PONTIANK, SP - Asap semakin tebal, jarak pandang terus terbatas, udara semakin tidak sehat. Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Udara di Kalimantan Barat semakin tidak sehat. Terlebih di sejumlah daerah yang masih berjuang menghadapi kasus KAHURLA. Asap semakin menggila, sementara debu dan abu sisa kebakaran di beberapa wilayah menjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan.
Rumah sakit mulai didatangi pasien dengan berbagai keluhan pernapasan. Di sisi lain, masyarakat mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih.
Air yang tersedia di sejumlah tempat mulai terasa asin atau payau. Air galon semakin langka dan harganya pun mulai meningkat.
Tidak hanya itu. Kondisi sungai juga semakin memprihatinkan. Debit air mulai menyusut, bahkan beberapa sungai dan danau di bagian hulu dilaporkan mengalami kekeringan.
Habitat air pun ikut terdampak. Ikan dan berbagai makhluk hidup yang bergantung pada ekosistem perairan mulai mengalami kesulitan untuk bertahan hidup.
Meluruskan Informasi di Rumah Pelangi Gunung Benuah.
Siang tadi, saya bersama Mas Tomo, Viola, dan Chalista, anggota Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), mengecek informasi yang beredar mengenai kondisi Danau Rumah Pelangi Gunung Benuah yang dikabarkan mengering dan adanya kebakaran di sekitar area Rumah Pelangi.
Setelah kami cek langsung, ternyata informasi tersebut tidak sepenuhnya benar.
Air danau memang mengalami penurunan, tetapi tidak sampai mengering. Kondisi tersebut masih tergolong wajar mengingat saat ini sedang berlangsung musim kemarau.
Demikian pula mengenai kabar kebakaran. Memang terdapat area semak yang terbakar, tepatnya di pinggir Jalan Trans Kalimantan yang berada di sekitar akses menuju Rumah Pelangi. Namun, kebakaran tersebut relatif kecil dan berhasil dipadamkan dengan bantuan warga.
Ada dugaan api berasal dari puntung rokok yang dibuang sembarangan sehingga menyulut semak-semak di sekitar jalan.
“Siang tadi saya bersama Mas Tomo, Viola, dan Chalista, anggota FRKP, mengecek informasi yang mengatakan bahwa air danau di Rumah Pelangi Gunung Benuah kering dan terjadi kebakaran di area Rumah Pelangi. Ternyata informasi tersebut tidak benar.
Air danau hanya berkurang sedikit, tidak sampai kering, dan itu biasa terjadi ketika kemarau. Demikian juga soal kebakaran.
Memang ada sedikit semak yang terbakar di pinggir Jalan Trans Kalimantan yang dekat menuju area Rumah Pelangi. Mungkin ada yang membuang puntung rokok hingga api menyala dan membakar sedikit area di sekitarnya. Beruntung warga segera membantu memadamkan api,” ungkap Sang Tokoh Kemanusiaan, Bruder Stephanus Paiman OFMCap.
Kapuas Hulu dan Ketapang: Kekeringan Semakin Terasa
Sementara itu, anggota FRKP lainnya, Aseng Efendi Jusup alias Aseng Bless, melakukan perjalanan menuju Kapuas Hulu dan Ketapang.
Dari foto dan video yang dikirimkan, terlihat sejumlah ruas perjalanan dalam kondisi sangat kering. Jarak pandang terbatas akibat asap dan debu.
Di beberapa titik, sisa-sisa kebakaran terlihat di sepanjang jalan. Kondisi tersebut tentu bukan sesuatu yang boleh kita anggap biasa.
“Saya hanya mengajak dan mengimbau kita semua, seluruh masyarakat, untuk tidak melakukan pembakaran di saat kemarau panjang seperti sekarang ini. Mari kita berpikir bahwa bumi Kalbar, sebagai rumah kita bersama, sedang sakit akibat ulah manusia itu sendiri,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Dampaknya bukan hanya dirasakan manusia.
Tumbuhan, hewan, sungai, dan seluruh ekosistem juga menjadi korban. Jika kondisi ini tidak segera kita sadari dan kita cegah bersama, bukan tidak mungkin suatu hari nanti untuk mendapatkan udara bersih kita harus membayar mahal. Untuk mendapatkan air bersih, kita juga harus mengeluarkan biaya besar.
Itu pun jika air bersih masih tersedia. Kalau suatu hari air bersih benar-benar sulit didapatkan, lalu apa yang akan kita lakukan?
Sungai Mengering, Warga Harus Menggali Tanah untuk Mendapatkan Air
Tadi saya juga mendapat informasi dari kawan-kawan di Kapuas Hulu tentang bagaimana masyarakat harus berjuang menghadapi sungai yang semakin dangkal dan mengering.
Mereka bahkan harus bergotong royong menggali dasar tanah lebih dalam agar mendapatkan sedikit air sehingga perahu masih bisa melintas dan aktivitas masyarakat tetap berjalan.
Melihat foto dan video kondisi tersebut, sungguh membuat hati terasa sedih. Di tengah kondisi seperti ini, sempat terlintas sebuah pertanyaan sederhana namun sangat mendalam di benak saya:
“Di mana pemerintah berada?” Namun, pertanyaan itu tidak boleh berhenti hanya menjadi keluhan.
Pemerintah tentu memiliki tanggung jawab besar untuk hadir, tetapi masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting.
Mari kita mulai dari hal paling sederhana: Jangan membakar sembarangan. Jangan membuang puntung rokok sembarangan. Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Jangan menambah penderitaan bumi yang sedang sakit.
Karena ketika hutan terbakar, sungai mengering, udara tercemar, dan air bersih semakin sulit didapatkan, pada akhirnya kita semua yang akan merasakan akibatnya.
Kalimantan Barat adalah rumah kita bersama. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Mari berhenti membakar. Mari menjaga hutan. Mari menjaga sungai. Mari menghemat air. Mari saling mengingatkan.
Sebab udara bersih, air bersih, hutan, sungai, dan alam bukan sekadar milik kita hari ini. Semuanya adalah warisan yang harus kita tinggalkan untuk anak cucu kita. (*)