadi bagian dari gerakan bersama untuk meringankan beban masyarakat.

Ia berharap semakin banyak orang yang memiliki kemampuan lebih dapat ikut berbagi kepada mereka yang sedang membutuhkan.

“Semoga kegiatan ini memotivasi orang-orang yang memiliki kelebihan untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan, karena berbagi juga merupakan ajaran agama kita masing-masing,” pungkasnya.

Tiga hari telah berlalu

Ratusan keluarga telah merasakan manfaat bantuan air bersih yang disalurkan para relawan. Namun musim kemarau belum tentu segera berakhir. Kekeringan masih menjadi ancaman dan risiko karhutla masih harus diwaspadai.

Di tengah situasi tersebut, aksi FRKP West Borneo Vespa Lovers menunjukkan bahwa kepedulian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang cukup dengan sebuah mobil pikap, beberapa tong, galon dan jeriken, kemudian ada orang-orang yang bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk mengantarkan air kepada mereka yang membutuhkan.

Bagi warga penerima bantuan, air itu mungkin hanya cukup untuk beberapa hari.

Tetapi perhatian yang mereka rasakan bisa bertahan jauh lebih lama.

Sebab ketika sumber air mengering dan kemarau membuat kehidupan semakin sulit, setidaknya mereka tahu masih ada orang-orang yang bersedia datang membawa air, membawa kepedulian, sekaligus membawa harapan. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda