Opini post author Kiwi 04 September 2026

Mengapa Api Selalu Pulang?

Photo of Mengapa Api Selalu Pulang?

Oleh: Syamsul Kurniawan / Dosen di IAIN Pontianak

ADA sesuatu yang ganjil pada kebakaran hutan dan lahan. Ia selalu datang sebagai kejutan, padahal ia tidak pernah benar-benar pergi. Setiap tahun, ketika musim kemarau mulai memanjang dan tanah kehilangan airnya, kita kembali menemukan langit yang berubah warna.

Biru menjadi kelabu. Matahari seperti benda asing yang menggantung di balik tirai. Udara yang semestinya tak terlihat mendadak mempunyai tubuh: ia masuk ke rumah, ke sekolah, ke kantor, ke paru-paru. Lalu kita menyebutnya bencana.

Kita menyalakan sirene. Petugas dikerahkan. Pesawat melakukan water bombing. Tim pemadam bekerja di antara asap dan tanah gambut yang menyimpan bara jauh di bawah permukaan. Pemerintah mengeluarkan pernyataan. Para pejabat meminta masyarakat waspada. Media menampilkan gambar hutan yang terbakar.

Kemudian hujan datang. Api padam. Dan kita merasa masalah selesai. Padahal mungkin di situlah kesalahan pertama kita: mengira bahwa “padam berarti selesai”. Sebab api dapat padam sementara, tetapi cara berpikir yang memungkinkan api itu kembali tetap menyala.

Bencana dan Logika Kita

Bencana mempunyai logikanya sendiri. Ia membuat kita percaya bahwa sesuatu terjadi karena ia memang harus terjadi. Kemarau, maka kebakaran. Tanah gambut, maka api. Musim panas, maka asap. Begitu seterusnya.

Kalimat-kalimat itu tampak masuk akal karena sebagian memang benar. Tetapi justru karena itulah ia berbahaya. Ia mengubah penjelasan menjadi pembenaran. Kita mulai menerima kebakaran sebagai semacam kalender: seperti Lebaran, seperti hujan, seperti pergantian musim.

September: asap. Oktober: pemadaman. November: hujan. Lalu kita lupa. Tahun berikutnya, semuanya dimulai lagi. Di sini bencana tidak lagi sekadar peristiwa ekologis. Ia telah menjadi ritual sosial.

Kita mengenali tahap-tahapnya. Kita tahu apa yang akan dibicarakan. Kita tahu siapa yang akan disalahkan. Kita tahu foto seperti apa yang akan muncul. Kita tahu bahwa setelah keadaan membaik, perhatian publik juga akan menghilang.

Bahkan kita mempunyai semacam bahasa yang sudah siap dipakai.

“Hotspot meningkat.”

“Angin membawa asap.”

“Curah hujan rendah.”

“Tim terus melakukan pemadaman.”
“Situasi terkendali.”

Bahasa itu terdengar rasional. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mengganggu: apa yang tidak dikatakan oleh bahasa tersebut?

Mungkin kita terlalu lama berbicara tentang api. Padahal persoalan sesungguhnya berada di tempat lain. Api hanya tampak di permukaan. Di bawahnya terdapat tanah, kepemilikan, tata ruang, ekonomi, kebijakan, kebiasaan, kepentingan, dan cara manusia memandang alam.

Api adalah gejala. Tetapi kita berkali-kali memperlakukannya sebagai sebab. Maka setiap tahun kita mengulangi tindakan yang sama: memadamkan gejala, kemudian menunggu gejala itu muncul kembali.

Inilah logika sesat bencana. Kita membangun sistem penanganan yang sangat sibuk pada saat bencana terjadi, tetapi tidak cukup gelisah terhadap keadaan yang membuat bencana menjadi mungkin. Kita mahir menjadi pemadam. Kita kurang terlatih menjadi pencegah.

Kita mempunyai teknologi untuk mendeteksi titik panas, tetapi sering kali gagal mendeteksi titik-titik kepentingan yang membuat sebuah lanskap begitu mudah terbakar. Kita menghitung hektare yang terbakar. Tetapi apakah kita menghitung berapa banyak keputusan yang telah membuat suatu kawasan menjadi rentan?

Kita menghitung jumlah hotspot. Tetapi apakah kita menghitung berapa banyak kebijakan yang saling bertabrakan?

Kita menghitung luas lahan yang terbakar. Tetapi apakah kita menghitung nilai ekonomi dari cara pengelolaan lahan yang membuat pembakaran terus menjadi pilihan?

Di sinilah sebuah bencana menjadi lebih dari sekadar fakta. Ia menjadi narasi. Dan narasi mempunyai kekuasaan. Kita sering menganggap bahwa kenyataan berbicara sendiri. Padahal kenyataan selalu hadir melalui bahasa yang kita gunakan untuk membacanya. Ketika kita mengatakan “bencana alam”, misalnya, kita telah membuat pilihan tertentu. Kata “alam” memberi kesan bahwa sesuatu berasal dari luar manusia. Seolah-olah manusia hanya korban yang kebetulan berada di tempat yang salah.

Tetapi bagaimana jika sebagian dari “alam” itu sebenarnya telah dibentuk oleh keputusan manusia? Bagaimana jika hutan yang terbakar bukan semata-mata hutan, melainkan sebuah ruang yang telah diperlakukan sebagai komoditas? Bagaimana jika tanah yang kering bukan hanya akibat kemarau, tetapi juga akibat sejarah panjang pengelolaan air, perubahan tutupan lahan, dan keputusan-keputusan ekonomi?

Pertanyaan seperti itu mengganggu karena ia memindahkan pusat persoalan. Dari “mengapa api muncul?” menjadi “mengapa kondisi yang memungkinkan api muncul terus dipelihara?”

Jean-François Lyotard pernah menunjukkan bagaimana narasi besar (grand narrative) bekerja: ia menyediakan kerangka besar yang membuat dunia tampak dapat dijelaskan secara utuh. Dalam kehidupan modern, kita menyukai narasi seperti itu karena ia memberi ketertiban. Karhutla pun memiliki narasi besarnya sendiri.

Kemarau menyebabkan kebakaran. Kebakaran menyebabkan asap. Petugas memadamkan. Hujan menyelesaikan. Narasi itu sederhana. Terlalu sederhana. Ia membuat dunia terasa tertib justru dengan menghilangkan kerumitannya. Karena itu, mungkin yang kita perlukan bukan hanya lebih banyak data, tetapi keberanian untuk membuka narasi kecil yang selama ini tenggelam di bawah narasi besar.

Cerita petani. Cerita masyarakat yang hidup di sekitar lahan gambut. Cerita pemadam yang bekerja ketika semua orang sudah pergi. Cerita anak-anak yang harus menghirup udara buruk. Cerita sekolah yang terpaksa menyesuaikan kegiatan belajar karena asap. Cerita warga yang kehilangan penghidupan. Cerita tentang tanah yang berubah dari ruang hidup menjadi ruang produksi. Narasi-narasi kecil itu tidak selalu cocok satu sama lain.

Justru di sanalah pentingnya. Sebab bencana menjadi lebih jujur ketika ia tidak dipaksa menjadi satu cerita.

Kita juga perlu mencurigai kalimat yang terlalu cepat selesai.

“Ini karena kemarau.”

“Ini ulah manusia.”

“Ini karena cuaca.”

“Ini karena pembukaan lahan.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin benar. Tetapi kebenaran sebagian tidak boleh membuat kita berhenti bertanya.

Belajar dari Bencana?

Derrida mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat percaya kepada teks yang mengaku telah memberikan makna final. Sebab di balik sebuah penjelasan selalu ada sesuatu yang disisakan, disembunyikan, atau tidak dibicarakan. Dalam konteks karhutla, yang perlu kita dekonstruksi bukan hanya laporan tentang kebakaran.

Kita perlu membongkar cara kita memahami kebakaran itu sendiri.

Apa yang disebut bencana?

Siapa yang disebut korban?

Siapa yang disebut penyebab?

Siapa yang mempunyai kewenangan untuk menentukan bahwa keadaan telah “terkendali”?

Dan yang paling penting: siapa yang mempunyai kepentingan ketika kita semua percaya bahwa persoalan ini hanyalah persoalan kebakaran?

Ada ironi yang lebih dalam. Kita sering menyebut masyarakat harus “belajar dari bencana”. Tetapi bencana yang sama datang kembali dengan wajah yang hampir sama. Jika sesuatu terus berulang, mungkin persoalannya bukan bahwa manusia tidak belajar.

Mungkin manusia belajar hal yang salah. Kita belajar bagaimana memadamkan api. Kita belajar bagaimana mengukur hotspot. Kita belajar bagaimana melakukan evakuasi. Kita belajar bagaimana membagikan masker.

Tetapi kita belum cukup belajar bagaimana mengubah keadaan yang membuat semua tindakan itu diperlukan. Seperti seseorang yang setiap tahun memperbaiki atap yang bocor tanpa pernah memeriksa mengapa rumahnya selalu kebanjiran. Ia menjadi sangat ahli dalam mengepel. Tetapi tidak pernah bertanya dari mana air datang.

Karena itu, pencegahan tidak boleh dipahami hanya sebagai tahap sebelum kebakaran. Pencegahan harus berarti mengubah hubungan kita dengan penyebabnya.

Hijrah Ke Mana?

Di sinilah kata “hijrah” menjadi menarik. Hijrah, dalam sejarah Islam, bukan sekadar perpindahan geografis. Ia merupakan gerak transformasi: meninggalkan keadaan lama menuju keadaan yang memungkinkan kehidupan, kebebasan, iman, dan peradaban tumbuh. Bahan yang saya gunakan juga menempatkan hijrah sebagai dinamika revolusioner dan sebagai upaya membangun kehidupan yang lebih memungkinkan iman dan cita-cita diwujudkan.

Mungkin karhutla membutuhkan semacam hijrah ekologis. Bukan hijrah dari Kalimantan. Bukan meninggalkan tanah yang terbakar. Melainkan hijrah dari cara berpikir yang menganggap hutan terutama sebagai sesuatu yang dapat diambil manfaatnya, dan alam terutama sebagai sesuatu yang harus tunduk kepada kebutuhan manusia.

Kita perlu berpindah dari logika eksploitasi menuju logika keberlanjutan. Dari pemadaman menuju pencegahan. Dari respons menuju perubahan struktur. Dari bencana sebagai kejadian menuju bencana sebagai akibat. Dan dari pertanyaan “siapa yang memadamkan?” menuju pertanyaan yang lebih sulit: “mengapa kita terus menciptakan keadaan yang membutuhkan pemadaman?”

Ada sesuatu yang menyedihkan dalam kabut asap. Ia membuat jarak menjadi kabur. Tetapi mungkin justru karena itu kita dapat melihat sesuatu yang selama ini terlalu dekat. Bahwa bencana ekologis tidak berdiri sendiri.
Ia berhubungan dengan cara kita mengatur tanah. Dengan cara kita memberi nilai kepada hutan. Dengan cara kita menentukan siapa yang boleh menggunakan ruang. Dengan cara kita memandang keuntungan. Dengan cara kita menyusun kebijakan. Dengan cara kita mengingat; atau melupakan. Kabut asap membuat kita semua sesak, tetapi ia juga memperlihatkan bahwa udara adalah milik bersama.

Tidak ada sertifikat kepemilikan untuk oksigen. Tidak ada pagar untuk asap. Api boleh bermula di satu bidang tanah, tetapi asap tidak mengenal batas administratif. Ia bergerak dari desa ke kota, dari kabupaten ke provinsi, dari satu pulau ke pulau lain. Karena itu, mungkin alam sedang mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana kepada birokrasi: apa yang dipisahkan oleh peta, dapat disatukan oleh asap.

Setiap tahun kita berharap hujan datang. Seolah-olah keselamatan akan turun dari langit. Dan ketika hujan tiba, kita merasa lega. Tetapi hujan bukan kebijakan. Hujan bukan reformasi tata kelola. Hujan bukan koreksi terhadap kesalahan manusia. Ia hanya membuat api berhenti untuk sementara. Jika setelah hujan kita kembali kepada cara lama, maka yang padam hanya apinya. Bukan masalahnya.

Sebab itu, mungkin yang paling berbahaya dari karhutla bukanlah api yang terlihat. Yang lebih berbahaya adalah bara yang tersimpan dalam cara kita berpikir. Bara yang mengatakan bahwa bencana adalah sesuatu yang datang dari luar. Bara yang mengatakan bahwa setelah api padam, persoalan selesai. Bara yang membuat kita menerima asap sebagai takdir musiman. Bara yang membuat setiap September terasa seperti pengulangan dari September sebelumnya. Dan selama bara itu tidak kita padamkan, api akan selalu mempunyai alasan untuk pulang.

Maka barangkali pertanyaan kita tahun ini bukan lagi: kapan hujan turun? Pertanyaan yang lebih penting ialah: kapan cara berpikir kita berubah? Sebab mungkin bencana tidak berulang karena kita lupa pada bencana. Bencana berulang karena kita terlalu cepat melupakannya setelah ia selesai. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda