Ponticity post author Kiwi 31 Agustus 2026

Saat Air Danau Galilea Menyusut karena Kemarau Panjang Landa Kalbar, Bruder Steph Tetap Menjaga Rumah Pelangi sebagai Kawasan Konservasi dari Bahaya Karhutla

Photo of Saat Air Danau Galilea Menyusut karena Kemarau Panjang Landa Kalbar, Bruder Steph Tetap Menjaga Rumah Pelangi sebagai Kawasan Konservasi dari Bahaya Karhutla

PONTIANAK, SP – Kemarau panjang kembali menguji ketahanan alam Kalimantan Barat. Di tengah udara yang mulai diselimuti asap, vegetasi yang mengering, dan debit air yang perlahan menyusut, ada kekhawatiran yang terus membayangi kawasan konservasi Rumah Pelangi di Dusun Binuah, Desa Teluk Bakung, Kabupaten Kubu Raya.

Di kawasan hutan alam seluas sekitar 100 hektare yang dikelola OFM Cap itu, musim kemarau bukan sekadar perubahan cuaca. Kemarau menjadi pengingat bahwa alam membutuhkan perhatian lebih besar ketika air mulai berkurang dan lahan menjadi semakin mudah terbakar.

Sabtu, 29 Agustus 2026, Bruder Stephanus Paiman OFM Cap kembali datang memantau kondisi kawasan tersebut.

Langkahnya menyusuri kawasan konservasi bukan hal baru. Bagi Bruder Steph, begitu ia akrab disapa, Rumah Pelangi bukan hanya kawasan hutan.

Tempat itu adalah bagian dari perjalanan panjang untuk menjaga alam sekaligus mengingatkan manusia bahwa hutan, air, dan kehidupan di dalamnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

“Harus dalam pemantauan ekstra, karena sebagian gambut dalam kawasan sudah mulai kering,” kata Bruder Steph, Minggu, 30 Agustus 2026.

Danau Galilea Mulai Surut

Dari pemantauan tersebut, beberapa sudut kawasan mulai terlihat kering. Kondisi itu terutama terlihat pada permukaan tanah dan vegetasi di sekitar kawasan gambut.

Danau Galilea, salah satu bagian penting dari ekosistem Rumah Pelangi, juga mengalami penyusutan debit air.

Airnya memang belum mengering. Namun, permukaan danau terlihat turun cukup signifikan dibandingkan kondisi normal. Kemarau panjang tahun 2026 membuat keberadaan air permukaan di kawasan tersebut harus terus dipantau.

Bagi kawasan konservasi yang memiliki ekosistem gambut, keberadaan air bukan sekadar persoalan ketersediaan sumber air. Air menjadi salah satu benteng alami untuk menjaga gambut tetap basah dan mengurangi risiko kebakaran.
Karena itu, ketika air mulai menyusut, kewaspadaan pun harus ditingkatkan.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Di sekitar kawasan Rumah Pelangi, sempat terjadi kebakaran pada area semak. Namun, api tidak sampai meluas karena segera ditangani dan dipadamkan dengan bantuan warga.

Peristiwa kecil tersebut justru menjadi pengingat betapa cepatnya api dapat menjadi ancaman ketika musim kemarau membuat vegetasi mengering.

Ketika Rumah Pelangi Dikabarkan Terbakar

Beberapa waktu sebelumnya, informasi mengenai kondisi Rumah Pelangi dan Danau Galilea sempat beredar. Ada kabar yang menyebutkan danau di kawasan tersebut mengering dan terjadi kebakaran di area Rumah Pelangi.

Bruder Steph bersama sejumlah anggota Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) kemudian turun langsung untuk memastikan informasi tersebut.

Bersama Mas Tomo, Viola, dan Chalista, ia mengecek kondisi kawasan. Hasilnya, informasi tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar.

Danau memang mengalami penurunan permukaan air, tetapi belum sampai mengering. Kondisi tersebut masih berkaitan dengan musim kemarau yang sedang berlangsung.

Begitu pula dengan kebakaran. Memang terdapat semak yang terbakar, tetapi lokasinya berada di pinggir Jalan Trans Kalimantan, di sekitar akses menuju kawasan Rumah Pelangi. Kobaran api relatif kecil dan berhasil dipadamkan dengan bantuan masyarakat.

Ada dugaan api dipicu puntung rokok yang dibuang sembarangan.

“Siang tadi saya bersama Mas Tomo, Viola, dan Chalista, anggota FRKP, mengecek informasi yang mengatakan bahwa air danau di Rumah Pelangi Gunung Benuah kering dan terjadi kebakaran di area Rumah Pelangi. Ternyata informasi tersebut tidak benar,” ungkap Bruder Stephanus Paiman OFMCap.

“Air danau hanya berkurang, tidak sampai kering, dan itu biasa terjadi ketika kemarau. Demikian juga soal kebakaran. Memang ada sedikit semak yang terbakar di pinggir Jalan Trans Kalimantan yang dekat menuju area Rumah Pelangi. Mungkin ada yang membuang puntung rokok hingga api menyala dan membakar sedikit area di sekitarnya. Beruntung warga segera membantu memadamkan api,” lanjutnya.

Namun, bagi Bruder Steph, peristiwa itu tidak seharusnya dianggap sepele. Satu puntung rokok, satu api kecil, atau satu aktivitas pembakaran yang tidak terkendali dapat menjadi awal dari persoalan yang jauh lebih besar.

Rumah Pelangi dan Perjalanan Menjaga Hutan
Rumah Pelangi memiliki sejarah panjang. Kawasan hutan alam seluas sekitar 100 hektare di Dusun Binuah, Desa Teluk Bakung, Kabupaten Kubu Raya, tersebut mulai dibenahi sejak 1998.

Dalam perjalanan panjang itu, nama Bruder Stephanus Paiman OFM Cap tidak dapat dipisahkan dari upaya memperkenalkan dan menjaga Rumah Pelangi.

Bersama Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap, Rumah Pelangi terus dikembangkan sebagai ruang konservasi dan pengingat pentingnya menjaga lingkungan.

Mgr Samuel Oton Sidin bahkan pernah menyampaikan bahwa peran Bruder Steph sangat besar dalam memperkenalkan Rumah Pelangi kepada masyarakat luas.

“Stephanus Paiman sangat berjasa, promosi Rumah Pelangi sehingga dikenal luas,” kata Mgr Samuel Oton Sidin dalam sebuah kesempatan di Pontianak, 22 Mei 2026.

Jejak perjuangan menjaga lingkungan tersebut juga berkaitan dengan perjalanan Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap sebagai salah satu tokoh lingkungan Kalimantan Barat.

Pada 5 Juni 2012, Samuel Oton Sidin menerima penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan.

Kalpataru merupakan penghargaan tertinggi Pemerintah Republik Indonesia di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Penghargaan tersebut diberikan kepada individu, kelompok masyarakat, maupun lembaga yang dinilai memiliki kepeloporan, inovasi, dan pengabdian dalam menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Bagi Rumah Pelangi, perjalanan tersebut bukan hanya catatan sejarah. Ia menjadi bagian dari pesan yang terus diwariskan: menjaga alam membutuhkan konsistensi, bukan pekerjaan sesaat.

Kemarau Bukan Hanya Soal Panas
Apa yang terlihat di Rumah Pelangi sebenarnya merupakan gambaran kecil dari persoalan yang lebih luas di Kalimantan Barat.

Kemarau panjang membuat sebagian lahan menjadi semakin kering. Di sejumlah wilayah, kebakaran hutan dan lahan kembali muncul. Asap mengganggu jarak pandang dan kualitas udara.

Debu dan abu sisa pembakaran juga ikut menjadi persoalan. Masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan harus menghadapi kondisi udara yang kurang baik. Keluhan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan saluran pernapasan, mulai menjadi kekhawatiran.

Namun, persoalan kemarau tidak berhenti pada udara. Air juga mulai menjadi persoalan. Debit sungai menyusut. Permukaan danau turun. Di beberapa wilayah, masyarakat mulai merasakan kesulitan mendapatkan air bersih.

Ketika sumber air permukaan semakin sedikit, kehidupan masyarakat yang bergantung pada sungai pun ikut terganggu.

Tidak hanya manusia yang terdampak. Ikan dan berbagai makhluk hidup yang bergantung pada ekosistem perairan juga menghadapi situasi sulit ketika habitat mereka menyusut.

Dari Kapuas Hulu hingga Ketapang
Kondisi serupa juga terlihat dalam perjalanan anggota FRKP lainnya, Aseng Efendi Jusup alias Aseng Bless, menuju Kapuas Hulu dan Ketapang.

Foto dan video yang dikirimkan memperlihatkan sejumlah ruas perjalanan dalam kondisi sangat kering. Di beberapa lokasi, jarak pandang terbatas akibat asap dan debu.

Sisa-sisa kebakaran juga terlihat di sejumlah titik sepanjang perjalanan. Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla dan kekeringan tidak berdiri sendiri. Ia saling berkaitan dengan kondisi lingkungan yang semakin rentan ketika musim kemarau berlangsung panjang.

Bruder Steph pun mengajak masyarakat untuk melihat persoalan tersebut sebagai tanggung jawab bersama.

“Saya hanya mengajak dan mengimbau kita semua, seluruh masyarakat, untuk tidak melakukan pembakaran di saat kemarau panjang seperti sekarang ini. Mari kita berpikir bahwa bumi Kalbar, sebagai rumah kita bersama, sedang sakit akibat ulah manusia itu sendiri,” ungkapnya.

Sungai Mengering, Warga Menggali Tanah
Kabar dari Kapuas Hulu bahkan memperlihatkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan. Sejumlah warga harus bergotong royong menggali dasar sungai yang semakin dangkal dan mengering untuk mendapatkan sedikit air.

Upaya tersebut dilakukan agar aktivitas masyarakat tetap berjalan dan perahu masih dapat melintas.

Bagi mereka yang sehari-hari bergantung pada sungai, air bukan sekadar kebutuhan. Sungai merupakan bagian dari kehidupan, jalur transportasi, sumber penghidupan, sekaligus ruang bagi ekosistem untuk bertahan.

Ketika sungai mengering, dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Melihat kondisi tersebut, pertanyaan tentang kehadiran pemerintah tentu muncul. Tetapi bagi Bruder Steph, pertanyaan itu tidak boleh berhenti sebagai keluhan.

Pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk hadir dan memberikan solusi. Namun, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk tidak memperparah keadaan.

Saatnya Berhenti Membakar
Dari Rumah Pelangi, pesan Bruder Steph menjadi sederhana. Jangan membakar sembarangan. Jangan membuang puntung rokok sembarangan. Jangan membuka lahan dengan cara membakar.

Dan ketika menemukan titik api, jangan menunggu api membesar sebelum bertindak. Sebab, kebakaran yang terlihat kecil hari ini dapat berubah menjadi bencana ketika bertemu lahan kering, angin, dan vegetasi yang mudah terbakar.

Bruder Steph juga mengingatkan bahwa dampak kerusakan lingkungan tidak hanya dirasakan manusia.

Hutan yang terbakar kehilangan fungsi ekologisnya. Sungai yang mengering mengancam kehidupan masyarakat dan satwa. Danau yang menyusut mempersempit habitat berbagai makhluk hidup. Udara yang tercemar asap memengaruhi kualitas hidup.

Jika kondisi tersebut terus berulang, masyarakat bukan hanya akan membayar mahal untuk mendapatkan udara bersih, tetapi juga harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan air bersih.

Pertanyaannya kemudian sederhana: bagaimana jika suatu hari air bersih benar-benar sulit didapatkan? Rumah Pelangi seakan memberikan jawaban melalui keberadaannya.

Menjaga alam tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari menjaga sebatang pohon, tidak membakar lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, menjaga sumber air, dan berani mengingatkan orang lain ketika melihat tindakan yang berpotensi merusak lingkungan.

Rumah Pelangi, Sebuah Pesan untuk Masa Depan
Musim kemarau 2026 membuat Bruder Steph kembali menyusuri kawasan Rumah Pelangi. Ia melihat tanah yang mulai mengering. Ia melihat permukaan Danau Galilea yang menyusut.

Ia melihat bagaimana api pernah menyentuh semak di sekitar kawasan. Tetapi ia juga melihat alasan mengapa kawasan itu harus terus dijaga. Rumah Pelangi bukan sekadar 100 hektare hutan alam.
Ia adalah pengingat bahwa alam yang masih tersisa harus dirawat sebelum terlambat.
Perjalanan panjang sejak 1998 menunjukkan bahwa konservasi membutuhkan waktu, ketekunan, dan orang-orang yang bersedia terus menjaga meski hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat.

Bruder Steph menjadi salah satu sosok yang konsisten membawa pesan tersebut. Dari Rumah Pelangi hingga aktivitas kemanusiaan bersama FRKP, kepeduliannya terhadap alam berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap manusia.

Sebab, menjaga alam pada akhirnya adalah menjaga manusia itu sendiri. Ketika hutan tetap hidup, air memiliki tempat untuk tersimpan. Ketika sungai tetap mengalir, masyarakat dapat terus menjalankan kehidupannya.

Ketika lahan tidak terbakar, udara tetap dapat dihirup dengan lebih baik.
Dan ketika alam terjaga, generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk menikmati apa yang hari ini masih kita miliki.

Kalimantan Barat adalah rumah bersama. Rumah yang tidak hanya dihuni manusia, tetapi juga pohon, sungai, danau, ikan, burung, satwa, serta seluruh kehidupan yang saling bergantung di dalamnya.

Karena itu, pesan Bruder Steph terasa semakin relevan di tengah kemarau panjang dan ancaman karhutla:

Mari berhenti membakar. Mari menjaga hutan. Mari menjaga sungai. Mari menghemat air. Mari saling mengingatkan.

Sebab udara bersih, air bersih, hutan, sungai, dan alam bukan sekadar milik kita hari ini.

Semuanya adalah warisan yang harus kita tinggalkan untuk anak cucu. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda