By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kaimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com
"Kasih sayang bukanlah agama tersendiri, melainkan bahasa yang dipahami oleh setiap agama." (Dalai Lama XIV, Ocean of Wisdom, 1990)
Nama "Karuna" pada vihara yang saya kunjungi beberapa tahun silam di Surakarta , sebagaimana pernah saya tuliskan dalam catatan reflektif Sabtu, 5 September 2026 lalu, sesungguhnya bukan sekadar nama tempat, melainkan sebuah konsep mendalam dalam ajaran Buddha yang berarti "kasih sayang yang berbelas kasih", welas asih yang muncul dari kesadaran akan penderitaan sesama makhluk.
Benar saja, ketika saya duduk dalam pertemuan lintas tradisi Mahayana dan Theravada di ruang itu, saya merasakan sesuatu yang jarang saya temui di ruang-ruang dialog formal lainnya: sebuah kehangatan yang mengalir tanpa sekat, seolah nama vihara itu sendiri telah menjelma menjadi atmosfer nyata yang menyelimuti setiap orang yang hadir, tanpa memandang keyakinan yang dianutnya.
Dari pengalaman itulah saya diingatkan pada satu kebenaran yang sering terlupakan: jauh sebelum manusia menciptakan batas-batas agama yang kaku, kasih sayang telah lebih dulu menjadi bahasa universal yang diajarkan oleh setiap utusan Tuhan kepada umatnya : dari Sang Buddha, Nabi Musa as, Nabi Isa as, hingga Nabi Muhammad saw.
Rasulullah saw sendiri adalah teladan agung tentang bagaimana kasih sayang harus melampaui sekat keyakinan.
Ketika seorang Yahudi yang pernah menyiksanya dan bahkan meracuninya justru sakit parah, Rasulullah saw tidak membiarkan kebencian menguasai hatinya. Beliau justru menjenguknya, duduk di sampingnya dengan penuh perhatian, hingga orang itu tersentuh dan bertanya keheranan mengapa beliau begitu mengasihinya. Sikap ini sejalan dengan sabda beliau,
"Ar-Rahimun (orang-orang yang penyayang) akan disayangi oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Penyayang). Sayangilah siapa saja yang ada di muka bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh (Allah) yang ada di langit." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Hadis ini bagaikan jembatan yang menghubungkan dua tepi sungai yang tampak berbeda, kasih sayang dalam Islam tidak dibatasi kepada sesama muslim semata, melainkan kepada "siapa saja yang ada di muka bumi", sebuah cakupan yang begitu luas hingga menembus segala sekat agama, suku, dan keyakinan.
Allah Swt berfirman, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-Anbiya: 107).
Ayat ini bagaikan cahaya matahari yang tidak pernah memilih siapa yang berhak disinari, ia menerangi setiap penjuru bumi tanpa membedakan keyakinan yang dianut penghuninya, sebagaimana risalah Nabi Muhammad saw hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi kaum muslimin.
Kisah Umar bin Khattab ra. memberikan teladan yang begitu relevan dengan makna Karuna ini. Suatu ketika, ia melihat seorang lelaki tua Yahudi yang meminta-minta di pintu masjid karena kemiskinan dan usianya yang renta.
Umar segera membawanya ke Baitul Mal dan berkata kepada penjaganya, "Perhatikanlah orang seperti ini dan orang-orang yang semisalnya. Demi Allah, kita tidak berlaku adil kepadanya jika kita memakan hasil kerjanya di masa mudanya, namun menelantarkannya di hari tuanya."
Ia lalu memberikan santunan tetap dari Baitul Mal kepada lelaki tua itu, meski berbeda keyakinan dengannya. Kisah ini menunjukkan bahwa kasih sayang sejati dalam Islam tidak pernah menanyakan terlebih dahulu apa agama seseorang sebelum menolongnya, sebagaimana Karuna dalam ajaran Buddha juga tidak membatasi welas asihnya hanya kepada sesama umat Buddha.
Sebagai penguat, terdapat kata hikmah dari Jalaluddin Rumi yang menggemakan pesan yang sama, "Cinta tidak menemukan tempat berlabuh selain di dalam hati yang bersih dari sekat-sekat."
Kata hikmah ini menegaskan bahwa kasih sayang sejati justru lahir ketika hati mampu melihat sesama manusia sebagai ciptaan Allah yang layak dikasihi, bukan sekadar dilihat dari label agama yang melekat padanya.
Di era digital yang penuh polarisasi saat ini, di mana perbedaan keyakinan kerap dijadikan alasan untuk saling menjauh, bahkan saling membenci di ruang-ruang publik maya, semangat Karuna menjadi pengingat yang begitu penting.
Rasulullah saw mengingatkan, "Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan berlemah lembut satu sama lain adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Bukhari dan Muslim).
Meski hadis ini berbicara tentang ukhuwah sesama mukmin, esensinya dapat diperluas bahwa kepedulian terhadap penderitaan sesama manusia, siapa pun mereka, adalah cerminan iman yang hidup, bukan sekadar pengetahuan agama yang beku.
Perlu diwaspadai agar semangat kasih sayang lintas iman ini tidak disalahpahami sebagai pencampuradukan akidah (talbisul haq bil bathil), sebab mengasihi sesama manusia dan menjaga kemurnian akidah adalah dua hal yang dapat berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.
Sebagai solusi, Allah Swt berfirman, "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah: 8).
Jadilah seperti hujan yang turun membasahi setiap jengkal tanah tanpa bertanya siapa pemiliknya, memberi kehidupan bagi tanaman apa pun yang tumbuh di atasnya.
Jadilah pula seperti mentari yang menyinari setiap rumah ibadah dengan cahaya yang sama, tidak pernah memilih untuk menyinari satu bangunan dan meredup di hadapan bangunan lainnya.
Ingatlah bahwa kelak setiap kasih sayang yang kita tebarkan kepada sesama manusia, tanpa memandang sekat agama, akan menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah, sebagaimana Dia sendiri adalah Ar-Rahman yang rahmat-Nya meliputi seluruh makhluk tanpa terkecuali.
Ya Allah, lapangkanlah hati kami untuk mengasihi sesama manusia sebagaimana Engkau mengajarkan kasih sayang melalui Rasul-Mu, hilangkanlah sekat kebencian yang memisahkan kami dari saudara-saudara berbeda keyakinan, dan jadikanlah kami perpanjangan rahmat-Mu bagi semesta alam. Amin. (*)