Ponticity post author Kiwi 29 Agustus 2026

PGRI Kalbar Pimpin Transformasi Digital Guru lewat Program Koding dan AI

Photo of PGRI Kalbar Pimpin Transformasi Digital Guru lewat Program Koding dan AI PGRI Kalbar meluncurkan Gerakan Nasional Satu Juta Guru Mahir Koding dan AI. Sebanyak 77 guru disiapkan menjadi mentor di lima kluster.

PONTIANAK, SP - Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) meluncurkan Gerakan Nasional Satu Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI), Jumat (28/8/2026).

Peluncuran program nasional tersebut dilanjutkan dengan Training of Trainers (ToT) bagi calon mentor yang berlangsung hingga Sabtu (29/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Nasional PGRI POWER dalam merespons pesatnya transformasi digital di dunia pendidikan.

Ketua PGRI Provinsi Kalbar Muhammad Firdaus mengatakan, perkembangan teknologi, khususnya kehadiran kecerdasan artifisial dan kebutuhan literasi komputasi melalui koding, telah menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, kemampuan tersebut tidak lagi sekadar menjadi pilihan bagi para pendidik, tetapi sudah menjadi kebutuhan agar guru Indonesia tetap relevan dan mampu bersaing di tingkat global.

“Dunia pendidikan saat ini sedang berada di tengah persimpangan jalan transformasi digital yang masif. Kehadiran Kecerdasan Artifisial (AI) dan kebutuhan akan literasi komputasi (Koding) bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan agar guru-guru Indonesia tetap relevan dan berdaya saing di kancah global,” ujar Firdaus.

Ia menegaskan, Kalbar harus mengambil bagian dalam gerakan tersebut dengan mendorong peningkatan kompetensi guru dalam menguasai teknologi.

“Oleh karena itu, Kalbar wajib mengambil peran dalam menjawab tantangan tersebut,” tegasnya.

Peluncuran program dihadiri sejumlah pemangku kepentingan pendidikan di Kalbar. Di antaranya Gubernur Kalbar, Kepala BPMP Provinsi Kalbar, Kepala BGTK Provinsi Kalbar, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalbar, Direktur Program Nasional PGRI POWER James F. Tomasouw, serta Program Manager Skills for Innovation–Intel Indonesia Cooperation Devi Amalia.

Hadir pula jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Dinas Dikporapar Kabupaten Mempawah, Kementerian Agama Kota Pontianak, Kubu Raya dan Mempawah, serta pengurus PGRI kabupaten/kota se-Kalimantan Barat.

Kehadiran berbagai unsur tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem pendidikan sekaligus mendorong pelaksanaan Gerakan Nasional Satu Juta Guru Mahir Koding dan AI di Kalimantan Barat.

Sebanyak 275 guru utusan kabupaten/kota se-Kalimantan Barat mengikuti kegiatan peluncuran. Dari jumlah tersebut, sebanyak 77 peserta mengikuti Training of Trainers untuk dipersiapkan menjadi calon mentor.

ToT menghadirkan narasumber dari Direktur PGRI POWER, perwakilan Intel Indonesia Cooperation, serta guru yang telah memperoleh sertifikat Intel Ambassador.

Para calon mentor nantinya akan bertugas mendampingi pelaksanaan program di kluster kabupaten/kota masing-masing. Setelah mengikuti ToT secara luring selama dua hari di BPMP Kalimantan Barat, pelatihan bagi calon mentor selanjutnya akan dilanjutkan secara daring.

Calon mentor yang dinyatakan lulus dan memenuhi kualifikasi diharapkan dapat menjalankan tugas pendampingan hingga program tersebut berakhir pada 2028.

Dalam pelaksanaannya, pelatihan guru di Kalbar akan dibagi menjadi lima kluster. Kluster pertama meliputi Kabupaten Kubu Raya, Kota Pontianak dan Kabupaten Mempawah.

Kluster kedua terdiri dari Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas. Kluster ketiga meliputi Kabupaten Landak, Sanggau dan Sekadau.

Selanjutnya, kluster keempat mencakup Kabupaten Melawi, Sintang dan Kapuas Hulu. Sedangkan kluster kelima terdiri dari Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Program Manager Skills for Innovation–Intel Indonesia Cooperation Devi Amalia berharap program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi mampu menghasilkan kemampuan yang benar-benar dimiliki guru dan sekolah.

“Apa yang dimulai hari ini tidak berhenti sebagai sebuah program, tetapi tumbuh menjadi capability yang dimiliki oleh guru dan sekolah,” ujar Devi.

Menurutnya, perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana melalui satu guru, satu kelas dan satu praktik baik. Praktik tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi bukti dampak yang bisa direplikasi dan diperluas.

“Dari satu guru, satu kelas, dan satu praktik baik, kita dapat membangun bukti dampak yang kemudian bisa direplikasi dan diperluas,” katanya.

Ia berharap pemanfaatan teknologi dapat memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran, bukan sekadar menjadi perangkat tambahan di lingkungan sekolah.

“Sehingga pada akhirnya, teknologi bukan hanya hadir di sekolah, tetapi benar-benar memperkuat kualitas pembelajaran dan kesiapan generasi kita menghadapi masa depan,” jelasnya.

Devi juga berharap program Intel Skills for Innovation dapat mendorong lahirnya inovator baru, baik dari kalangan pendidik maupun siswa.

“Seperti nama Program Intel Skills for Innovation, dari sini akan banyak lahir innovator-inovator baik untuk pendidik hingga siswa,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur PGRI POWER James F. Tomasouw mengatakan Gerakan Nasional Satu Juta Guru Mahir Koding dan AI diarahkan untuk membangun ekosistem pendidikan yang unggul.

Menurutnya, peningkatan kapasitas guru akan memberikan dampak berkelanjutan terhadap perkembangan peserta didik dan sekolah.

“Dampak dari Gerakan 1 Juta Guru Mahir Koding dan AI ini adalah menuju pendidikan unggul yakni guru, murid, dan sekolah unggul,” ungkap James.

Ia menjelaskan, melalui rangkaian program PGRI POWER, peningkatan kapasitas pengajar diharapkan dapat mengalir secara alami menjadi pengembangan bakat dan kemampuan murid.

Dengan demikian, program tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi individu guru, tetapi juga diarahkan untuk mendorong transformasi ekosistem sekolah secara menyeluruh.

“Melalui rangkaian PGRI POWER, peningkatan kapasitas pengajar akan secara alami mengalir menjadi pengembangan bakat murid. Hasil akhirnya adalah transformasi menyeluruh ekosistem sekolah Indonesia,” pungkasnya.

Gerakan Nasional Satu Juta Guru Mahir Koding dan AI di Kalbar diharapkan menjadi salah satu langkah konkret dalam menyiapkan tenaga pendidik menghadapi perubahan teknologi sekaligus memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi kebutuhan dunia pendidikan dan dunia kerja di masa depan.(din)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda