Opini post author Kiwi 01 September 2026

PBAK IAIN Pontianak dan Peta Menuju Masa Depan

Photo of PBAK IAIN Pontianak dan Peta Menuju Masa Depan

By: Ahmad Jais / Dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Adab IAIN Pontianak, Kalimantan Barat, Founder & Master Trainer : Mind Healing Technique of Indonesia. www.mhtindonesia.com

"Pendidikan bukanlah mengisi bejana, melainkan menyalakan api, dan api itu harus dinyalakan sejak langkah pertama." (William Butler Yeats, Penyair dan Pemikir Pendidikan, 1923)

Senin pagi kemarin, 31 Agustus 2026, 1.047 mahasiswa baru IAIN Pontianak berkumpul dengan wajah penuh harap, mengenakan almamater yang masih terasa asing di pundak mereka.
Bagi sebagian, ini adalah gerbang pertama menuju dunia yang jauh berbeda dari bangku sekolah menengah, dunia yang menuntut kemandirian, keluasan wawasan, dan kesiapan mental yang lebih matang.
Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag, Rektor IAIN Pontianak, membuka kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 ini bukan sekadar dengan seremoni belaka, melainkan dengan pesan yang begitu dalam.

Dia menegaskan bahwa PBAK bukanlah sekadar orientasi kampus biasa, melainkan peta perjalanan yang akan menentukan arah masa depan setiap mahasiswa.

Fenomena semacam ini sesungguhnya senada dengan apa yang dialami umat terdahulu, ketika para nabi dan ulama senantiasa membekali generasi muda dengan modal dasar sebelum melepas mereka mengarungi kehidupan yang lebih luas.

Rasulullah saw sendiri sangat memperhatikan pembekalan bagi generasi muda sebelum mereka mengemban tanggung jawab besar.

Ketika mengutus sahabat muda Mu'adz bin Jabal RA ke Yaman sebagai pemimpin dan pengajar, beliau tidak hanya melepasnya begitu saja, melainkan membekalinya dengan nasihat, ilmu, dan doa.
Bahkan Rasulullah saw mengajarkan sebuah doa yang begitu ringkas namun penuh makna kepada Mu’az, dan doa ini juga disampaikan dan diajarkan oleh Rektor kepada mahasiswa baru dalam kegiatan pembekalan PBAK,

"Allahumma infa'na bima 'allamtana, wa 'allimna ma yanfa'una." (Ya Allah, berilah kemanfaatan terhadap ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan ajarkanlah kepada kami apa yang bisa memberikan kemanfaatan kepada kami.) (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

Doa ini menjadi peta arah yang begitu jelas bahwa tujuan akhir dari setiap ilmu dan modal yang dimiliki bukanlah sekadar untuk dimiliki, melainkan untuk memberi manfaat, baik bagi diri sendiri maupun sesama.

Allah Swt berfirman, "Katakanlah, 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9).

Ayat ini bagaikan kompas yang diletakkan di tangan setiap mahasiswa baru, menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar kumpulan informasi yang dihafal, melainkan cahaya yang menerangi jalan bagi mereka yang bersedia merenung dan mengambil pelajaran darinya.

Kisah sahabat muda Abdullah bin Abbas ra. memberikan teladan berharga tentang bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu memaknai masa awal perjalanannya.

Sejak usia belia, ia senantiasa duduk paling dekat dengan Rasulullah saw, mencatat setiap ilmu yang disampaikan, hingga suatu ketika Umar bin Khattab ra. bertanya kepadanya tentang rahasia kecerdasannya yang melebihi para sahabat senior. Ibnu Abbas menjawab dengan rendah hati, "Aku memiliki lisan yang bertanya, dan hati yang memahami."

Jawaban ini menegaskan bahwa modal utama seorang penuntut ilmu bukanlah usia atau senioritas, melainkan kesungguhan bertanya dan kesiapan hati untuk memahami, dua hal yang sama pentingnya dengan lima modal yang disampaikan Rektor: iman, ilmu, keterampilan, jejaring, dan mental.

Ada sebuah kata hikmah Imam Syafi'i yang masyhur dan ini menjadi penguat di kalangan penuntut ilmu, "Barangsiapa menginginkan dunia, maka hendaklah ia berilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka hendaklah ia berilmu. Dan barangsiapa menginginkan keduanya, maka hendaklah ia berilmu."
Kata hikmah ini menegaskan bahwa ilmu adalah modal yang menjembatani dua kepentingan sekaligus, dunia dan akhirat, karier dan kebermaknaan hidup, sebagaimana kelima modal yang disampaikan Rektor bukan hanya berorientasi pada kesuksesan duniawi semata, melainkan juga berlandaskan iman dan integritas.

Di era disrupsi digital saat ini, tantangan mahasiswa jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya, persaingan kerja yang ketat, tuntutan keterampilan yang terus berubah, hingga godaan gaya hidup instan yang kerap menggerus kesungguhan belajar.

Rasulullah saw mengingatkan, "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim).

Pesan ini relevan sekali dengan lima modal yang disampaikan Rektor bahwa perjalanan menuntut ilmu dan membangun keterampilan bukan sekadar untuk bersaing di dunia kerja, melainkan juga jalan menuju kebaikan yang lebih hakiki.

Perlu diwaspadai agar semangat menempuh lima modal ini tidak tergelincir pada ambisi yang melupakan integritas, mengejar jejaring dan daya jual tanpa dilandasi kejujuran, atau mengumpulkan keterampilan tanpa fondasi iman yang kokoh, sebab keduanya justru akan meruntuhkan bangunan yang sedang didirikan.

Sebagai solusi, Allah Swt berfirman, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi." (QS. Al-Qashash: 77).

Jadilah seperti anak sungai yang mengalir dari mata air pegunungan, membawa kejernihan sejak hulu hingga bermuara ke lautan luas kehidupan. Jadilah pula seperti benih yang ditanam dengan penuh kesabaran, memerlukan waktu untuk berakar sebelum akhirnya tumbuh menjadi pohon yang berbuah lebat dan bermanfaat bagi banyak orang.

Ingatlah bahwa kelak setiap ilmu yang dipelajari dan setiap langkah yang ditempuh di bangku kuliah ini akan dipertanggungjawabkan, apakah ia menjadi bekal yang bermanfaat, ataukah sekadar gelar yang kosong dari makna.

Ya Allah, berilah kemanfaatan terhadap ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami, ajarkanlah kepada kami apa yang bisa memberikan kemanfaatan kepada kami, kuatkanlah iman dan integritas kami, luaskanlah ilmu dan keterampilan kami, dan jadikanlah setiap langkah kami di bangku kuliah ini sebagai jalan menuju kebermanfaatan bagi diri, keluarga, dan umat. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda